Hanindia Narendrata, CMO Telunjuk.com: Modal Nekat yang Menelurkan Bisnis Sukses

by bunga 880 views0

menelurkan bisnis sukses

Banyaknya e-commerce yang bertebaran di Internet, kadang membuat kita kerepotan sendiri dalam memilih produk. Jika salah langkah, bisa jadi kita tidak membeli produk dengan harga terbaik di toko terbaik.

Beruntung, ada Hanindia Narendrata Rahiesa. Berkat ide sederhana bersama rekannya, Redya Febriyanto, lahirlah Telunjuk.com yang membantu jiwa-jiwa tersesat dalam memilih jutaan produk yang dipasarkan lewat dunia maya.

Buat kamu yang belum tahu, Telunjuk adalah mesin pencari yang khusus dibuat untuk mempermudah aktivitas belanja para pengguna Internet. Berdiri sejak 2011, situs ini dapat membantu kamu menemukan produk yang paling sesuai dengan kebutuhanmu dari ratusan toko online yang tersebar di Indonesia.

Nah, Hanindia atau yang kerap disapa Drata, merupakan salah satu sosok kunci yang membuat kamu bisa menikmati kemudahan tersebut.

Tapi perjuangan Co-founder Telunjuk yang kini menjabat sebagai Chief Marketing Officer (CMO) ini juga bukannya tanpa rintangan. Perjalanannya ibarat perjuangan Tong Sam Chong dalam mengambil kitab suci ke barat: penuh cobaan.

menelurkan bisnis sukses
Keren ya, masih muda dan sukses! (foto bareng disebuah acara / dailysocial)

Mau tahu sepak terjang Drata sebelum sukses dengan Telunjuk seperti saat ini? DuitPintar.com cukup beruntung mendapat kesempatan untuk berbincang eksklusif dengan sosok yang humoris ini beberapa waktu lalu. Simak ya!

Sebelum mendirikan Telunjuk, boleh cerita sedikit mengenai profesi Anda sebelumnya?

Sebelum membuat Telunjuk, saya bekerja di perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia. Saya masuk tahun 2008, dan ditempatkan di Divisi Business Development. Di sini jugalah saya bertemu dengan Redya, yang akhirnya menjadi partner saya di Telunjuk.

Pekerjaan saya saat itu adalah menganalisis dan melakukan riset untuk tren startup lokal. Jadi saya sering menghadiri seminar dan workshop soal startup. Inilah yang menjadi bekal awal saya dalam mendirikan Telunjuk kemudian.

Gimana ceritanya ide bisnis tersebut muncul?

Jadi, waktu itu Redya mau beli laptop via online. Dan tiba-tiba dia bilang sama saya, “Liat ni, gue bisa cari laptop yang harganya paling murah.”

Dan benar saja, dari beberapa toko online yang menjual laptop waktu itu, Redya bisa merangkum semua produk laptop yang ada dalam satu layar. Jadi kita bisa langsung lihat mana toko yang jual laptop tipe A dengan harga paling miring. Dari sinilah saya mencetuskan ide untuk menjadikannya sebagai bisnis.

Jadi setelah itu langsung resign?

Belum. Kebetulan banget, gak lama setelahnya kami lihat soal Project Eden, program akselerator untuk startup-startup lokal. Tiga pemenangnya nanti akan dapat dana untuk pengembangan produk. Dan memang sudah rezeki, kami pun termasuk ke dalam tiga pemenang itu.

Sekitar Oktober 2011 kami deal dengan mereka, dan saat itulah kami berdua langsung mengajukan surat pengunduran diri.

Ketika resign, apa ada keraguan, baik dari diri sendiri maupun orang-orang di sekitar?

Jelas, terutama dari keluarga. Karena pekerjaan saya waktu itu sebenarnya sudah settle banget. Tunjangan besar, asuransi ada, bahkan biaya pendidikan sampai anak ketiga pun disediakan.

