8 Ide Bisnis Rumahan yang Gak Bakal Ikutan Lesu Kayak Rupiah

by Hardian 8.371 views3

8 Ide Bisnis Rumahan yang Gak Bakal Ikutan Lesu Kayak Rupiah

Ibarat wahana di Dufan, rupiah udah gak kayak roller coaster Halilintar lagi belakangan ini. Tapi udah seperti perosotan air Niagara-gara. Soalnya, rupiah terus melorot ke bawah, bahkan sempat tembus Rp 14 ribu per dolar!

Gak mengherankan, di sana-sini muncul keluhan bisnis lesu lantaran rupiah jeblok. Tapi di tengah gerundelan itu, ada beberapa pebisnis yang tersenyum lebar.

Sebab pebisnis jeli ini bisa melihat peluang di balik lesunya rupiah. Mereka mengambil ide bisnis rumahan yang gak terpengaruh anjloknya mata uang dalam negeri.

Berikut ini 8 ide bisnis rumahan yang gak bakal ikutan lesu kayak rupiah yang bisa kita rebut:


1. Bikin boneka

Modal: Rp 5-8 juta

Duit modal itu dipakai untuk membeli peralatan dan bahan, seperti kapas, gunting, kain, dan benang. Lebih bagus kalau bisa nambah dikit untuk membayar dua-tiga pegawai, sehingga produksi lebih banyak.

Jualan bonekanya jangan yang serem kayak Chucky atau Annabelle tapi, ya.

 

Agar memastikan keuntungan, pasarkan lewat Internet dengan target pembeli di mancanegara. Biar bisa bersaing, pastikan punya kemampuan bikin boneka dengan kualitas baik, gak gampang mbrodol alias terburai.

Contoh, boneka wayang Rama & Shinta dijual seharga USD 70 di eBay yang target pasarnya internasional itu. Padahal biaya satu boneka paling cuma Rp 100 ribu. Itu emang belum termasuk biaya shipping sih, tapi bisa ditekan kalau pengirimannya kulakan kok!

[Baca: Tips Belanja di e-Bay]

Kalau sudah begitu, kebayang kan keuntungannya?

 

2. Hijab

Modal: Rp 5-10 juta

Gak perlu produksi sendiri kalau mau bisnis hijab. Kita bisa ambil dari pemasok, kayak di Pasar Tanah Abang, lalu dijual lagi. Tapi harus pandai tawar-menawar biar bisa kulakan dengan harga miring lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi.

Hijab Indonesia disukai di Malaysia, lho. Pasar Brunei juga bagus buat eksportir Indonesia.

 

Pasar di dalam negeri masih bagus karena Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Kalau mau menggasak peluang lain, pasarkan juga di negeri yang warganya banyak yang muslim, seperti Malaysia, Brunei, atau Arab Saudi.

Contoh, hijab yang di Pasar Tanah Abang seharga Rp 50 ribu rata-rata dihargail 49 ringgit di Malaysia. Dengan kurs 1 ringgit sekitar Rp 3.500, bisa untung 2 kali lipat!

 

3. Katering

Modal: Rp 20-30 juta

Modal bisnis katering memang agak besar karena keperluannya banyak, seperti beli peralatan masak dan bahan serta gaji asisten. Tapi kalau baru mulai, cari proyek kecil-kecilan dulu aja, kayak nembusin seminar/workshop dengan peserta kurang dari 50 orang.

Gak usah muluk-muluk nglayani 1.000 tamu undangan. Biar cuma 100 porsi tapi rutin juga menguntungkan kok.

 

Bikin menu yang bahannya berasal dari dalam negeri biar pengeluaran gak banyak. Kalau mau bisnis katering makanan Jepang atau Korea, misalnya, gak cukup modal Rp 20 juta. Jangan lupa, harus pintar masak.

Contoh, bikin katering dengan menu gudeg untuk 100 tamu undangan. Dengan harga tiap porsi ditetapkan Rp 25 ribu, sedangkan belanja modal cuma Rp 20 ribu, ada keuntungan Rp 5.000 x 100= Rp 500 ribu.  Itu baru satu acara. Dalam sebulan acara bisa lebih dari sekali.

