Ketika Anak Harus Masuk Universitas Swasta dan Dana Pendidikan Kurang, Apa yang Harus Dilakukan?

by Tifanny 791 views0

Dana Pendidikan Kurang

Buat para orangtua yang anaknya sudah lulus dari Sekolah Menengah Atas, selamat ya! Akhirnya anak-anak kita mulai beranjak dewasa nih.

Tapi tunggu dulu. Belum bisa langsung tenang dan lega, karena tugas orangtua belumlah selesai.

Setelah bertahun-tahun berjuang membiayai dan mengawasi kegiatan belajar-mengajar anak kita di bangku sekolah, kini perguruan tinggi telah menunggu. Nah ini nih, biasanya urusan mencari perguruan tinggi dan jurusan studi yang tepat bukanlah hal yang mudah.

Bisa dibilang ini merupakan salah satu elemen penting yang menentukan masa depan buah hati. Jika salah memilih, gak hanya waktu, pikiran, dan energi yang bakal terbuang sia-sia, tapi juga uang. Sudah bukan rahasia lagi kalau perguruan tinggi butuh biaya yang besar, kan?

Perguruan tinggi negeri memang jadi incaran. Selain kualitas dan status yang lebih diakui, biaya perkuliahannya tentu jauh lebih ringan dibandingkan swasta. Tapi tahu sendiri kan kalau untuk bisa mengecap pendidikan di universitas negeri harus melalui persaingan yang ketat.

Kalau anak kita diterima di universitas negeri, mungkin biaya gak terlalu membebani pengeluaran orangtua. Tapi bagaimana kalau nasib bicara lain?

dana pendidikan kurang
Bisa masuk universitas negeri siapa yang nolak, ya kan! (Universitas Indonesia / tribunnews)


Jangan patah arang dulu. Buat anak, pasti apapun ada jalannya. Ketika sudah menabung biaya kuliah untuk perguruan tinggi negeri, bukan berarti semua jalan tertutup saat anak ternyata tidak lolos ujian masuk.

Berikut ini beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan ketika anakmu gagal masuk perguruan tinggi negeri yang diinginkan:

1. Cari perguruan tinggi swasta yang sesuai bujet

Saat impian kuliah di perguruan tinggi negeri gak terwujud, dampingi dan beri pengertian ke anak bahwa dunia belum berakhir. Mengalihkan rencana kuliah dari negeri ke swasta bukanlah hal yang memalukan. Berikan pengertian ini agar anak bisa berbesar hati dan tetap mau kuliah.

Nah, tentu saja tugas orangtua bakal berat karena harus mencari dan memilah perguruan tinggi swasta yang sesuai dengan bujet. Apalagi jika sejak awal memang hanya mempersiapkan dana untuk kuliah di universitas negeri. Tapi percaya deh, pasti ada jalannya kok kalau mau berusaha.

2. Kursus setahun dan mencoba ikut ujian lagi tahun depan

Jika anak masih ngotot ingin masuk perguruan tinggi negeri pilihannya, dukung saja. Kursuskan saja anakmu selama setahun untuk mempersiapkan diri mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun depan.

Selain mengikuti kursus, kamu juga bisa mendorongnya untuk menambah ilmu dan kemampuan sesuai minat dan bakatnya. Misalnya jika anak tertarik dengan hal-hal yang berbau teknologi, daftarkan saja dia ikut kursus programmer atau belajar coding. Penantian setahun pasti bakal lebih bermanfaat.

dana pendidikan kurang
Ikut kursus gak malu-maluin lho, malah bisa nambah ilmu kan! (Kursus Komputer / babastudio)

3. Manfaatin waktu setahun buat mulai belajar magang atau kerja

Alternatif lain yang bisa dipilih adalah mencoba belajar kerja atau magang. Atau mungkin bisa cari kerja dengan menggunakan ijazah sementara. Gak ada salahnya anak dididik buat mulai mandiri dan merasakan susahnya menghasilkan uang sendiri.

Mereka akan memperoleh banyak ilmu bermanfaat yang mungkin gak bisa diperoleh di bangku sekolah atau perguruan tinggi, yaitu pengalaman. Selain itu mental mereka juga akan jadi lebih kuat dan gak manja.

