4 Hal Soal Keuangan Rumah Tangga yang Perlu Dibicarakan Sebelum Menikah

by Hardian 1.560 views0

sebelum menikah

Dalam rumah tangga, wajar jika muncul cekcok antara suami dan istri. Salah satunya terkait dengan masalah keuangan.

Duit memang merupakan faktor yang sensitif, bahkan ketika seseorang sudah berumah tangga. Makanya, jangan sampai main-main deh untuk urusan yang satu ini.

Cekcok kecil bisa saja berubah menjadi pertengkaran besar. Ujungnya: perceraian. Tentunya kita menikah bukan untuk bercerai dong ya.

Sebelum memutuskan mengarungi bahtera rumah tangga, lebih baik bicarakan soal keuangan rumah tangga dengan pasangan. Berikut ini poin yang bisa menjadi pertimbangan.

1. Perlu perjanjian pranikah tidak?

Pernah dengar soal perjanjian pranikah? Hmmm, kalau pasangan Raffi Ahmad-Nagita Slavina pernah dong? Nah, pasangan seleb itu ternyata membuat perjanjian pranikah sebelum disatukan penghulu.

sebelum menikah
Biar kayak Rafi dan Nagita bikin perjanjian pernikahan (perjanjian pernikahan/widih)

Perjanjian pranikah diatur dalam Pasal 29 UU No 1/1974 tentang perkawinan. Di dalamnya diatur segala hal yang berkaitan dengan komitmen rumah tangga, termasuk menyangkut finansial.

Lewat perjanjian pranikah, urusan keuangan bisa diatur dengan jelas. Dengan begitu, bisa mencegah konflik dalam rumah tangga.

Misalnya, memisahkan kewajiban utang suami dan istri. Jika ada utang suami sebelum menikah, itu harus diselesaikan oleh suami sendiri. Demikian pula sebaliknya.

Terkesan egoistis, memang. Tapi ini penting, terutama jika utang tersebut bernominal besar. Umpamanya Rudi punya utang Rp 100 juta sebelum menikah dengan Novi, tanpa diketahui Novi.

Ketika sudah berumah tangga, eh, Rudi dikejar-kejar debt collector. Kalau sudah begini, tentunya yang repot keduanya.

2. Siap buka-bukaan?

Jika kedua pasangan bekerja, pastinya soal gaji mesti dibuat transparan. Masing-masing pihak sebaiknya tahu nominal gaji pasangan.

Gunanya, mencegah penyelewengan dana keluarga untuk hal pribadi. Gaji dari suami-istri seharusnya dikelola bersama untuk kebutuhan keluarga.

sebelum menikah
Segalanya yang berhubungan dengan masalah keuangan harus terbuka dan transparan agar kesehatan finansial bisa dideteksi setiap waktu (saling terbuka/berita tki)

Pengelolaan ini mencakup pemisahan pengeluaran pribadi dengan keluarga. Karena itu, buka-bukaan soal keuangan penting agar pengelolaan berjalan lancar.

Selain gaji, hal yang perlu dikomunikasikan antara lain belanja pribadi, dan terutama utang. Kebutuhan kosmetik istri, misalnya. Kira-kira sebulan habis berapa?

Dari sisi suami, berapa pengeluaran untuk menyalurkan hobi di bidang otomotif, misalnya. Keduanya harus sama-sama terbuka agar gak ada prasangka buruk.

Khususnya soal utang, ini bisa menjadi masalah serius kalau gak dikomunikasikan. Namanya berkeluarga, utang seharusnya bermanfaat buat seluruh keluarga. Bukan cuma orang per orang.

3. Siapa yang jadi “menteri keuangan”?

Layaknya negara, rumah tangga membutuhkan pengatur finansial. “Menteri keuangan” ini bertugas mengelola keuangan dalam keluarga agar gak terjadi kebocoran yang ujungnya bisa membuat bangkrut.

Tentukan siapa yang jadi menteri keuangan sebelum menjalin rumah tangga. Memang, baik suami maupun istri sama-sama bertanggung jawab dalam hal keuangan.

Namun harus ada salah satu yang memegang otoritas agar pengelolaan lebih terfokus. Misalnya, istri yang mengatur keuangan. Bukan berarti suami harus nurut apa pun perintah istri.

sebelum menikah
Siapa yang jadi menteri keuangan pasti punya tugas yang gak mudah. Tapi jangan khawatir, tetap semangat dong biar masa depan keluargamu cerah (mengatur keuangan/mag)

Istri berkewajiban mengatur pengeluaran keluarga, termasuk pengeluaran suami, agar keuangan aman buat masa depan. Sebaliknya, suami bisa menegur istri ketika pengelolaan kurang matang. Kerja sama inilah yang diperlukan.

4. Komit untuk bikin bujet bareng

Terkait dengan urusan keuangan, bujet keluarga mesti disusun bersama meski sudah ada “menteri keuangan”. Tentukan rencana keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Jangka pendek, misalnya merencanakan pengeluaran untuk belanja bulanan. Kalau jangka menengah, rencana beli kendaraan buat transportasi sehari-hari.

Adapun jangka panjangnya, antara lain persiapan pendidikan anak hingga beli rumah. Semua hal tersebut mesti matang direncanakan bersama-sama agar bisa saling dukung untuk mewujudkannya.

Keuangan rumah tangga sebenarnya hal yang sepele. Coba bandingkan dengan keuangan negara. Jika kita menuntut pemerintah bisa mengelola keuangan negara dengan baik, kita pun mesti begitu dalam keluarga.

Lucu kan kalau kita sibuk nyinyir di sana-sini soal pemerintah banyak utang, gak bisa ngatur anggaran, dan lain-lain, sementara kitanya “11-12” alias sama saja. Mari buktikan bahwa kita mampu mengelola keuangan rumah tangga, karena pengelolaan itu penting buat masa depan bersama.

 

 

Yang terkait artikel ini

[Baca: 6 Tanda Calon Suamimu Bakal Bikin Ribet Keuangan Rumah Tangga]

[Baca: 5 Strategi Mengatur Keuangan Rumah Tangga yang Dijamin Ngejauhin Kamu Dari Kata Bangkrut]

[Baca: Jangan Remehkan Tips Ibu-ibu Zaman Dulu dalam Mengatur Keuangan Keluarga]

[Baca: Simak Deh Rahasia Cara Mengatur Keuangan Keluarga bagi yang Susah Disiplin]

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com