Aduh, Masuk Blacklist BI atau Enggak Ya? Kalau Iya, Gimana Keluarnya?

by DuitPintar 11.219 views4

masuk blacklist BI

Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Perumpamaan itu cocok buat mereka yang sebelumnya selalu melunasi kredit dari bank tapi kemudian lalai dan membiarkan utang ke bank menumpuk.

Mereka yang lalai menunaikan kewajiban sebagai debitur atau orang yang mendapat pinjaman dari bank ini akan mendapat “hukuman” dari Bank Indonesia berupa hambatan dalam memperoleh kredit baru.

Bahkan hambatan ini bisa berupa larangan. Artinya, mereka tak bisa mencairkan kredit apa pun dari bank mana pun.

Bank Indonesia memiliki sistem yang otomatis mendata masyarakat yang menggunakan fasilitas kredit dari bank dan lembaga keuangan, contohnya kartu kredit. Jika nasabah bermasalah dalam melunasi tagihan kartu kredit, dia akan dimasukkan ke dalam daftar yang populer dengan sebutan daftar blacklist Bank Indonesia.

Bank Indonesia menerapkan sistem skor untuk menilai peringkat kredit seseorang. Debitur akan mendapat peringkat 1 jika selalu melunasi cicilan tepat waktu.

Dia akan mendapat ranking 3 jika menunggak tapi tunggakannya belum sampai 270 hari. Jika sudah menunggak lebih dari 270 hari, dia akan berada di peringkat 5 atau yang paling bawah.

JATUH TEMPO
Jatuh cinta sih enak, tapi kalau jatuh tempo alias kudu bayar tagihan? (meme jatuh tempo/humor singkat)

Misalnya Benny memiliki kartu kredit dan pada setahun pertama selalu melunasi tagihan tepat waktu. Tapi pada tahun kedua dia keblinger memakai kartu kredit itu sehingga tagihannya membengkak.

Cukup lama dia jadi kesulitan membayar per bulan hingga akhirnya diputuskan kreditnya macet. Dia gagal melunasi tagihan hingga 10 bulan atau sekitar 300 hari.

Dengan demikian, peringkat kredit Benny di Bank Indonesia merosot dari 1 ke 5. Benny akan diberi waktu 3 bulan untuk melunasi tagihannya agar bisa kembali naik ke peringkat 1.

Jika tak sanggup, bisa dipastikan dia akan ditolak jika mengajukan kredit lagi ke bank, misalnya kredit pemilikan rumah (KPR). Seram juga, kan?

Cek Peringkat dan Perbaiki Ranking

Untuk memperoleh data peringkat kredit (BI checking), kita bisa mengunjungi gerai Bank Indonesia langsung. Tapi, jika tak sempat, kita bisa membuka situs Bank Indonesia. Kita juga bisa meminta bantuan lembaga keuangan angggota Biro Informasi Kredit yang memberikan fasilitas dana/pembiayaan kepada kita.

Di bagian Biro Informasi Kredit, tersedia informasi seputar IDI Historis. IDI merupakan kependekan dari Informasi Debitur Individual. Di dalamnya memuat riwayat pembayaran kredit masing-masing nasabah.

proses bi
Mau permintaan diproses artinya kita juga harus mengikuti proses, ya (mekanisme BI Checking/BI)

Kita harus mengisi formulir yang telah disediakan BI untuk mendapatkan informasi peringkat kredit. Setelah mengisi formulir dan mengirimnya lewat situs BI, kita harus menunggu balasan berupa informasi bahwa IDI Historis dapat diambil di Gerai Bank Indonesia pada hari dan jam tertentu dengan membawa syarat yang diperlukan.

Kalau kita merasa sudah melunasi semua cicilan ke bank tapi masih berada di peringkat 3 atau bahkan 5, kita bisa mengajukan komplain ke bank terkait. Dalam IDI Historis tercatat tagihan ke bank mana saja yang sudah dan belum lunas.

Misalnya kita merasa cicilan di bank A sudah lunas tapi di IDI Historis masih tercatat menunggak, kita bisa mendatangi bank A dan minta penjelasan. Bank biasanya akan menangani pengaduan secara lisan dalam 2 hari kerja.

Jika bank belum bisa memberikan penjelasan dalam 2 hari, umumnya kita akan diminta membuat pengaduan secara tertulis. Bank itu lalu akan berusaha menyelesaikannya dalam 20 hari. Jika masih belum ada solusi, Bank Indonesia akan turun tangan.

Kita tak akan pernah bisa mendapat kredit baru selama belum berada di peringkat 1. Kita diberi waktu enam bulan untuk melunasi utang agar bisa duduk di peringkat 1 dan kembali mengajukan kredit. Ingat, ya. Isu yang mengatakan blacklist otomatis hilang setelah lima tahun tak dapat dibuktikan.

Hati-hati Pakai Kartu Kredit

terjebak kartu kredit
Yang namanya terjebak tu di mana-mana ga enak, kecuali terjebak jerat asmara (terjebak kartu kredit/Teropong Bisnis)

Peringkat kredit yang jeblok di BI biasanya disebabkan oleh kurang disiplinnya pengguna kartu kredit. Kartu kredit adalah fasilitas pinjaman dana dari bank yang tidak memerlukan jaminan, sehingga bank akan menerapkan bunga yang tinggi apabila penggunanya tidak disiplin dalam membayar cicilan.

[Baca: 5 Kesalahan Paling Sering Dilakukan Terhadap Bunga Kartu Kredit]

Jika kita merasa kurang disiplin dalam mengatur keuangan, lebih baik urungkan niat menggunakan kartu kredit untuk bertransaksi. Atau, jika sudah punya kartu kredit, kita harus menggunakannya dengan bijak.

Misalnya tidak menggunakan kartu kredit untuk modal membuka usaha sepenuhnya. Kartu kredit boleh dipakai sebagai modal usaha asal sudah punya perhitungan untuk melunasinya dan digunakan untuk menutup kekurangan-kekurangan kecil yang bisa langsung dilunasi pada akhir bulan agar tak terkena bunga.

Kartu kredit tidak disarankan digunakan untuk modal usaha. Jika ingin membuka usaha, kita bisa menggunakan fasilitas kredit lain dari bank yang bunganya lebih bersahabat. [Baca: Pahami Jenis-Jenis UKM yang Dapat Membantu Kita]

Misalnya pinjaman pribadi dengan jaminan berupa aset, antara lain, kendaraan atau usaha itu sendiri. Tentu fisik kendaraan atau usaha tak perlu kita berikan ke bank, tapi cukup surat-suratnya. [Baca: Kenalan Dengan Pinjaman dengan Jaminan]

Adapun dana cadangan disarankan berasal dari tabungan, bukan kartu kredit. Sebab, jika dana cadangan berasal dari kartu kredit, itu sama saja kita menyiapkan utang dengan bunga yang tinggi untuk membayar keperluan yang mendesak.

Bisa-bisa kita malah sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah berutang untuk membayar keperluan yang mendesak, masih harus melunasi tagihan dengan bunga yang tinggi.

Iya kalau pendapatan kita cukup untuk membayar cicilan hingga lunas. Kalau tidak, risiko masuk blacklist BI ada di depan mata.

Tags:

Masih banyak lagi dari duitpintar.com