Kalau Masih Didik Anak Kayak Gini, Susah Kuliahin Anak di Luar Negeri

by Hardian 944 views0

kuliahin anak di luar negeri

Pendidikan anak adalah segalanya  buat orang tua. Dari TK sampai kuliah, semua dipersiapkan. Bahkan kalau bisa kuliahin anak di luar negeri.

Bisa dibilang kuliahin anak sampai ke luar negeri adalah impian tiap orang tua. Terutama orang tua yang berasal dari kalangan berada.

Namun uang saja tidak cukup untuk memastikan anak bisa lancar kuliah di negeri orang. Yang juga mesti diperhatikan adalah pendidikan buat sang anak, khususnya tentang keuangan.

Ketika melepas anak kuliah jauh dari rumah, terlebih luar negeri, ada tanggung jawab yang mereka pikul sendiri: mengatur keuangan. Bisa saja kita sebagai orang tua kirim duit berjuta-juta tiap bulan.

kuliahin anak di luar negeri
Siapa yang gak bangga kalau anak kuliah di luar negeri dan berprestasi (Kuliah / Blogspot)

Namun bukan mustahil pula duit itu ludes dalam sekejap, sebelum tiba akhir bulan. Tentunya kita gak mau hal ini terjadi.

Karena itu, mari kita merefleksikan cara mendidik anak di keluarga. Kalau masih didik anak kayak gini, susah kuliahin anak di luar negeri!

1. Uang saku berlebihan

Ngasih uang saku ke anak sebaiknya secukupnya. Harus dihitung betul kira-kira berapa pengeluaran anak per hari, per minggu, atau per bulan.

Misalnya anak masih SD dan diantar-jemput. Bisa jadi anak gak perlu uang saku. Untuk makan, bisa dibuatkan di rumah untuk dibawa ke sekolah.

Atau memberikan uang saku, tapi untuk ditabung. Sediakan celengan khusus tabungan buat dia, bilang nanti kalau sudah penuh bebas uangnya mau dipakai buat beli apa. Pasti dia bersemangat.

2. Royal ngasih hadiah

Anak berprestasi di sekolah atau bidang lainnya, jelas senang. Tapi terlalu royal memberikan hadiah ke anak tidak disarankan. Apalagi jika prestasi itu gak terlalu spesial, misalnya mendapat nilai 100 dalam tugas.

kuliahin anak di luar negeri
Sayang anak bukan berarti beliin mobil dong ah! (Mobil Mewah / Malesbanget)

Atau yang lebih parah, mau merapikan tempat tidur atau menyapu lantai di rumah. Akan lebih baik bila hadiah itu dialokasikan ke momen puncak, yakni kenaikan kelas.

Berikan reward khusus saat dia bisa menduduki peringkat atas. Kalau bisa, beberkan jenis hadiah tersebut sebelumnya. Jadi, dia punya motivasi mengejar prestasi, meski nilai di rapor memang bukan segalanya.

[Baca: Cara Cerdas Investasi Emas untuk Pendidikan Anak]

3. Meremehkan anak

Anak mestinya diajari untuk mandiri. Bukan selalu diberi uluran tangan. Jika kebanyakan dibantu, bisa-bisa dia terus mengharapkan bantuan orang lain, termasuk saat kuliah di luar negeri nanti.

Tidak bijak jika kita meremehkan kemampuan anak untuk mandiri. Saat mampu melakukan sesuatu dengan kemampuan diri, akan timbul perasaan bangga pada diri mereka.

Perasaan itu akan membentuk kebiasaan mandiri. Siapa yang gak mau merasa bangga akan kemampuan diri sendiri, betul gak?

4. Jadi Doraemon

Tahu dong, tokoh kartun Doraemon. Robot kucing itu mengabulkan apa pun permintaan Nobita.

Kelihatannya memang baik, tapi ada risiko yang mengancam. Saat kita memberikan apapun yang diinginkan anak, dia akan merasa sangat kecewa jika kelak ada keinginannya yang gak terpenuhi.

Gak semua keinginan orang bisa dipenuhi, kan? Gak perlu ragu menggelengkan kepala jika anak meminta sesuatu yang dirasa gak perlu.

kuliahin anak di luar negeri
Kalau semua diturutin lama-lama jadi manja deh (Anak Manja / Kesekolah)

Tapi jangan lupa memberikan penjelasan kenapa permintaan itu belum bisa dipenuhi. Malah mungkin bisa memanfaatkannya untuk mengajari anak menabung buat mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

5. Tidak menanyakan uang dipakai buat apa

Saat memberikan uang saku, anak juga mestinya sekaligus diberi tanggung jawab untuk melaporkan apa yang ia beli dari uang itu. Ini berguna untuk mengingatkan anak bahwa mencatat pengeluaran itu penting.

Selain itu, kita bisa sekalian mengajarkan anak untuk jujur. Ingatkan bahwa uang saku yang kita berikan itu adalah hasil jerih payah, bukan datang dari langit.

Itu sebabnya, harus diperhatikan betul penggunaannya. Pengeluaran mesti berguna buat diri sendiri, bukan habis sia-sia.

[Baca: Tips Kasih Pendidikan Keuangan Buat Anak Generasi Milenial]

Lima poin di atas mungkin belum cukup untuk memastikan anak bisa hidup mengelola keuangan sendiri di luar negeri. Tapi setidaknya kelima poin tersebut bisa dijadikan bahan refleksi jika memang berencana kuliahin anak di luar negeri.

Jangan lupa, persiapkan juga biaya kuliah itu. Penghasilan besar saat ini gak lantas memastikan ongkos kuliah bakal terbayar kelak.

Harus ada rencana keuangan yang disusun untuk menyokong niat baik itu. Sudah punya rencana itu? Kalau belum, gak ada kata terlambat untuk memulainya. Yuk, kita siapkan semuanya dari sekarang.

[Baca: Mendidik Anak untuk Disiplin Gak Perlu Boros, Loh!]

Tags:

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com