Cara Ajukan KPR untuk Rumah Bekas Tahap demi Tahap

by DuitPintar 12.331 views0

kredit pemilikan rumah

Siska bersama suaminya akhirnya bisa mewujudkan impian mereka: memiliki rumah sendiri. Proses untuk memiliki rumah sendiri ini bisa dibilang sangat panjang, butuh perjuangan hingga titik darah penghabisan. Eh, mati dong. Hehehe

 

Tapi beneran, membeli rumah membutuhkan proses yang tidak sederhana. Banyak tahapan yang harus dijalani sampai sertifikat rumah incaran bisa sampai ke tangan. “Sampai ngayal pengin dateng aja ke presiden, minta dibeliin rumah, jadi tinggal make,” kata Siska sambil tertawa.

 

Siska sendiri membutuhkan dua bulan lebih dari waktu menemukan rumah incaran sampai bank menyetujui pembiayaan lewat kredit pemilikan rumah (KPR).  Membeli rumah lewat KPR memang sering jadi pilihan karena sangat meringankan masyarakat yang hendak memiliki rumah tapi tabungan belum cukup.

 

“Kalau nunggu sampai duit cukup, yang ada itu rumah incaran udah disamber orang lain, belum lagi harganya pasti naik terus,” kata Siska. [Baca: Yang Wajib Diketahui tentang Kredit Pemilikan Rumah]

 

Karena pencarian perumahan baru yang gampang aksesnya atau dekat dengan lokasi kerjanya dan suaminya gagal terus, akhirnya Siska beli rumah bekas yang sesuai dengan kebutuhannya itu.  Tanpa menunggu lama, dia carilah informasi tentang cara ajukan KPR untuk rumah bekas.

 

Berkat bantuan teman suami Siska yang punya pengalaman memakai KPR untuk rumah bekas, Siska melewati tahap demi tahap pembelian sampai tuntas. Berikut ini tahap yang dilewat Siska sesuai pengalamannya:

 

1. Deal dengan penjual

nego rumah bekas sama penjualnya langsung
Pas nego ama penjual rumah, pasang tampang melas, siapa tahu orangnya kasihan terus ngasih rumahnya gratis. Siapa tahuuu

 

 

Rumah yang dihargai Rp 500-an juta ditawar habis oleh Siska hinga mentok di angka Rp 500 juta pas. Soalnya nantinya bank gak akan membiayai KPR sesuai dengan harga rumah. Jadi misalnya harga rumah Rp 500 juta, yang dibiayai KPR mungkin cuma Rp 320 juta.

 

Sebab bank akan melakukan survei penilaian (appraisal) buat menaksir harga rumah itu, yang seringnya selalu di bawah harga yang dipatok penjual. Dalam kasus Siska, penjelasan soal appraisal ada di tahap ketiga di bawah.

 

[Baca: Intip Cara Bank Menilai Rumah Sebagai Nilai Jaminan]

 

“Gue keluarin jurus ala emak-emak di pasar. Selisih 500 perak juga bakal gue tawar,” tutur Siska.

 

2. Ketemu pihak bank

situasi lagi ngobrol dengan orang bank
Saat ngobrol, tanyakan semuaya kepada petugas bank. Cari dulu info seputar KPR lewat internet buat bahan pertanyaan, kayak di artikel ini

 

 

Setelah deal harga dengan penjual, Siska cuma diberi waktu 2 minggu untuk cari KPR di bank. Untungnya dia sukses mendapatkan KPR yang cocok dengan kemampuan keuangannya.

 

Saat mengajukan KPR, Siska membawa dokumen berikut ini:

 

  • Kartu keluarga dan KTP
  • NPWP
  • Surat nikah
  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • Surat keterangan kerja
  • Rekening koran tabungan 3 bulan terakhir

 

“Sampai di bank, gue lupa bawa dokumen rumah yang mau gue beli. Ya masak minta dibiayain beli rumah tapi gak ada ada berkas rumah itu. Hahaha,” kata Siska.

 

Sebenarnya dokumen yang ketinggalan itu bisa dikirim lewat e-mail ke petugas bank yang ditunjuk. Tapi Siska memilih pulang dulu karena lokasi bank dekat dengan tempat tinggalnya.