 

4. Warung makan

Modal: Rp 30-40 juta

Bisnis bikin warung makan mirip ama katering. Cuma, modalnya lebih besar karena ada biaya sewa tempat buat warung. Kecuali udah punya tempat sendiri.

[Baca: Wahai Pebisnis Pemula, Kredit Tanpa Jaminan KTA Bisa Jadi Comblang Bersahabat dengan Bank]

Selama orang butuh makan buat hidup, bisnis warung gak akan pernah redup.

 

Sama kayak katering, jualan menu dalam negeri aja biar gak perlu datengin bahan dari luar negeri. Bikin warteg di deket kawasan kampus pastinya menjanjikan dengan target pelanggan mahasiswa. Tentunya masakan juga harus enak biar pelanggan datang terus.

Contoh, bikin warteg dengan modal Rp 30 juta. Kalau pasang target pendapatan minim Rp 300 ribu sehari, dalam tiga bulan udah balik modal. Untuk ngejar target, bisa manfaatkan Internet dan smartphone buat layanan delivery ke kos-kos mahasiswa.

 

5. Tour guide

Modal: Rp 10-15 juta

Bikin biro wisata dengan target utama turis asing, biar bayarnya pakai mata uang asing dengan ngikutin kurs rupiah. Namun harus cas-cis-cus setidaknya bahasa Inggris. Lucu kalau punya biro wisata tapi komunikasi ama turis asing pakai bahasa isyarat.

Kalau bikin agen wisata jangan cuma bisa bilang how are you, mister, I’m fine thank you, and you?

 

Untuk memasarkan, bikin website biro wisata itu. Kalau ngerasa gak mampu bikin sendiri, bisa juga cari jasa pembuatan website. Banyak kok jasa kayak gitu, dari yang freelance sampai perusahaan beken.

Dengan duit sekitar Rp 500 ribu udah bisa bayar jasa pembuatan situs yang simpel. Kalau dibandingin ama potensi pendapatan dari wisata buat turis asing gak seberapa.

Contoh, bikin paket wisata dengan harga US$ 10 per orang. Biasanya turis berwisata dalam kelompok. Kalau tiap kelompok ada 5 orang misalnya, sudah terkumpul Rp  700 ribu dengan kurs 1 dolar=Rp 14 ribu. Kalau ada 2 kelompok dalam sehari, hitung deh labanya.

Tapi ingat, transaksinya tetap pakai Rupiah ya! [Baca: Hore, Sekarang Rupiah Jadi ‘Wajib’!]

 

6. Kerajinan tangan

Modal: Rp 10-20 juta

Buka bisnis kerajinan tangan dengan bahan murni dari dalam negeri. Kalau bisa bikin sendiri dan mempekerjakan pegawai, itu bagus. Tapi kalau gak bisa, kita bisa datengin produk dari sentra usaha kecil-menengah di daerah.

Entah kenapa orang Barat suka dengan yang eksotis-eksotis di Indonesia, termasuk kerajinan tangan, juga orang-orangnya yang dijadiin istri/suami.

 

Di Sumedang dan Sleman ada desa penghasil kerajinan bambu. Kalau mau bisnis kerajinan tanah liat, bisa kulakan di Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Kita harus tahu seluk-beluk kerajinan yang mau ditekuni sebagai bisnis biar bisa memasarkan dengan baik, syukur-syukur sampai ke negeri tetangga.

Contoh, kulakan patung tanah liat hiasan meja seharga Rp 3.000. Di pasar mancanegara, contohnya eBay, patung kayak gitu bisa dihargai sedikitnya US$ 1. Apalagi kalau bentuknya eksotis kayak tokoh wayang.

 

7. Batik

Modal: Rp 10-20 juta

Batik Indonesia sudah diakui UNESCO, jadi punya nama baik di dunia internasional. Kalau mau bisnis batik berkualitas, misalnya batik tulis, otomatis modalnya juga besar karena harganya pun mahal.

