Jangan Ngeyel! Ini 5 Alasan Melarang Anak yang Masih di Bawah Umur untuk Mengemudi

by Hardian 345 views0

melarang anak di bawah umur untuk mengemudi

Sebagian orangtua mungkin bangga ketika melihat anaknya yang baru SMA, bahkan SMP, bisa mengemudi sendiri. Bukan hanya sepeda motor, mobil pun bisa dikemudikan dengan lancar.

Tapi pemerintah bukannya tanpa alasan bikin aturan yang melarang anak di bawah umur mengemudi lho.

Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, usia minimal pemohon surat izin mengemudi (SIM) adalah 16 tahun untuk SIM C dan 17 tahun untuk SIM A.

Jadi, seorang anak berusia 15 tahun mustahil mengantongi SIM, kecuali nembak pakai calo dengan memalsukan usianya. Dengan kata lain, membiarkan anak di bawah umur mengemudi ya berarti menjerumuskan mereka ke jerat hukum.

melarang anak di bawah umur untuk mengemudi
Masih ingat peristiwa tabrakan maut yang melibatkan putra Ahmad Dhani, Dul? Tentu gak mau kan hal ini terjadi untuk yang kesekian kalinya (Putra Ahmad Dhani terlibat kecelakaan/Suara Pembaharuan)

Tapi gimana dong kalau gak sempet antar-jemput anak sekolah sehingga terpaksa memberikan kendaraan ke mereka? Ah, itu kan alasan saja. Masih bisa pakai angkutan umum, kan?

Atau mungkin pakai jasa antar-jemput? Biarpun mungkin lebih mahal di ongkos, keamanan anak lebih terjamin.

Berikut ini penjelasan lebih komplet mengenai lima alasan melarang anak yang masih di bawah umur untuk mengemudi:

1. Belum punya SIM

Sudah sedikit disinggung di atas, anak yang belum punya SIM seharusnya dilarang mengemudi kendaraan sendiri. Bila terkena razia, pasti berurusan dengan hukum.

Selain itu, bila terlibat kecelakaan, posisi anak lebih lemah lantaran gak punya SIM. Meski sebenarnya gak salah, dia bisa tersudut karena mengemudi tanpa izin.

2. Mental belum cukup

Salah satu alasan penerapan batas usia pemohon SIM adalah pertimbangan mental. Anak remaja usia 16-17 tahun dianggap sudah memiliki mental yang lebih matang ketimbang anak usia 13 tahun, misalnya.

Jika berkendara tanpa mental yang mumpuni, konsentrasi rentan terganggu. Misalnya baru putus dengan pacar, lalu naik motor ngebut karena galau. Akhirnya tabrakan.

Atau main kebut-kebutan di jalan tanpa memikirkan keselamatan diri dan orang lain. Hal inilah yang diharapkan bisa dicegah jika pemilik SIM sudah berusia 16 tahun ke atas.

3. Fisik belum cukup

Gak hanya mental, fisik pun berpengaruh. Ini terutama buat anak-anak usia bawah, seperti SMP dan SD.

Melarang Anak yang Masih di Bawah Umur untuk Mengemudi
Nginjek pedal aja susah, gimana mau nyetir (bayi/drivetofive)

Kaki yang belum cukup panjang untuk menginjak pedal rem dan gigi motor, misalnya, bisa membahayakan diri dan orang lain. Belum lagi ketika berhenti karena lampu merah, kaki harus turun dulu ke aspal. Jadi malah repot mau berkendara.

4. Orangtua ikut repot

Berhubungan dengan poin pertama, ketika anak ditilang, orangtua pasti ikut repot. Bayar denda, pasti.

Yang lebih parah, anak ikut balap liar dan ditangkap. Kita selaku orangtua jadi harus ke markas kepolisian untuk mengurus pemulangannya. Bukan hanya denda yang jadi beban, rasa malu pun pasti ada.

5. Gak bisa klaim asuransi

Bila terlibat kecelakaan, biaya pengobatan anak gak bisa diklaim ke perusahaan asuransi. Sebab, si anak semestinya belum boleh mengemudi.

Melarang Anak yang Masih di Bawah Umur untuk Mengemudi
Klaim ditolak, ya sudah pakai duit pribadi deh untuk bayar kerugiannya (ditolak/1life)

Dia melanggar ketentuan yang berlaku untuk pengurusan klaim. Walhasil, ongkos jadi tanggungan pribadi. Bila cuma lecet mungkin gak seberapa, tapi kalau sampai operasi?

Ini juga berlaku buat asuransi kendaraan yang dipakai. Kalau ketahuan oleh pihak asuransi bahwa yang mengemudi adalah anak di bawah umur, jangan harap kerusakan yang timbul bisa diganti. Jadi keluar biaya dobel deh, buat pengobatan anak dan juga buat benerin kendaraan. Boncos!

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa kita mesti tegas dan keras melarang anak di bawah umur untuk mengemudi. Selain membahayakan jiwa, hal itu membuat kesehatan finansial terancam.

Niatnya memberikan motor agar ngirit ongkos transportasi sekolah anak, eh malah nombok karena kecelakaan. Mending cari aman saja. Ikuti ketentuan yang berlaku agar gak terkena masalah di kemudian hari.

CTA Asuransi Kendaraan

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Menyekolahkan Anak di Sekolah Alam, Ketahui Dulu Untung-Ruginya]

[Baca: Pilih Asuransi Kecelakaan yang Pas dengan Cara Ini]

[Baca: Anak Selalu Juara Kelas? Gak Jaminan Dia Pasti Sukses Lho]

[Baca: Perpanjangan SIM Online, Bagaimana dan Berapa Biayanya]

 

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com