Orangtua saya tentu ada kekhawatiran apakah keputusan ini tepat. Apalagi, istri saya waktu itu baru melahirkan anak pertama. Tapi, melihat tekad saya sudah bulat, akhirnya mereka pun support.

menelurkan bisnis sukses
Butuh tekad yang kuat dan dukungan orang-orang tercinta buat sukses! (Hanindia Narendrata Rahiesa / dailysocial)

Saya melihat kalau saya berkarier di perusahaan ini, memang masa depan saya dan keluarga bakal sangat terjamin. Tapi di sisi lain, saya tidak akan merasa puas karena merasa tidak memberikan kontribusi yang signifikan. Sebab, perusahaan ini sudah besar banget.

Dengan fokus membesarkan Telunjuk, saya merasa lebih memiliki pencapaian. Karena bisa berusaha sendiri untuk sesuatu yang saya suka dan percayai.

Bagaimana proses pengembangan Telunjuk setelah Project Eden?

Project Eden langsung memberikan modal awal ke kami untuk empat bulan. Pokoknya harus cukup. Itu semua kami fokuskan untuk pengembangan produk. Saya sama Redya “gajian” ya secukupnya saja. Kami juga hire cuma satu freelance untuk bagian desain.

Akhirnya Februari 2012 kami berhasil launching Telunjuk pertama kalinya untuk publik. Nah, bodohnya saya, waktu itu saya belum tahu kalau selanjutnya Telunjuk masih perlu pendanaan lagi dari investor untuk fase pengembangan berikutnya.

Jadi, terbayang bagaimana saya setelah launching itu langsung kocar-kacir. Ibaratnya, Telunjuk ini belum punya pemasukan loh. Dan saya juga sudah berkeluarga. Jadi benar-benar harus putar otak.

Jadi waktu itu kondisinya sulit banget ya?

Iya. Bisa dibilang itu masa-masa tersuram. Saldo di rekening juga sudah menipis terus. Hahaha. Untuk tempat kerja saja, kami bisa dapat karena kebaikan orang yang gak minta bayaran. Jadi kami bisa kerja di co-working space gratis selama berbulan-bulan.

Perjalanan mencari investor ini ternyata gak gampang. Saya ketemu sampai puluhan investor untuk menawarkan Telunjuk. Ada yang nolak dan bilang kalau konsep bisnis kami gak akan berhasil. Ada yang tertarik, tapi kami kurang cocok. Wah, pokoknya berat lah.

Lalu bagaimana sampai akhirnya menemukan investor yang tepat?

Waktu itu ada potential investor yang kami approach. Meskipun mereka kurang tertarik, mereka merekomendasikan nama kami ke Venture Republic Inc. yang merupakan perusahaan asal Jepang yang fokus dalam pengembangan search engine.

Akhirnya kami ketemu, ngobrol, dan akhirnya mereka bersedia untuk investasi. Telunjuk ini menjadi perusahaan pertama di Asia yang mereka danai.

Boleh share sedikit soal perkembangan Telunjuk setelah lima tahun berjalan?

menelurkan bisnis sukses
Kalau masih penasaran coba klik langsung deh! (iklan promo telunjuk.com / facetofeet)

Sekarang jumlah visitors kami sudah mencapai 5 juta per bulan. Kalau dari sisi SDM, sekarang karyawan kami sudah 16 orang, dari awalnya hanya saya dan Redya.

Sementara itu, produk yang ada dalam website kami sudah sekitar 12 juta produk dari 50-an brand toko online di Indonesia. Produknya pun sudah merambah ke fashion sampai servis, dari yang tadinya hanya laptop, gadget, dan tiket pesawat.

Pengalaman atau pelajaran apa yang paling Anda ingat selama membesarkan Telunjuk?

Soal kepemimpinan. Karena di Telunjuk, saya baru sadar kalau saya ini dinilai sebagai pemimpin yang otoriter, kaku, dan tidak mau mendengar pendapat karyawan. Jadi sekarang saya belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Saya menyebutnya empathetic listening.

Adakah pesan yang bisa Anda sampaikan untuk pembaca DuitPintar.com yang ingin mendirikan bisnis startup?

Yang paling penting adalah kenali dulu siapa dirimu dan apa yang ingin kamu lakukan. Jangan sampai kamu membuat bisnis yang tidak sesuai dengan passion kamu. Setelah itu baru cocokkan dengan pasarnya. Lihat potensinya, dan tentukan siapa target utamanya.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com