Belajar dari Sevel, Jangan Lakukan 3 Hal Ini Kalau Gak Mau Bisnismu Tutup di Tengah Jalan

by akbar 4.705 views0

Belajar dari Sevel

“Bro, ketemuan di mana malam ini?” ujar Andika kepada Andre.

Andre pun menjawab, “Udeh Sevel aja tempat biasa. Nongkrong santai, murah meriah.”

Percakapan kayak Andika dan Andre sepertinya gak akan kita dengar lagi sekarang. Sebab, seluruh gerai 7-Eleven (Sevel) sudah resmi tutup sejak 30 Juni 2017.

Pemegang merek Sevel, PT Modern Internasional Tbk pun mengaku sudah kapok dengan model bisnis seperti ini.  Padahal, convenience store yang kerap dijadikan tempat nongkrong anak muda itu sempat populer lho.

Sebelum menjadi convenience store, outlet Sevel tadinya adalah outlet Fuji Film. Yang hobi fotografi pasti kenal dong sama Fuji Film? Tapi perkembangan teknologi di dunia fotografi di tahun 2000-an membuat bisnis studi foto itu makin lesu dan akhirnya gulung tikar.

belajar dari sevel
Ayo tebak, ini Sevel di daerah mana? (Sevel/malkautsar)

Itu sebabnya Modern International memutuskan mengganti lini bisnis dan mendirikan gerai pertama Sevel di Bulungan, Jakarta pada 2009. Sejak itu, gerai Sevel terus bertambah hingga akhirnya tercatat mencapai 190 gerai pada 2014.

Sayangnya, kejayaan Sevel ini gak berlangsung lama. Tahun 2015, kinerja Sevel mulai menurun dan beberapa gerainya mulai ditutup.

Puncaknya, pada Maret 2017, pendapatan Sevel anjlok hingga 50 persen dari tahun lalu. Modern International sebagai perusahaan induk pun tercatat menanggung rugi di kuartal pertama 2017 sampai Rp 456,14 miliar!

Kalau udah begini, gak heran jika Sevel pun akhirnya resmi ditutup. Daripada rugi terus dan bikin perusahaan bangkrut, ya mendingan dihentikan aja operasionalnya.

Nah, belajar dari nasib Sevel, terbukti kalau bisnis sebesar apapun tetap berpeluang untuk gagal kalau gak dikelola dengan baik. Bila kamu adalah penguasaha atau berniat mendirikan usaha, ada baiknya untuk berkaca dari kasus Sevel ini supaya gak mengalami hal yang sama.

Emang apa sih yang menyebabkan bisnis Sevel gagal di Indonesia? Yuk disimak dan dicatat!

1. Ketidakjelasan model bisnis karena terpentok regulasi

Sejak awal berdiri, status Sevel memang terombang-ambing antara convenience store atau restoran. Patut diketahui, Sevel mengantongi izin usaha berupa rumah makan dari Kementerian Pariwisata.

Tapi kalau kamu masuk ke dalam Sevel, tentu yang kamu saksikan adalah convenience store. Oleh karena itulah masalah ini kerap jadi perdebatan hingga ke level pemerintah karena sejatinya convenience store harus mengantongi izin dari Kementerian Perdagangan.

Namun di sisi lain, usaha retail seperti convenience store harus dikelola 100 persen oleh perusahaan lokal. Dan seperti diketahui, Sevel merupakan perusahaan kelontong asal Dallas Amerika Serikat, yang sahamnya diambil alih oleh supermarket Jepang.

Dari masalah ini, kita bisa tarik kesimpulan bahwa ketegasan dalam berbisnis bakal jadi kunci kelangsungan bisnismu. Pastikan juga model bisnismu didukung oleh regulasi yang berlaku di Indonesia. Kalau ga, ya kayak Sevel deh, izin usahanya jadi ribet.

2. Strategi bisnis kurang mantap

Ketika Kementerian Perdagangan dipimpin oleh Rachmat Gobel, muncul Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol. Sevel pun terkena aturan ini mengingat mereka adalah pengecer minuman beralkohol.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Haryadi Sukamdani pun mengatakan, penjualan Sevel drop karena adanya larangan ini. Sevel seperti kehilangan salah satu kekuatan dalam daya saingnya di antara peritel lain.