Tiga alternatif di atas bisa dijadikan pilihan kalau anak mau menunda kuliah untuk masuk perguruan tinggi negeri favoritnya.

Tapi bagaimana kalau sang anak tetap ngotot untuk kuliah dan punya pilihan universitas swasta yang di luar bujet? Apalagi kalau anak kita itu memang memperlihatkan minat yang sangat kuat buat kuliah. Kira-kira bisa cari dana tambahan dari mana? Nah, opsi di bawah ini bisa dipertimbangkan:

1. Pinjam KTA

Solusi pertama, kenapa gak coba mengajukan fasilitas Kredit Tanpa Agunan alias KTA di bank? Kalau orangtua masih berstatus karyawan tetap sebuah perusahaan, biasanya bakal mempermudah proses pengajuan.

Hanya saja karena produk KTA itu sendiri banyak, orangtua harus jeli membandingkan satu dengan yang lain. Mulai dari jumlah pinjaman, bunga per tahun, biaya-biaya lain, hingga tenor pinjaman.

dana pendidikan kurang
Pilih KTA sebagai solusi dana pendidikan gak apa-apa ko, tapi pilih yang terbaik ya! (KTA / suratkabar)

Kalkulasikan dulu, agar setiap bulannya siap bayar cicilan. Ingat, KTA kan pinjaman, jadi harus ada komitmen tinggi buat melunasinya.

Misalnya coba pertimbangkan buat ambil fasilitas KTA yang bunganya ringan, seperti DBS dan Standard Chartered. DBS menawarkan bunga KTA mulai dari 0,95 persen per bulan, sedangkan Standard Chartered memiliki KTA dengan bunga mulai dari 0,98 persen per bulan.

2. Jual aset berharga

Pilihan lain adalah dengan melihat apakah ada aset yang cukup berharga yang jika dijual bisa menambah biaya kuliah anak. Aset ini bisa emas, mobil, atau mungkin properti warisan yang belum dimanfaatkan.

Aset-aset seperti ini punya nilai yang cukup tinggi jika dijual. Tapi pastikan anggota keluarga sudah berdiskusi dan mempertimbangkan semua resikonya. Jangan sembarangan mengambil keputusan apalagi yang sampai membawa masalah keuangan baru bagi keluarga ya.

3. Manfaatin fasilitas pinjaman kantor

Untuk alternatif yang satu ini mungkin gak dimiliki oleh semua perusahaan. Tapi, bukan berarti gak layak dicoba. Kalau memang manajemen perusahaan cukup fleksibel dan terbuka, coba saja bicarakan kemungkinan untuk meminjam dana ke kantor.

Sistem fasilitas pinjaman kantor pastinya berbeda. Umumnya jumlah pinjaman terbatas dan cara pembayaran cicilan dipotong dari gaji bulanan. Nah, ini juga harus dipikirkan masak-masak ya. Dengan gaji bulanan yang berkurang, apakah nanti akan membebani pengeluaran rutin keluarga atau gak.

Merencanakan biaya pendidikan anak sejak dini ternyata sangat penting kan? Saat kenyataan gak seindah harapan, jangan lantas putus asa atau mengambil jalan pintas. Berpikirlah dengan tenang dan cari alternatif terbaik bagi anak. Tapi jangan lupa untuk mempertimbangkan kemampuan finansial juga ya.

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Kisah Haru Orangtua yang Sukses Sekolahkan Anak Ini Bisa Jadi Inspirasi]

[Baca: Mencegah Anak Terancam Gagal Kuliah dengan Melakukan Hal Ini]

[Baca: Jangan Harap Anakmu Bisa Mengenyam Bangku Kuliah Kalau Kamu Nyuekin Hal Ini]

Tifanny

Menjadi Public Relation Officer adalah cita-cita saya beberapa tahun lalu. Ternyata pasion saya yang sebenarnya adalah menjadi penulis profesional. Keuangan adalah hal yang selama ini sering saya abaikan. Kini saya sadar bahwa keuangan memegang peran penting dalam kehidupan semua orang. Dan hal itulah yang ingin saya bagikan ke semua orang.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com