Ini 5 Hal yang Sebenarnya Bikin Keuangan Kacau tapi Gak Kita Akui

by Hardian 1.422 views0

Bikin keuangan kacau

Susah memang untuk mengakui kesalahan. Tapi semestinya kita mau mengaku, apalagi jika kesalahan itu bikin keuangan kita kacau.

Dengan memberikan pengakuan, berarti kita selangkah lebih maju untuk membuat perubahan. Siapa yang gak mau kondisi keuangannya berubah ke arah lebih baik?

Berikut ini dijabarkan hal-hal yang sebenarnya bikin keuangan kacau, tapi gak kita akui:

1. Maksa masuk golongan tertentu

Semua manusia memang diciptakan setara. Tapi gak bisa dimungkiri, ada level-level golongan yang memisahkan masyarakat.

Masalahnya, gak sembarang orang bisa masuk ke golongan itu. Meski begitu, gak jarang ada orang yang memaksa masuk ke suatu golongan yang sebenarnya gak cocok buatnya, termasuk kita-kita ini.

Bikin keuangan kita kacau
BPJS = Bujet Pas-Pasan Jiwa Sosialita (sosialita/the great gatsby party)

Dalam hal ini, tentunya kita bicara soal golongan berdasarkan strata ekonomi. Misalnya melihat kawan-kawan hobi “buang uang” tiap malam di klub atau kafe, terus kepincut pengin ikut. Padahal kondisi ekonomi pas-pasan. Alhasil demi bisa masuk golongan itu, rela utang sana-sini agar terlihat layak dan mentereng.

Awalnya mungkin bisa diterima dan hura-hura. Tapi seiring berjalannya waktu, tambah besarlah utang yang ditanggung. Ujungnya? Bangkrut!

2. Menganggap utang wajar

Betul, hampir semua pengusaha sukses pernah berutang untuk menggenjot bisnisnya. Tapi itu bukan alasan untuk menganggap utang sebagai hal wajar.

Utang bisa diambil hanya ketika kita benar-benar butuh. Selain itu, kudu ada rencana matang untuk melunasinya tepat waktu, misalnya dengan menghitung pemasukan dan pengeluaran rutin.

Keliru bila utang dijadikan sumber utama penggerak ekonomi kita. Hal ini malah menjadikan kita bergantung sepenuhnya pada utang.

Utang yang kebablasan dan tak bijak ini justru kelak merepotkan diri sendiri. Bagaimana bisa hidup tenang jika ada utang menggenang?

3. “Mau gimana lagi”

Ketika keluar dari mulut, kalimat di atas menunjukkan orang sudah menyerah ketika menghadapi masalah. Sialnya, kalimat itu bisa jadi bumerang yang mengenai diri sendiri kalau urusannya duit.

bikin keuangan kita kacau
Mau gimana lagi, terpaksa ngutang nih. (duit/help100day)

Saat kondisi finansial lagi sulit, misalnya, langsung memutuskan berutang. “Mau gimana lagi, gak ada duit.” Sekali lagi, utang adalah pilihan terakhir.

Apa sudah dicoba cara lain yang lebih aman? Contohnya cari penghasilan tambahan dari kerja sampingan. Menjual barang pribadi pun bisa jadi pilihan.

Intinya, jangan mudah menyerah menghadapi kenyataan, apalagi yang berkaitan dengan finansial. Hal-hal seperti itu berpotensi bikin keuangan kacau.

4. Boros

Semua orang rentan terhadap aktivitas pemborosan. Tanpa sadar, kita bisa jadi impulsif pengin beli ini-itu padahal gak butuh.

Misalnya teman-teman punya ponsel terbaru. Karena gak mau dinilai ketinggalan zaman, masuklah ponsel keluaran anyar ke keranjang belanja di situs jual-beli online. Padahal ponsel di tangan baru dibeli tahun lalu dan masih gesit.

Atau bisa juga kamu lapar mata ketika jalan-jalan di mal. Melihat tulisan “sale” atau “diskon” di mana-mana, langsung beli barang yang dikorting itu tanpa mencari perbandingan.

Sebaiknya rencana pengeluaran dicatat dan dipatuhi. Dengan demikian, bisa menghindari rangsangan impulsif untuk mengeluarkan uang lebih dari yang telah direncanakan. Lebih baik boros muka ketimbang boros duit.

5. Gengsi dong

Namanya manusia, keinginan eksis di masyarakat pasti ada entah bagaimana caranya. Yang jadi problem adalah berusaha eksis atas nama gengsi. Contohnya, gemar membeli barang bermerek meski harus lewat kredit atau utang.

bikin keuangan kita kacau
Kebanyakan gengsi pun bisa bikin kamu gak ada duit (film gengsi dong/Tokopedia)

Di permukaan, memang kita terlihat keren dan makmur. Tapi secara gak sadar kita telah menggali kubur. Penampilan itu tak lebih dari sekadar stempel yang kelak bisa luntur. Eh, malah jadi pantun ya.

Di luar sana, justru banyak pengusaha kaya raya yang tampil sederhana lho. Fondasi keuangan mereka justru kuat mengakar meski terlihat apa adanya.

Seperti disebutkan sebelumnya, pengakuan atas kesalahan diri sendiri amat penting demi perbaikan. Tahap pertamanya adalah melakukan refleksi terhadap gaya hidup kita.

Jika memang berniat menjaga keuangan, seharusnya kita mau mundur sedikit untuk melompat lebih jauh ke depan. Gunakan kesempatan refleksi itu sebagai batu pijakan agar keuangan gak tambah kacau gara-gara kesalahan yang kita lakukan tapi gak kita akui.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Butuh Uang? Jangan Buru-Buru ke Bank. Coba Jual 8 Barang Ini]

[Baca: 2017 Masih Aja Boros? Coba Atur Keuangan Kamu dengan 4 Cara Ini]

[Baca: Cara Hidup Minimalis Bukan Soal Gak Mampu, Tapi Buat Hidup yang Lebih Baik]

[Baca: Sebelum Berutang, Cari Tahu Dulu Bedanya Utang Produktif dan Utang Konsumtif]

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com