Kisah Haru Orang Tua yang Sukses Kuliahkan Anak , Semoga Bisa Jadi Inspirasi Hidup Kamu

by Hardian 864 views0

sukses kuliahkan anak

Siapa sangka, orang tua yang serba terbatas bisa menyekolahkan anaknya hingga jadi sarjana. Tapi itulah yang terjadi pada keluarga Mugiyono, seorang bapak di Kendal.

Pria paruh baya ini pusing tujuh keliling harus menghidupi keluarganya sebagai petugas jaga malam di PT Kayu Lapis Kaliwungu. Melihat anaknya, Raeni, bisa masuk SMA saja sudah senang bukan kepalang.

Apalagi saat Raeni dibolehkan masuk Universitas Negeri Semarang dengan status penerima beasiswa. Mugiyono gak keluar duit sepeser pun.

Tapi masalah datang. Untuk menunjang perkuliahan di jurusan akuntansi, Raeni memerlukan laptop. Mustahil memang rasanya seorang mahasiswa akuntansi belajar tanpa laptop.

Masak, hitung-hitungan pakai coret-coretan kertas? Kalau pada zaman dulu, bisa.

Selain itu, Raeni memerlukan biaya hidup karena kuliah di Semarang. Tentunya upah dari pekerjaan jaga malam gak mencukupi.

Untungnya, Mugiyono menemukan solusi. Dia sukses mendapat pinjaman uang dari saudara jauhnya. Tapi, itu artinya muncul masalah lain: utang itu harus dicicil sampai lunas.

Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memutuskan pensiun dini. Harapannya, pesangon bisa dipakai untuk melunasi laptop dan membayar biaya hidup Raeni.

sukses kuliahkan anak
Bahkan sang anak diantar pakai becak senjatanya saat wisuda, kereeeen (Mugiyono dan Raeni / WordPress)

Untuk menjaga dapur tetap mengepul, Mugiyono beralih menjadi sopir becak. Namun, sebelum memutuskan jadi sopir angkutan tradisional itu, dia tanya dulu ke Raeni. “Kamu malu kalau Bapak jadi tukang becak?”

Raeni menjawab tegas, “Tidak.” Dia justru mengungkapkan rasa bangganya lantaran sang ayah mampu berjuang sekuat tenaga demi masa depannya.

Perjuangan sang ayah gak sia-sia. Dia sempat menjalani kerja siang-malam karena upah dari mengayuh becak gak seberapa. Saat siang jadi abang becak, ketika malam dia menjaga sebuah sekolah.

Akhirnya, perjuangan Mugiyono itu terbayarkan. Raeni sukses lulus dengan predikat cumlaude, bahkan mendapat beasiswa lagi untuk kuliah S-2 di Inggris.

Ayah mana yang gak bangga anaknya bisa mencapai prestasi itu? Apalagi mengingat bahwa kondisi ekonominya di bawah rata-rata.

Keluarga Yuniati

Di Yogyakarta, ada Ibu Yuniati yang berhasil menguliahkan kedua anaknya, bahkan sampai ke luar negeri. Padahal dia hanya bekerja sebagai buruh cuci.

sukses kuliahkan anak
Orang tua pasti bangga ihat anaknya bisa lulus kuliah, apalagi dengan biaya terbatas (Ibu Yuniati / Liputan6)

Anak pertamanya, Satya Candra Wibawa Sakti, berhasil masuk Universitas Hokkaido di Jepang untuk menempuh kuliah S-3 lewat program beasiswa. Sebelumnya, dia kuliah S-1 di Universitas Negeri Yogyakarta dan S-2 di Universitas Gadjah Mada.

Adapun anak keduanya, Octaviani Ratna Cahyani, bisa lulus sekolah kebidanan dan bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Yogyakarta. Semua itu berkat kerja keras dan kenekatan sang ibu.

Bagaimana gak nekat. Tahu kemampuan finansialnya gak bagus karena statusnya sebagai buruh cuci, Yuniati berutang untuk biaya kuliah kedua anaknya.

Bahkan dia sampai utang ke rentenir. Tahu sendiri dong bunga yang ditetapkan rentenir. Karena gak ada aturan, mereka bisa patok bunga semena-mena jauh di atas bunga bank.

Sampai-sampai tetangganya pada nyinyir. “Hidup aja susah kok nguliahin anak.”

Namun karena sudah bertekad baja, Yuniati gak mau menyerah. Utang Yuniati memang masih ada, tapi kedua anaknya sudah mencapai taraf hidup yang lebih baik darinya.

Itulah yang menjadi impiannya. Dia gak mau anak-anaknya hidup susah seperti dia.

Dari kedua kisah inspiratif tersebut, kita bisa mengambil pesan moral buat karir dan kehidupan. Yakni tujuan membanting tulang mengais rupiah demi rupiah gak selalu harus buat diri sendiri.

Demi kebahagiaan dalam hidup, kesejahteraan keluarga bisa menjadi target utama karir seseorang. Bukan target ambisi pribadi.

sukses kuliahkan anak
Sudah berkelurga gak boleh egois, harus pikirin satu keluarga ya (Bergandengan Tangan / squarespace)

Toh, ketika target itu terpenuhi, kita ikut terkena dampak positifnya. Sebagai satu keluarga, susah-senang mestinya ditanggung bersama.

Apalagi buat yang berstatus orang tua. Melihat anak hidup sejahtera adalah kebanggaan. Ambisi pribadi sebaiknya dikesampingkan demi masa depan cerah anak kelak.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Inspirasi: Muda dan Meraih Puncak Karir, Wanita Usia 24 Tahun yang Sudah Bisa Jadi CEO]

[Baca: Ngajarin Anak Tentang Bisnis Sedari Dini, Kenapa Gak?]

[Baca: 6 Kebiasaan Jelek Orangtua yang Bisa Bikin Anak Tumbuh Jadi Pribadi yang Boros]

Tags:

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com