Bujet Ngupi-Ngupimu Itu Gak Sepenting Asuransi Perlindungan Rumah, Itu Aset Berhargamu Sendiri Loh!

by DuitPintar 1.431 views0

asuransi perlindungan rumah

Menurut data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta, angka kebakaran properti di Ibu Kota meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah kerugiannya juga begitu, naik terus kayak uler keket yang manjat pohon gara-gara dikejar burung.

 

[Baca: Investasi Tabungan Dolar: Apa Itu dan Bagaimana Cara Bermainnya?]

 

 

Kalau ngelihat fakta itu, wajar kalau kite-kite warge Jakarte khawatir jadi korban kebakaran. Yang jadi soal, gimana cara menghadapinya?

 

Yang pasti, rugi kalau kita memutuskan pasrah-pasrah aja. Meski lokasi hunian kita jauh dari lokasi rawan kebakaran, ancaman si jago merah tetap ada.

 

Salah satu solusi masalah ini adalah ikut asuransi properti. Asuransi properti menjamin aset berupa properti kita terutama dari ancaman kebakaran.

 

Sebenarnya asuransi properti terbagi jadi dua, yaitu:

 

1. Asuransi standar kebakaran

2. Asuransi all risk

 

Yang membedakan dua jenis asuransi properti itu adalah tanggungan dan besar preminya. Kalau asuransi standar kebakaran, yang ditanggung adalah risiko kebakaran yang mengancam hunian.

 

Sedangkan asuransi all risk perlindungannya lebih luas. Misalnya gempa bumi, banjir, dan huru-hara. Tapi biaya preminya lebih gede ketimbang yang standar.

 

Namun segede-gedenya premi, sebanding dengan ancaman risiko kehilangan properti gara-gara sebab tertentu. Lagian, premi ini bisa aja lebih kecil daripada duit jajan kita sehari-hari, lho.

 


asuransi perlindungan rumah

 

Asuransi properti ada dua loh, asuransi standar kebakaran dan all risk. Pastikan kamu paham dulu sebelum mengambil keputusan terbaik.

 

 

Coba, siapa yang hampir tiap hari nongkrong di kafe atau tempat lain dan nyetor sedikitnya Rp 50 ribu sekali nongkrong. Kalikan aja ama 30 hari dalam sebulan, berarti pengeluarannya Rp 50 ribu x 30= Rp 1,5 juta!

 

Sedangkan premi asuransi, seperti diungkapkan Wakil Presiden Direktur Allianz Indonesia Wiyono Sutioso, cuma 1,9-2 per mil (per 1.000) dari total nilai properti. Jadi,  misalnya harga properti Rp 500 juta, preminya 2/1.000 x Rp 500 juta= Rp 1 juta per bulan.

 

Bayangkan, bayarnya cuma Rp 1 juta per tahun. Tapi nilai perlindungannya Rp 500 juta. Bahkan dari duit jajan tadi masih ada sisa Rp 500 ribu.

 

Namun tentu saja kita gak bisa sembarang beli asuransi perlindungan rumah dan bangunan lain itu. Ada sejumlah hal yang harus kita perhatikan sebelum memutuskan mengasuransikan properti.

 

 

1.Melihat risiko hunian

Kalau hunian tepat berada di permukiman yang rawan kebakaran, sebaiknya pakai asuransi properti standar kebakaran. Kalau lokasi itu sekaligus rawan banjir, asuransi property all risk lebih baik. Intinya, jangan sampai pakai asuransi properti yang gak sesuai dengan risiko hunian kita.

 

2. Memastikan pembayaran premi

Asuransi gak jalan tanpa premi. Jadi, pastikan keuangan kita cukup untuk membayar premi secara rutin. Bukan bayar di awal doang, abis itu macet. Bisa rugi karena asuransi bakal dibatalkan.

 

3. Gak semua asuransi properti sama

 

Antara satu perusahaan dan perusahaan lain bisa saja nawarin asuransi properti yang berbeda. Bisa beda namanya, bisa beda rincian perlindungan yang ditawarkan.

 

Itu sebabnya kita kudu teliti melihat mana asuransi yang paling pas dengan kebutuhan. Meski demikian, harga premi yang ditawarkan relatif mirip-mirip. Biasanya, perusahaan yang finansialnya kuat agak lebih mahal preminya karena punya daya tawar lebih tinggi ketimbang perusahaan asuransi kecil.

 

asuransi perlindungan rumah

 Rumah itu hunian yang harusnya nyaman dan aman, beda hunian pasti beda penilaian preminya

4. Ada patokan tarif

Untuk memastikan premi asuransi properti yang kita ikuti gak mahal, lihat Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan tentang tarif premi asuransi. Jadi, gak perlu khawatir perusahaan asuransi bakal nipu ngasih tarif selangit. Sebab pemerintah sudah ngasih patokan.

 

Perusahaan asuransi bakal menilai bangunan yang kita asuransikan antara lain berdasarkan lokasi dan material. Semakin tinggi nilai bangunan, makin besar preminya.

 

 

Khusus pada poin nomor 4, perusahaan asuransi bakal nerapin tarif premi berdasarkan zona risiko. Zona banjir, misalnya, mencakup DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Kemudian zona gempa meliputi Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan sejumlah daerah lain.

 

[Baca: Apa Bedanya Produk Asuransi Kebakaran dengan Asuransi Properti? Ini Jawabnya..]

 

Jika hunian masuk zona banjir, misalnya, maka tarif premi asuransi properti yang menanggung risiko banjir bakal lebih tinggi. Begitu pula sebaliknya.

 

Selain hunian, asuransi properti melindungi bangunan lain, lho. Misalnya gedung kantor dan lapak di pasar. Tarif preminya tentu beda dengan premi asuransi hunian. Pada dasarnya, perusahaan asuransi terbuka dalam hal penentuan tarif premi berdasarkan bujet dan kebutuhan kita.

 

Tapi bukan berarti kita bebas masang harga buat ikut asuransi perlindungan rumah. Yang pasti, kalau kita bisa nongkrong ketawa-ketiwi di kafe dan ngeluarin duit puluhan ribu tiap hari, premi asuransi properti juga terjangkau, dong.

 

 

asuransi perlindungan rumah

 

Lebih baik sisihkan uang nongkrong sebagian buat bayar premi asuransi perlindungan rumah deh, daripada menyesal kemudian!

 

 

 

Aset properti penting buat jangka panjang, dan bahkan mungkin menjadi aset terbesar dalam hidup. Masak gak diproteksi?

 

Properti bisa menjadi investasi di kemudian hari. Lha kalau ngupi-ngupi? Emang investasi situ di kafe?

 

 

[Baca: Asuransi Properti di Indonesia: Kenali Jenisnya, Pahami Pentingnya]

 

 

 

Image Credit :

  • http://4.bp.blogspot.com/–59EO58aMtI/UcMJJhA03kI/AAAAAAAABds/eLpB2Kgc2QA/s1600/asuransi+property+allrisk+36.JPG
  • http://photo.kontan.co.id/photo/2012/04/02/12012211p.jpg
  • http://ewblanch.com/wp-content/uploads/2015/09/Premi-Asuransi-Properti.jpg

Masih banyak lagi dari duitpintar.com