Bersamaan dengan itu, Haryadi menambahkan bahwa manajemen Sevel gak punya strategi yang mumpuni dalam menghadapi persaingan bisnis. Apalagi sebagai peritel, Sevel tergolong masih baru. Beda sama Alfamart, Indomaret, atau Circle K.

belajar dari sevel
Jadi inget nih, pas lagi ngehits, Sevel sering ngajak band-band indie ngamen di sana (ngeband di Sevel/NY Times)

Pengamat waralaba Tri Rahardjo juga ikut berkomentar terhadap kasus Sevel. Menurutnya, gak ada pemasukan yang signifikan bagi Sevel. Yang datang ke Sevel untuk nongkrong jauh lebih banyak ketimbang yang beli sehingga biaya operasional pun gak ketutup.

Nah, itu kenapa penting banget buat merencanakan kelangsungan bisnismu sebelum mendirikan usaha. Jangan sampai salah strategi kayak Sevel ya.

3. Ekspansi bisnis yang terlalu agresif

Ekspansi memang bisa mengubah bisnismu menjadi raksasa, tapi pelaksanaannya membutuhkan perhitungan yang matang. Ekspansi pun harus disertai dengan penerapan strategi bisnis yang mumpuni agar kelangsungan bisnismu tetap baik di masa depan.

Nah bagaimana dengan Sevel ini? Outlet pertama mereka didirikan pada 2009, dan pada 2010 mereka sudah membuka gerai yang ke 21. Pada 2011 gerai Sevel jadi 57, 2012 sudah ada 100, dan pada akhirnya 2014 sudah ada 190 gerai.

belajar dari sevel
Karena Sevel tutup, minuman yang super manis ini jadi tinggal kenangan (Slurpee/Mercury News)

Ekspansi Sevel bisa dikatakan cukup agresif. Tapi jangan salah, setiap pembukaan gerai pasti akan menambah biaya operasional bukan?

Sedangkan penjualan Sevel pada 2015 mulai mengalami kemerosotan. Inilah yang menyebabkan Modern International pelan-pelan mengurangi gerai Sevel. Outlet-nya susut dua unit pada 2015 menjadi 188, dan pada 2016 berkurang lagi hingga 175.

Rugi bersih perusahaan pada 2016 mencapai Rp 638,7 miliar dari sebelumnya untung Rp 54,8 miliar di tahun 2015. Komisaris Modern International Donny Sutanto juga mengakui ada beban utang perbankan yang harus ditanggung Sevel dan mereka gak sanggup melanjutkan operasional.

Dari sini, kita bisa ambil pelajaran kalau ekspansi bisnis harus selalu diimbangi dengan perencanaan yang matang. Kalau terburu-buru, yang ada kocar-kacir bayar utang dan biaya operasional. Untung gak didapat, rugi gak terhindarkan.

Kasus Sevel menjadi bukti bahwa sebagai pengusaha atau entrepreneur wajib buatmu untuk tegas dan jeli ketika berbisnis. Tegas dalam memilih model bisnis apa yang bakal dilakoni, dan jeli ketika melihat adanya hambatan dan peluang.

Selain itu harus juga sigap dalam menghadapi persaingan. Melihat perkembangan zaman, kamu harus cepat beradaptasi dengan pasar. Jangan sampai berhenti berinovasi kalau gak mau tenggelam dalam persaingan.

Kalau mau ekspansi, jangan ngoyo dan pastikan dana yang tersedia mencukupi. Atau kalau mau pinjam ke bank juga sah-sah aja, asal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Ada kok pinjaman tanpa agunan yang bunganya 0,98 persen per bulan, dengan plafon maksimal Rp 300 juta.

Minjam duit untuk usaha boleh-boleh saja, tapi harus dengan perhitungan yang matang. Supaya aman, usahakan agar cicilan kredit perbulannya gak lebih dari 40 persen penghasilanmu. Gak mau kan punya usaha tapi pendapatannya habis cuma buat bayar utang?

 

CTA Standard Chartered

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Harus Gak Sih Bikin Badan Usaha untuk Bisnis Kita? Simak Jawabannya di Sini!]

[Baca: Biar Gak Salah Sasaran, Gini Caranya Milih Selebgram Buat Promosiin Bisnismu]

[Baca: Mau Lebih Mengenal Bisnis Waralaba Indonesia yang Mendunia? Ini Dia di Antaranya]

Masih banyak lagi dari duitpintar.com