Investasi Reksa Dana Pasar Uang Cocok Buat Investor Pemula yang Kebelet Pengin Duit Beranak-pinak

by DuitPintar 5.502 views0

investasi reksa dana pasar uang
 Artikel Ini adalah Hasil Kerjasama DuitPintar.com dan Mitra Perencana Keuangan Kami, Finansialku.com

logo finansialku

 

Yang bilang investasi risikonya tinggi dan ribet, pasti belum kenal dengan reksa dana. Jika mau diklasifikasikan, reksa dana termasuk kategori instrumen investasi buat pemula.

 

Belajar investasi reksa dana saham relatif gampang. Terutama kalau dibandingkan dengan bermain saham langsung di bursa efek.

 

[Baca: Untuk Pemula, Begini Lah Cara Kerja Investasi Reksa Dana dan Simulasinya Secara Sederhana]

 

Salah satu jenis reksa dana yang ramah buat kalangan newbie alias yang baru mau belajar investasi yakni reksa dana pasar uang. Reksa dana jenis ini punya risiko yang sangat rendah dibanding jenis reksa dana lain.

 

Orang sering bingung apakah mau memilih reksa dana pasar uang atau deposito. Sebab keduanya bisa dibilang kayak Sinta dan Santi, mirip-mirip gitu walau ada perbedaan yang mencolok.

 

Investasi reksa dana pasar uang kecil risikonya, tapi potensi return atau imbal hasilnya lebih besar ketimbang deposito. Padahal sebagian besar duit yang kita tanam di jenis reksa dana ini diolah dalam bentuk deposito.

 

Lah, terus bagaimana bisa keuntungannya lebih besar ketimbang deposito? Apa yang bikin berbeda imbal hasilnya?

 

Pertama-tama, mari kita kenalan dulu dengan yang namanya investasi reksa dana pasar uang. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, reksa dana pasar uang adalah reksa dana yang berfokus pada investasi produk-produk di pasar uang.

 

Produk di pasar uang antara lain:

  • surat perbendaharaan negara,
  • sertifikat Bank Indonesia,
  • dan deposito.

 

Surat-surat berharga jadi barang investasi di reksa dana ini. Surat cinta zaman gak ada hape gak termasuk.

 

 

Pokoknya, produk itu memiliki jatuh tempo yang singkat, yakni kurang dari satu tahun. Karena itulah reksa dana ini sering direkomendasikan buat investor pemula.

 

Perbandingan Reksa Dana Pasar Uang dengan Deposito

Salah satu hal yang sangat berbeda antara reksa dana pasar uang dan deposito yaitu mekanisme perolehan hasil investasi. Kalau punya deposito, imbal hasil kita peroleh satu kali dalam sebulan secara berkala sampai periode investasi berakhir (biasanya 1, 3, 6 bulan, atau 1 tahun).

 

Sedangkan jika kita bermain reksa dana pasar uang, imbal hasil bisa diperoleh setiap saat berdasarkan kenaikan nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/UP). Bah, apa pula ini NAB/UP? Gampangnya, NAB/UP adalah harga suatu reksa dana.

 

Mari kita lihat langsung contoh penggunaan NAB/UP dalam simulasi mekanisme perolehan hasil investasi reksa dana pasar uang berikut ini biar lebih jelas:

 

Misalnya Pak Anton beli reksa dana pasar uang di PT ABC  pada 12 Maret 2015 dengan nilai Rp 1 juta. Saat itu NAB/UP reksa dana itu Rp 1.000. Itu artinya Pak Anton punya unit reksa dana sejumlah 1.000.000/1.000= 1.000 UP.

 

Lalu pada 13 Juni Pak Anton membutuhkan dana, sehingga menjual seluruh UP tersebut. Kebetulan NAB/UP saat itu Rp 1.200. Dengan demikian, imbal hasil investasi reksa dana pasar uang yang didapat Pak Anton sebesar 1.000 X 1.200= 1.200.000.

 

Berarti dari duit investasi awal sebesar Rp 1 juta, Pak Anton memperoleh return Rp 200 ribu (Rp 1.200.000-Rp 1.000.000). Kalau dana investasinya lebih besar, tinggal kalikan saja.

 

Kita bisa membeli atau menjual UP kapan saja kita mau. Rumusnya simpel saja:

  • Kalau NAB/UP tinggi, kita bisa menjual biar dapat keuntungan.
  • Kalau NAB/UP rendah, kita bisa membeli, tapi dengan pertimbangan bahwa NAB/UP itu gak terus merosot.

 

 

Tahu kepanjangan NAB/UP? Harus tahu dulu, baru deh terjun ke investasi reksa dana 

 

 

Adapun soal turun-naiknya NAB/UP antara lain dipengaruhi kondisi politik dan ekonomi suatu negara. Ribet? Tenang saja, kita bakal dibantu manajer investasi dalam pengelolaannya. Tinggal jalan ke bank atau perusahaan manajer investasi buat cari tahu sekaligus memulai investasi yang simpel buat pemula ini.

 

Jadi, kita udah serasa bos yang punya karyawan buat mengelola dana investasi kita. Bahkan kita juga bisa sekalian belajar investasi reksa dana dari manajer investasi itu. [Baca: 6 Cara Memilih Manajer Investasi buat yang Mau Terjun ke Reksa Dana]

 

Nah, sedangkan kalau tanam duit di deposito, hasil investasinya ya tergantung besar bunga yang ditetapkan bank. Udah tetap gitu, jadi peluang kita untuk memperbesar hasil investasi lebih terbatas.

 

Satu-satunya cara menambah return, yaaa, top up atau menambah duit yang ditanam di deposito biar hasil dari bunga tambah besar. Selain itu, dana awal investasi di deposito lebih besar daripada reksa dana, yaitu rata-rata Rp 10 juta.

 

Kalau di reksa dana, duit Rp 100 ribu juga bisa dipakai buat investasi. [Baca: 8 Tempat Beli Reksa Dana 100 Ribu Rupiah yang Bisa Jadi Investasi Pertama]

 

Tapi, meski imbal hasil reksa dana pasar uang lebih besar daripada deposito, risikonya juga besar. Harus diingat bahwa dalam dunia investasi, kalau mengharapkan imbal yang besar, kita juga harus siap menghadapi risiko yang besar pula.

 

Kalau imbal segunung tapi risiko seiprit, malah bisa dicurigai itu investasi abal-abal. [Baca: Awas, Bisnis Investasi yang Menipu Ada Di Mana-mana]

 

Kalau risiko rendah, return tinggi, semua orang bisa kaya dengan mudah, pemerintah gak perlu pusing mikirin APBN

 

 

Kesimpulannya, kalau pingin mendapat keuntungan yang lebih besar tapi berani mengambil risiko, pilih investasi reksa dana pasar uang. Kalau mau yang aman-aman saja, deposito pilihannya. Mana yang paling pas, hanya kamu yang bisa menentukan dengan melihat profil pribadi.

 

 

 

Image credit:

  • http://cdn.tmpo.co/data/2013/08/23/id_212656/212656_650.jpg
  • http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/9009/big/reksadana121218b.jpg
  • http://www.tdcanadatrust.com/images/rsi/Mutual-Funds-Risk-Chart-1-EN.jpg

Tags:

Masih banyak lagi dari duitpintar.com