Batik Indonesia udah diakui UNESCO. Otomatis harga jualnya ikut terdongkrak karena status itu.

 

Kita bisa kerja sama ama kelompok-kelompok pembatik di daerah seperti Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta untuk memproduksi batik. Kalau mau, bisa lebih fokus ke pasar luar negeri lewat toko online dengan pengantar berbahasa Inggris.

[Baca: Kamu Punya Bisnis Online? Waspada Ya Dengan Penipuan Pembeli Online, Ini Contohnya]

Contoh, kulakan batik tulis di Solo dengan harga Rp 200 ribu. Di pasar luar negeri, misalnya Amerika, batik tulis bisa dibanderol hingga US$ 50.

Di luar negeri juga sering ada pameran produk dalam negeri yang difasilitasi pemerintah. Acara kayak gini bisa dimanfaatkan untuk pemasaran produk batik.

 

8. Jamu

Modal: Rp 5-10 juta

Siapa bilang jualan jamu harus muter-muter jalan kaki sambil gendong botol jamu? Jamu Nusantara punya pasar di luar negeri, khususnya buat warga Indonesia yang tinggal di mancanegara entah karena kuliah, kerja, atau yang lain.

Selain orang asli luar negeri, warga Indonesia yang tinggal di negeri orang juga sering kangen jamu Nusantara, lho. Prospek bagus, nih.

 

Buat penduduk lokal pun jamu masih jadi idola. Tapi kalau buka bisnis ini kita mesti tahu bahan-bahan jamu. Soalnya kalau salah ambil bahan malah yang dijual jadi racun, bukan obat kuat.

Menurut laporan Kontan, jamu memperkuat nilai ekspor kita. Artinya, pasar jamu Indonesia di mancanegara bagus. Jamu kunyit asem yang dijual Rp 5 ribu per botol di Jogja, misalnya, bisa lebih mahal 2-3 kali lipatnya jika dipasarkan di luar negeri, misalnya Malaysia. 

Itulah 8 ide bisnis rumahan yang relatif gak terpengaruh anjloknya rupiah.  Kalau ditarik benang merahnya, bisnis-bisnis itu mengandalkan bahan dalam negeri.

Sebab di tengah terpuruknya rupiah, konyol kalau buka bisnis dengan bahan dari mancanegara. Alasannya, harga barang impor udah pasti mahal lantaran dolar perkasa.

[Baca: Cicipi Kredit Usaha Rakyat, Hidup Sejahtera pun Terbuka Lebar]

Untuk memaksimalkan keuntungan, bisnis bisa menargetkan pasar di luar negeri agar kita dibayar dengan dolar atau mata uang lain yang nilainya lebih tinggi ketimbang rupiah.

Yang belum kerja atau bosan ngikut orang, bisa dicoba ide-ide bisnis rumahan di atas. Soal modal, bisa diajukan ke bank agar mendapat kredit usaha. Jangan malu untuk jadi pengusaha!

[Baca: 5 Kisah Pengusaha UKM yang Sukses Memulai Bisnis dari Nol]

 

 

Image credit:

  • http://www.medanbisnisdaily.com/imagesfile/201404/20140407080946_606.gif
  • http://photo.kontan.co.id/photo/2013/01/22/1295886979p.jpg
  • http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/754985/big/027881100_1414044041-
  • Chili_Pari_Bisnis_Katering_Gibran.jpg
  • http://mediabisnisonline.com/wp-content/uploads/2014/02/Optimized-IMG_1378.jpg
  • http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/DSC_0963a1.jpg
  • http://images.solopos.com/2013/06/com-BUNGA-SABUN-Agoes-Rudianto.jpg
  • http://beritadaerah.co.id/wp-content/uploads/2014/09/Usaha-Batik-Meningkat-200914-MS-3.jpg
  • http://us.images.detik.com/content/2014/11/26/1036/jamu4.jpg

Tags:

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com