Biar Enggak Bikin Labil Ekonomi Keluarga Enaknya Pakai Asuransi Ibu Hamil atau Nabung Ya?

by DuitPintar 503 views0

asuransi ibu hamil

‘Positif? Yakin hamil?” Begitu kan reaksinya kalau dengar istri positif hamil? Awalnya mungkin hepi banget. Ya iyalah, kabar itu membahagiakan karena kehadiran anak pasti melengkapi kesempurnaan dalam keluarga.

 

Eh, sejurus kemudian pikiran langsung menerawang. Apalagi kalau bukan soal biaya. Ayo ngaku? Sudah bayangkan berapa duit yang mesti disiapkan. Utamanya pasti kepikiran buat estimasi biaya persalinan yang sudah wow banget.

 

Belum lagi pengeluaran tetek bengek lainnya selama masa kehamilan. Misalnya saja biaya selametan tujuh bulanan. Acara itu kan pakai duit juga buat beli makanan, undang kerabat dan tetangga.

 

Terus butuh duit lagi buat belanja aneka kebutuhan bayi. Entah itu baju, kelambu, sampai stoller.

 

Bikin persiapan keuangan

Itu deh rumusnya biar enggak kelabakan di hari H dan bikin labil ekonomi. Bagaimana pun, yang namanya kehadiran anak bakal mengubah kondisi keuangan. Hukumnya sudah pasti itu.

 

Idealnya memang kehamilan itu direncanakan. Jadi jauh-jauh hari sudah bisa mengukur kapasitas keuangan sebelum hari H si buah hati menyapa dunia. Faktanya, kadang kabar gembira itu datang ‘tanpa rencana’.

 

Tak usah panik. Tanyakan dulu apakah asuransi dari fasilitas kantor itu meng-cover kehamilan dan persalinan. Kalau iya, minta informasi yang detail besaran uang pertanggungannya. Misalnya saja berapa limit untuk kontrol masa kehamilan ke dokter, biaya persalinan normal atau operasi yang ditanggung, dan lain-lain.

 

Setelah tahu hak-hak apa saja yang diperoleh dari asuransi, berikutnya carilah rumah sakit atau bidan yang tarifnya sesuai dengan biaya yang di-cover asuransi.

 

Sadar mau ada buah hati, buruan bikin perencanaan keuangan

 

 

Lalu bagaimana kalau kehamilan dan persalinan itu tidak ditanggung asuransi kantor? Mau enggak mau mesti swadaya dong menyiapkan dananya.  Biar dana yang disiapkan presisi sama kebutuhan nanti, ada baiknya hitung dengan rinci kebutuhan berikut ini.

 

  • Biaya kontrol rutin. Bandingkan biaya dari bidan dan dokter spesialis kandungan. Hitung juga berapa kali mesti kontrol selama kehamilan
  • Estimasikan berapa duit untuk menebus resep vitamin atau suplemen kalau ada
  • Biaya persalinan normal (biasanya sudah paketan)
  • Biaya persalinan lewat operasi Caesar (biasanya sudah paket plus rawat inap)
  • Biaya tak diduga setelah persalinan (misalnya bayi mesti dirawat di ruang neonatal)
  • Biaya setelah bayi lahir

 

 

Semua rincian kebutuhan itu sifatnya riil. Kalau perlu survei beberapa bidan atau rumah sakit agar mendapat perbandingan.  Dari situ akan ketemu estimasi dana yang dibutuhkan.

 

Baru kemudian diukur estimasi itu apakah sudah sesuai dengan isi kantong. Pastikan dengan seksama berapa kesanggupan membayar biaya persalinan. Tekankan pada kebutuhan si ibu dan bayi mengingat yang namanya bersalin itu kan hidup atau mati.

 

Menabung atau asuransi hamil

Setelah dapat perkiraan kebutuhan dana persalinan, selanjutnya tinggal tentukan apakah semua itu mau ditanggung sendiri dengan cara menabung atau membeli produk asuransi ibu hamil. Kalkulasikan dengan cermat dari tiap opsi itu.

