5 Resep Anak Sulung Jokowi Sukses Berbisnis Catering dari Pinjaman Bank

by DuitPintar 3.324 views2

usaha catering

Kalau rajin baca berita, pastinya tahu siapa itu Gibran Rakabuming Raka. Ya, anak sulung Presiden Joko Widodo atau yang biasa akrab disebut Jokowi. Banyak orang penasaran sama pemuda satu ini. Bukan karena statusnya anak presiden dan suka jarang tampil di depan publik, tapi aktivitasnya sebagai bos Chilli Pari Catering Services.

 

Pemuda jebolan Management Development Institute of Singapore dan University of Technology Insearch, Sydney, ini memang serius menggeluti bisnis catering sejak tahun 2010. Tentangan sang ayah tak dihiraukan. Dia sama sekali tak minat meneruskan usaha sang ayah di bidang perkayuan.

 

Toh, kekerasan hatinya itu membuahkan hasil. Dalam tempo sekian tahun, geliat usahanya sudah terlihat. Bisa disebut, bisnis katering kakak Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep ini melesat dalam waktu singkat.  Kok bisa ya?

 

Ada baiknya jangan buru-buru menuduh statusnya sebagai anak pejabat tinggi sebagai jalan mulusnya bisnis catering Chilli Pari. Atau malah nyinyir menganggap wajar Gibran jadi pengusaha karena di dalam darahnya mengalir darah pengusaha. Wah, kalau bahas beginian tak bakalan ada habis-habisnya.

 

Mending menelaah apa yang bisa dipelajari dari kesuksesan Gibran merintis usaha di industri katering. Setidaknya dapat jadi bahan pembelajaran bagi yang berminat merintis usaha sendiri.

 

Mumpung Darah Muda

Ingat lirik lagu ‘Darah Muda’ ciptaan Rhoma Irama? Penggalan liriknya berbunyi,…darah muda darahnya para remaja…yang selalu merasa gagah…tak pernah mau mengalah. Kira-kira lagunya Bang Haji ini bisa menggambarkan kekerashatian Gibran.

 

‘Saya mau A, harus A, dan tetap A.” Kira-kira itu ilustrasinya saat Gibran menolak permintaan Jokowi agar meneruskan usaha mebel. Bayangkan, usaha mebel Jokowi sudah mapan. Sistem sudah jalan, pelanggan berjejer, karyawan sudah ada, dan lain sebagainya. Anehnya, Gibran justru enggan berkecimpung di usaha itu.

 

Justru dia tertarik dengan bisnis katering. Meski pendidikan yang ditempuh jauh dari urusan katering, tapi dia tak peduli.  Pemuda kelahiran 1 Oktober 1987 ini bukannya asal pilih tapi sudah mengukur peluang dan potensi bisnis katering di Kota Solo.

 

Darah mudanya Gibran langsung bergejolak saat Jokowi menolak ide itu. Dia bersikeras melanjutkan misinya mendirikan bisnis katering dengan atau tanpa persetujuan ayah. Soal modal, bank jadi pilihan ketimbang menguras isi kantong Jokowi. Padahal saat menjabat Wali Kota Solo, harta kekayaan Jokowi hampir mendekati Rp 10 miliar.

 

Lantaran masih darah muda, Gibran cuek saja mendapat penolakan berkali-kali dari bank. Apalagi saat merintis usaha itu, dia masih berusia 22 tahun. Sebaliknya, penolakan bank itu menjadi pelajaran berharga sehingga tahu alasan bank menolak permohonan pinjamannya.

 

Terbukti, dia akhirnya berhasil mendapat pinjaman dari bank sebesar Rp 1 miliar.  Biar maksimal modalnya, dia lantas memanfaatkan gudang mebel milik ayahnya untuk dijadikan kantor dan dapur sehingga tak perlu lagi mencari tempat baru. Selain itu, dia merenovasi sedikit agar gudang itu ‘layak’ jadi kantor.

 

Pentingnya riset dan pelajari kultur

Modal sudah di tangan, berikutnya apa? Riset kultur masyarakat di kota Solo. Gibran paham betul mendirikan bisnis tak boleh pakai asumsi tapi butuh data. Sebelum mulai mendesain produk dan layanan, dia terlebih dulu melakukan riset seputar layanan katering di Solo.