 

Dokumen rumah yang seharusnya dibawa Siska itu harus diminta dari penjual rumah, yaitu:

  • Fotokopi sertifikat
  • Fotokopi izin mendirikan bangunan (IMB)
  • Fotokopi bukti pembayaran PBB tahun terakhir
  • Surat kesepakatan jual-beli rumah antara penjual dan pembeli yang ditandatangani di atas materai.

 

3. Appraisal

petugas appraisal rumah dari bank
Pas datang, dijamu lah itu petugas bank biar urusan makin lancar. Jangan cuma dikasi minuman kemasan gelas. Apa lagi kalau merek minumannya KW. Ckckckck

 

 

Ini dia tahap yang bikin Siska dan suaminya dag-dig-dug untuk kedua kalinya. Tiba waktunya untuk appraisal rumah setelah mereka dianggap berpotensi menjadi debitur sesudah dicek kondisi keuangannya dan lolos dari daftar hitam BI checking. [Baca: Aplikasi Kredit Sering Ditolak? Coba Cek Status Blacklist BI Kamu]


Seperti diterangkan sebelumnya, bank akan menyurvei rumah untuk menentukan harga rumah itu. Tahap ini gak ada jika rumah yang dibeli berstatus baru. Sebab pihak bank sudah kerja sama dengan developer untuk menentukan taksiran harga dan plafon KPR buat pembeli rumah itu.
Dalam proses ini, Siska gak ikut serta, cukup petugas bank dan pemilik rumah. Siska cuma diminta membayar biaya appraisal sebesar Rp 450 ribu.

 

Kebetulan bank yang dia pilih untuk mengajukan KPK menetapkan ketentuan bayar appraisal di muka, sehingga ongkos itu bakal hangus kalau nantinya KPR gak disetujui. Beberapa bank lain membebankan biaya ini setelah aplikasi KPR disetujui.

 

Setelah appraisal selesai, pihak bank mengabari Siska bahwa taksiran harga rumah incarannya hanya Rp 400 juta! Dan bank hanya akan meminjamkan 80% x harga apraisal alias 80% x Rp 400 juta=Rp 320 juta.

 

Itu artinya Siska harus menyediakan Rp 180 juta untuk dibayar ke penjual rumah. Plus menyiapkan ongkos KPR yang biasanya 10% dari total pinjaman dari bank.

 

“Untung tabungan gue dan suami gue cukup berkat bonus tahun lalu. Kalau gak, bisa nangis guling-guling,” kata Siska, yang menyarankan tidak memakai kredit tanpa agunan (KTA) buat bayar DP KPR. [Baca: KTA untuk DP KPR? Wow, Mau Bikin Keuangan Berantakan?]


4. Surat perjanjian kredit

rincian biaya KPR (notaris, etc)
Abis dikasi surat perjanjian, baca baik-baik sampai tuntas biar gak salah paham pas KPR udah jalan

 


Setelah tahap appraisal selesai, Siska tinggal menandatangani akad kredit. Tapi pihak bank akan membuat surat perjanjian kredit (SPK) dulu.

 

Sebelumnya dia sudah mendapat ilustrasi pembayaran KPR dari bank yang dia tuju, sehingga kurang-lebih sudah tahu isi SPK itu. Saat melihat SPK itu, yang dia perhatikan adalah:

 

(i) Besar bunga

Dia sengaja memakai bank konvensional, bukan syariah, karena ada fasilitas bunga yang rendah dan tetap selama 2 tahun pertama.

 

(ii) Penalti

Penalti adalah biaya yang dikenakan kalau debitur melunasi sebagian atau seluruh pinjaman sebelum jangka waktu kredit berakhir. Misalnya jangka waktu kredit 15 tahun, dan pada tahun ke-10 debitur mau melunasinya karena sedang ada rezeki. Bank biasanya membebankan penalti sebesar 1% dari sisa pokok kredit.

 

(iii) Rincian biaya KPR

Ini detail apa saja yang harus dibayar pembeli. Baca dengan teliti biar gak ada biaya yang seharusnya dibayar penjual malah pembeli yang melunasi, seperti roya sertifikat dan pajak penjualan.

