Benarkah Tanam Duit di Unit Link Tidak Menguntungkan?

by DuitPintar 563 views0

unit link tidak menguntungkan

Tak sedikit pihak yang menyebut unit link tidak menguntungkan. Hanya di saat bersamaan sampai sekarang unit link masih terus ‘dijajakan’ agen asuransi.

 

Lebih-lebih banyak perusahaan asuransi yang mengunggulkan produk yang menggabungkan asuransi dan investasi itu. Padahal di saat bersamaan, unit link pro dan kontra di masyarakat. Terlepas dari penilaian itu, yang jadi pertanyaan kenapa unit link tetap ditawarkan?

 

Sebelum bahas lebih jauh, apa sih unit link?

 

Unit link menawarkan dua keuntungan sekaligus. Pertama, memperoleh perisai asuransi untuk melindungi dari kejadian tak terduga di masa depan. Kedua, mendapatkan manfaat investasi yang akan menambah aset. [Baca: Alasan Unit Link Dibilang Berinvestasi Sambil Minum Air]


Hal ini karena di dalam skema produk unit link, uang yang disetorkan nasabah tidak hanya diperuntukkan membayar premi asuransi, tetapi juga diinvestasikan oleh perusahaan asuransi melalui manajer investasi, agar nilainya terus berkembang.

 

Belakangan, tak sedikit masyarakat yang kecewa menanamkan uangnya di unit link. Rata-rata beralasan unit link sebagai produk yang mahal lantaran komponen biayanya tinggi. Di saat bersamaan, pertumbuhan dana nasabah di unit link sangat lambat.

 

Mereka yang bilang unit link sebagai produk yang mahal punya argumentasi yang kuat. Ada sejumlah biaya yang ditanggung nasabah jika membeli produk ini. Biaya itu antara lain:

 

1.Biaya administrasi

Besarannya tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan asuransi. Ada yang membebani biaya ini secara bulanan ada pula yang tiap tahun. Biaya administrasi akan selalu dikenakan sepanjang polis asuransi berlaku.

 

2.Biaya alokasi premi

premi unitlink
Sama aja kayak menata rumah. Bangku ini ditaruh di sini, kursi ini ditaruh di situ. Nah, duit premi ini ditaruh di sini dan di situ.

 

 

Biasanya perusahaan asuransi mengenakan biaya ini di awal pembukaan produk. Selain itu, biaya ini juga dipungut tiap dana yang dialokasikan ke produk investasi.

 

3. Biaya pengelolaan investasi

Perusahaan asuransi masih mengutip biaya ini dengan besaran yang bervariasi sampai maksimal 3 persen per tahun berdasarkan harga unit. Besaran biayanya sangat tergantung dari jenis investasi yang dipilih.

 

Misalnya itu pakah itu reksa dana pendapatan tetap, campuran, atau saham. Selain itu ukuran menentukan besaran biaya pengelolaan investasi juga berdasarkan besaran dana yang dikelola dan keuntungan yang diharapkan perusahaan asuransi.

 

Itu sebagian biaya-biaya yang dipungut perusahaan asuransi jika membeli unit link. Selain itu, produk ini preminya lebih mahal daripada beli produk secara terpisah.

 

Pertimbangan lainnya adalah manfaat yang diterima kecil. Terakhir, nasabah tak bisa mengakses kemana uangnya diinvestasikan.

 

Wajar jika sejumlah perencana keuangan menganjurkan untuk menghindari unit link sebagai instrument investasi. Misalnya saja Perencana Keuangan Aidil Akbar yang menilai unit link memberi kesulitan bagi nasabah yang ingin menghentikan investasinya ketika mengalami kesulitan finansial.

 

Kalau dulu mungkin dijewer orang tua kalau duit tabungan dipakai buat jajan. Tapi kalau ada kenapa-kenapa, tetap aja kan orang tua ngelindungi kita. Ya kira-kira sama lah.
Kalau dulu mungkin dijewer orang tua kalau duit tabungan dipakai buat jajan. Tapi kalau ada kenapa-kenapa, tetap aja kan orang tua ngelindungi kita. Ya kira-kira sama lah.

 

Nyatanya unit link bagi sebagian orang tetap dilirik sebagai instrumen investasi plus. Argumentasinya adalah unit link memaksa orang disiplin berinvestasi sekaligus mendapat bonus asuransi.

 

Selain itu, unit link dinilai sebagai produk yang komplet. Di dalamnya ada asuransi jiwa, kecelakaan, penyakit kritis, plus investasi di reksa dana.

 

Biasanya unit link dilirik mereka yang punya riwayat penyakit kritis dan hendak memasuki masa pensiun. Mengapa?

 

Karena mereka bisa memilih unit link dengan premi tunggal. Kalau ada apa-apa dengan tertanggung maka ahli waris bisa mendapatkan uang pertanggungan (UP) 150% dari premi awal.

 

Misalnya saja Richard menempatkan dana pensiunnya di unit link dengan premi tunggal Rp 500 juta. Ketika dia meninggal dunia maka uang pertanggungan yang didapat ahli warisnya bisa sebesar Rp 500 juta x 150 persen yakni Rp 750 juta.

 

Kemudian, unit link bisa menjadi solusi bagi yang ingin berinvestasi di reksa dana tapi dananya minim di bawah Rp 100 ribu. Dengan membeli unit link, seseorang sudah bisa menanamkan uangnya di reksa dana  walau besarannya hanya Rp 50 ribu per bulan. [Baca: Belajar Investasi Reksa Dana sebagai Pilihan Mendulang Uang Lebih]

 

Kalau berhenti di tengah jalan apakah rugi?

 

Kebanyakan mikirin untung rugi eh malah ga jadi-jadi investasi. Duitnya malah kepake mulu buat nongkrong. Kasian deehh..
Kebanyakan mikirin untung rugi eh malah ga jadi-jadi investasi. Duitnya malah kepake mulu buat nongkrong. Kasian deehh..

 

Jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya kembali lagi pada tujuan awal berinvestasi. Rumus standar berinvestasi adalah tentukan tujuan, jangka waktu investasi, dan yang terpenting mengenal profil risiko diri sendiri.

 

Saran terakhir, sebaiknya jangan buru-buru menutup unit link kalau belum punya asuransi pengganti. Bagaimana pun asuransi tetap penting sebagai pengalih risiko kepada perusahaan asuransi. [Baca: Pahami Dulu Apa Itu Asuransi ]

 

Image credit:

  • http://www.aegonreligare.com/sites/default/files/content_top_images/ULIPs_2.jpg
  • http://www.perlindunganasuransi.com/Avrist-AIP.jpg
  • http://www.kuambil.com/wp-content/uploads/2014/12/artikelkeadilansosial.jpg

Masih banyak lagi dari duitpintar.com