Ini Nih 5 Tipe Pekerja Kantoran yang Rawan Dipecat dari Pekerjaan

by Hardian 345 views0

untuk jam 6 blog

Jadi pekerja harus betul-betul serius agar gak dipecat dari pekerjaan yang digeluti. Serius di sini artinya mengerjakan semua tugas yang diberikan, juga bersikap baik di perusahaan.

Jangan kira cuma kinerja yang buruk yang membuat kita bisa dipecat. Etika yang jauh dari norma juga bisa bikin kita kelimpungan cari pekerjaan baru lantaran kena pemutusan hubungan kerja.

Gak mau kan kena nasib sial kayak gitu? Siapa sih yang mau dipecat?

Masalahnya, banyak yang gak sadar bahwa dirinya adalah tipe pekerja yang rawan dipecat perusahaan. Atau setidaknya susah maju kariernya. Disangkanya oke-oke saja, ternyata karakternya gak disukai oleh perusahaan.

Berikut ini 5 tipe pekerja yang rawan dipecat dari pekerjaan. Yuk ditonton videonya, dan jangan lupa subscribe di channel YouTube DuitPintar ya!

1. Tipe robot

Tahu kan bagaimana cara robot bertindak? Semuanya serba sesuai dengan pengaturan. Kalau diprogram jalan ke depan, ya dia jalan maju meski di depannya ada lubang.

Gak ada inisiatif, gak ada motivasi, gak ada rencana dan gagasan. Biasanya, pekerja yang kayak gini merasa kerja sebagai rutinitas biasa. Yang penting masuk, ngerjain tugas, istirahat makan siang, pulang.

Saat meeting, diem aja kayak patung. Baru ngomong kalau ditanya. Bisa-bisa disuruh kemas-kemas barang lalu pulang gak balik lagi juga nurut aja.

[Baca: 7 Jenis Pekerja yang Bakal Aman dari Ancaman PHK]

2. Tipe pahlawan kesiangan

Tipe yang satu ini kebalikan dari tipe robot. Pahlawan kesiangan rela melakukan apa pun demi si bos.

Kata “bos” di sini perlu ditekankan. Semestinya, pekerja bekerja buat perusahaan. Kalau fokusnya adalah bos, jatuhnya malah mungkin jadi penjilat.

Bos mungkin awalnya suka, tapi lama-lama bisa risih dan menganggapnya pahlawan kesiangan yang mau terlihat menonjol. Selanjutnya, tahu sendiri akibatnya. Jangan heran kalau akhirnya dipecat dari pekerjaan.

3. Tipe hantu

Nah, kalau yang ini mirip dengan tipe robot. Bedanya, pekerja tipe hantu maunya gak kelihatan di tempat kerja.

Jarang bertegur sapa, kalau makan siang sendirian. Kalau sikapnya begitu, bagaimana bisa dinilai kinerjanya dalam soal kerja sama?

Jangankan kerja sama, penginnya malah buru-buru pulang. Lama-lama malah diantar ke pintu keluar sama bos, tapi gak boleh balik lagi.

[Baca: 5 Mindset Karyawan Tentang Karir dan Keuangan yang Wajib Dihindari]

4. Tipe badut

Kerja tanpa lelucon bakal seperti sayur sop tanpa garam. Hambar. Tapi kalau sop kebanyakan garam juga gak enak lho.

Itulah yang mesti diperhatikan pekerja tipe badut, atau yang sukanya bercanda melulu di kantor. Boleh saja hobi bergurau dan iseng, tapi harus tahu sikon.

Pekerjaan mesti sering-sering tuntas dengan hasil memuaskan. Selain itu, lihat situasi saat mau jail. Kalau pas meeting serius tapi malah jadi badut, malah dipanggilkan Pak Tarno disuruh ikut main sulap nanti.

5. Tipe lemot

Betul, belajar itu gak kenal waktu dan tempat. Tapi orang gak bisa selamanya jadi pelajar. Suatu saat pasti harus lulus dan justru membagikan pengetahuan yang ia punya ke orang lain.

Masalahnya, ada pekerja tipe lemot yang kompetensinya mentok di satu titik doang. Bilangnya masih belajar, padahal sudah lima tahun kerja di bagian itu.

Di kampus, mahasiswa yang gak lulus-lulus sampai semester 12 aja bisa dikeluarkan. Apalagi pekerja tipe lemot yang alasannya “belajar” melulu. Wajar kalau suatu saat nanti dipecat dari pekerjaan.

Semoga kamu bukan tipe pekerja seperti yang disebutkan di atas ya. Jangan sampai deh.

Kalau melihat ada kawan atau keluarga yang tampaknya seperti itu, sebaiknya diingatkan baik-baik. Tunjukkan kepedulian, tapi jangan bersikap menggurui. Misalnya dengan membagikan artikel ini di Facebook atau Twitter, berharap dibaca orang itu.

Tapi, kalau kamu bos di tempat kerja, bisa lebih frontal mengingatkan pekerja dengan menunjukkan artikel ini. Dengan catatan, kamu setuju bahwa lima tipe pekerja itulah yang rawan dipecat perusahaan.

[Baca: Gak Usah Mimpi Jadi Bos Deh Kalau Masih Punya 7 Mental Ini]

Tags:

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com