 

Biaya KPR itu di antaranya:

  • Biaya notaris
  • Biaya provisi
  • Asuransi kebakaran dan jiwa
  • Pajak-pajak

 

(iv) Penunjukan notaris

Notaris yang akan mengurusi legalitas segala dokumen ditunjuk oleh bank atas persetujuan debitur. Jadi misalnya debitur gak cocok dengan notaris karena alasan tertentu, dia bisa minta ganti. Dan beda dengan biaya KPR bank, debitur boleh menawar biaya notaris.

 

“Gue cari notaris yang di deket rumah biar ngurus berkas atau tanda tangan apa-apa gampang, tinggal jalan,” kata Siska.

 

5. Penandatanganan akad

tanda tangan akad kredit
Ni proses yang paling ditunggu-tunggu, tanda tangan akad nikah, eh, kredit

 

 

Setelah bank setuju mencairkan KPR dan Siska juga setuju dengan isi SPK, saatnya menandatangani akad. Siska sebagai pembeli menandatangani dua jenis akad, yakni akad jual-beli (pembeli dan penjual rumah) dan akad kredit (pembeli rumah dan bank pemberi KPR).

 

Dalam penandatangan akad kredit, ada beberapa langkah yang harus ditempuh Siska, yaitu:

 

  1. Melunasi biaya KPR dan notaris.
  2. Meminta penjadwalan penandatangan akad kredit kepada bank dan notaris (lebih cepat lebih baik).
  3. Menyerahkan dokumen yang diperlukan, seperti KTP, KK, dan NPWP ke notaris. Dalam langkah ini penjual juga harus menyerahkan berkas rumah, seperti sertifikat, IMB, PBB yang asli dan fotokopi ke notaris.
  4. Menunggu notaris mengecek keabsahan dokumen-dokumen tersebut.
  5. Menandatangani akad bersama pihak penjual (suami-istri) dan petugas bank di depan notaris. Siska diwajibkan datang bersama suaminya. Sebelum penandatanganan, seluruh pihak wajib menunjukkan KTP dan KK asli. Kemudian notaris akan membacakan hak dan kewajiban pihak-pihak tersebut.

 

Begitu urusan tanda tangan selesai, bank akan mentransfer uang pembelian rumah ke penjual rumah itu. Kemudian notaris akan memproses balik nama sertifikat rumah menjadi atas nama pembeli. Sertifikat itu beserta IMB dan PBB asli akan diberikan ke bank sebagai jaminan KPR.

 

[Baca: Perhatikan Kelengkapan Surat Saat Beli Rumah Bekas Biar Gak Nyesel]

 

Sedangkan Siska dan suaminya pulang dengan tangan hampa dan tatapan kosong. Haishaah.. Gak, Siska tentu saja mendapat kunci rumah. Dia diperbolehkan mengambil fotokopi sertifikat, akta jual-beli, dan IMB ke notaris tiga bulan setelah penandatanganan akad kredit.

 

bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian
Gakpapa ribet sedikit, yang penting impian punya rumah terwujud ya gak?

 

Gimana, cukup panjang kan proses KPR ini? Siska saja langsung merayakan selesainya proses pembelian rumah ini dengan mengambil cuti tiga hari buat berlibur bareng suaminya.

 

“Lumayan stres gue, tapi juga bahagia, puas, bangga, campur-campur deh. Yang penting tahu dulu seputar KPR biar pas ngajuin gak plonga-plongo atau malah kena tipu,” kata Siska.


[Baca: Tahapan dan Cara Mengajukan KPR, Lengkap Sampai Tandatangan Akad]

 

 

 

Image credit:

  • http://blog.propertykita.com/wp-content/uploads/2014/02/1.-Tips-Negosiasi-Property-2.jpg
  • http://www.wasatchcredit.com/images/thumb/appointment-loan-officer.jpg
  • http://img.lensaindonesia.com/uploads/1/2013/10/10338-bjb-licom-1-bank-gebrak-triwulan-iii-2013-raih-laba-rp1.1-triliun.jpg
  • http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/05/28/1788565_20130528015354.jpg
  • https://amararesidence.files.wordpress.com/2012/06/penandatanganan-akad-kredit-dg-bank-panin-dihadapan-notaris.jpg
  • http://www.katamami.com/blog/wp-content/uploads/2015/02/berakit_rakit_ke_hulu.jpg

Tags: ,

Masih banyak lagi dari duitpintar.com