 

Bila keputusannya adalah menabung, tentunya target tabungan saat hari H mesti mencukupi dari estimasi yang telah disusun sebelumnya. Besaran saldonya harus bisa mengatasi total pengeluaran biaya persalinan dan kawan-kawannya.(Baca: Kenalan Sama Jenis Asuransi dan Cara Klaimnya Yuk)

 

Jangan asal pilih produk asuransi hamil biar enggak sesal kemudian

 

 

Agar target tabungan dapat tercapai, wajib hukumnya bikin perencanaan keuangan yang matang sebelum si anggota baru keluarga itu lahir. Kewajiban yang kedua adalah disiplin dengan perencanaan itu sendiri. Nah, kira-kria apa saja yang mesti disusun:

 

-Bikin tiga pos alokasi pengeluaran, yakni tabungan, cicilan utang (kalau ada), biaya hidup. Kebutuhan biaya selama masa kehamilan dan pasca kelahiran masukkan dalam pos biaya hidup. Pecah dua pos itu menjadi biaya rutin dan biaya saat melahirkan.  Biaya pemeriksaan kandungan, resep vitamin dan suplemen, dan pasca kelahiran masuk ke biaya rutin. Sedangkan biaya persalinan hanya dikeluarkan saat melahirkan saja.

 

-Keperluan bayi bisa masuk dalam pos kebutuhan rutin. Agar tak memberatkan, keperluan bayi ini bisa dimiliki dengan mencicil selama masa kehamilan. Misalnya beli box bayi terlebih dulu, stoller, dan terakhir pakaian bayi.

 

-Jangan lupakan juga biaya darurat yang besarannya bebas ditentukan sendiri. Sebagai saran, nilainya mungkin sekitar 20% dari total biaya persalinan.

 

Dari perencanaan keuangan itu bisa diketahui sejauh mana penghasilan bisa dikumpulkan untuk menyambut kehadiran buah hati. Terlebih lagi, durasi menabung itu cukup panjang karena masa kandungan normal mencapai sembilan bulan.

 

Lalu bagaimana kalau mengambil opsi membeli produk asuransi kehamilan?

 

Ini kembali lagi pada kebutuhan. Utamanya adalah mengkalkulasi sejauh mana masa kehamilan itu bikin labil keuangan keluarga. Setelah itu barulah menghimpun informasi produk asuransi hamil yang tersedia di pasaran.

 

Asuransi hamil itu ada masa tunggunya. Cek itu dulu ya 

 

 

Satu hal yang mesti diketahui sejak awal, membeli asuransi untuk ibu hamil itu ada masa tunggu. Artinya, asuransi baru akan meng-cover biaya-biaya yang dikeluarkan karena melahirkan itu setelah 9-12 bulan jadi nasabah. Kalau sudah melahirkan sebelum masa tunggu itu ya pasti enggak di-cover.

 

Asuransi hamil ini cocok bagi mereka yang merencanakan kehamilan. Misalnya beli produk ini sekarang tapi hamilnya setelah lewat masa tunggu. Tapi perhitungkan juga nilai uang pertanggungannya (UP). Kalau nilai UP-nya sekitar Rp 10 juta dan preminya 4 juta setahun, kira-kira sepadan enggak. Kira-kira lebih ekonomis pakai asuransi atau menabung sendiri?

 

Kemudian pertimbangkan juga apakah yakin hamil setelah masa tunggu begitu ikut kepesertaan asuransi? Lha kalau meleset dan ternyata hamil di tahun ketiga, berarti nilai premi yang dibayar lebih tinggi dari besaran UP. Niat ingin mengalihkan risiko terkait biaya persalinan jadi meleset juga.

 

Dari sini bisa tergambar kan untuk menentukan solusi keuangan untuk kehadiran anggota baru dalam keluarga. Yang pasti, urusan ini enggak main-main lho. Urusan bersalin itu hidup atau mati sehingga mencukupinya adalah suatu keharusan.

 

Maka itu, merencanakan keuangan sejak dini adalah cara terbaik tapi mesti diikuti pula dengan niat mematuhinya. Percuma punya perencanaan yang keren tapi sekadar di atas kertas saja.

 

Kemudian yang tak kalah penting, perencanaan yang disusun tak sekadar selesai setelah kelahiran saja. Memiliki anak adalah tanggung jawab jangka panjang. Masih banyak hal-hal lainnya yang membutuhkan duit enggak sedikit untuk si upik. Entah itu biaya kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

 

(Baca: Tabungan Rencana Bisa Jadi Solusi Atur Keuangan Keluarga)


So, anggap saja bikin perencanaan keuangan untuk biaya persalinan ini sebagai simulasi untuk rencana keuangan berikutnya untuk si buah hati.

 

 

 

Image credit:

  • http://www.pitterpatter.com.my/wp-content/uploads/2014/05/12446_prumychild_banner_pitterpatter_750x150_v1.jpg.jpeg

Tags:

Masih banyak lagi dari duitpintar.com