 

Risetnya jelas Solo lantaran area bisnisnya di kota yang punya dua keratin ini. Nah di Solo, resepsi pernikahannya model “piring terbang”. Bukan, piringnya yang dilempar-lempar ke tamu ya, tapi ada pelayan yang membawa berbagai jenis makanan, biasanya tiga jenis, ke tamu-tamu. So, tamunya cukup duduk manis dan diem, lalu makanan datang sendiri.

 

Dari sini akhirnya Gibran menemukan kelemahan layanan katering kompetitor  yang buruk dalam kecepatan penyajian. Telat sajikan makanan bisa berabe karena tamu bisa pulang dengan perut kosong. Maka itu, Gibran pun menciptakan manajemen penyajian makanan dengan jumlah yang tepat sekaligus cepat.

 

Bisnis boleh sama tapi sertakan nilai jual yang unik

Pujangga Shakespeare pernah bilang,’Apalah artinya sebuah nama.” Gibran tak setuju dengan kutipan itu. Boleh saja bidang usahanya sama tapi cita rasa bisnis harus beda. Alasan ini berlaku dalam pemilihan nama,Chilli Pari. Nama itu perpaduan dari kata bahasa Inggris (Chilli) dan Pari (bahasa Jawa).

 

Lewat penamaan itu, Gibran ingin mengkampanyekan strategi bisnisnya yang mengusung mengusung filosofi traditional taste, modern touch. Pendek kata, makanan yang disajikannya tetap mempertahankan lidah orang lokal tapi ditambah dengan sentuhan moderen.

 

Di samping itu, Gibran ingin membangun brand di mana bisnisnya adalah one stop shopping dalam urusan katering. Makanya, dia menawarkan paket pernikahan komplet dari katering, gedung, dekorasi, rias pengantin, undangan, souvenir, entertainment, dan lain sebagainya.

 

Terapkan strategi blusukan ala bapak

Gibran bukan tipikal bos yang tinggal terima beres. Dia malah lebih rajin turun tangan dan terjun ke lapangan. Praktis semua kegiatan dari hulu sampai hilir, dia paham. Mulai dari belanja bahan baku masakan sampai ke perekrutran tenaga kerja.

 

Dia jadi tahu pegerakan harga-harga sayur mayur, sembako, maupun bahan baku makanan lain. Dari situ, dia bakal mudah membuat estimasi budget maupun mengkombinasikan berbagai makanan agar bisnisnya tetap untung. Tak jarang, dia sendiri langsung menemui dan berbicara dengan calon konsumen. Di awal-awal berdirinya Chilli Pari, Gibran sendiri lah yang menyebarkan brosur tentang usahanya.

 

Berdayakan lingkungan sekitar

Orang sukses adalah orang yang bermanfaat bagi yang lain. Pernyataan ini diterapkan Gibran dengan memberdayakan warga sekitar dalam setiap event pernikahan. Misalnya kelompok ibu-ibu yang diberi tugas menyiapkan bahan baku, memasak, sampai mencuci. Sedangkan yang muda-muda direkrut sebagai tenaga pelayan untuk menyajikan makanan.

 

Dengan cara ini, ada dua manfaat yang diperoleh. Pertama adalah kepastian mendapatkan tenaga kerja saat ada order. Kedua, keberadaan Chilli Pari dirasa manfaatnya oleh warga sekitar.

 

Gibran menunjukkan bukti jadi wirausahawan itu bukan perkara membalikkan telapak tangan. Kesabaran dan komitmen banyak diuji di awal-awal mendirikan usaha. Sebenarnya Gibran bisa saja ambil jalan gampang dengan meneruskan usaha ayahnya. Toh, dia tak memilih itu.

 

Penolakan ayah dia sikapi dengan menunjukkan bukti. Di lain pihak, dia tak menyerah pula menerima penolakan dari bank sampai tujuh kali saat mengajukan  proposal peminjaman permodalan. Justru penolakan itu jadi momen untuk belajar kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya kenapa bank tak bersedia mencairkan pinjaman.

 

Tambahan lagi, Gibran tak antipati terhadap utang ke perbankan. Sepanjang utang itu dikelola untuk hal yang produktif, dalam hal ini usaha, Gibran pun bisa menuai hasilnya.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com