Lebih Hemat Mana, Transaksi Tunai atau Non-Tunai?

by Hardian 1.023 views0

Transaksi tunai atau non-tunai

Pada 2014, Bank Indonesia meluncurkan program Gerakan Nasional Non-Tunai. Salah satu tujuannya adalah mempermudah transaksi keuangan.

Soal transaksi jadi mudah, sudah jelas. Tapi ada satu hal lain yang menjadi dasar digalakkannya gerakan non-tunai ini: bisa lebih hemat.

Benarkah transaksi non-tunai bisa bikin kita lebih hemat dalam keuangan? Apa kalau transaksi tunai pasti lebih boros? Mari kita bedah bersama-sama.

Transakasi Non-Tunai vs Tunai

Seperti namanya, transaksi non-tunai sama sekali gak melibatkan duit cash. Yang diperlukan adalah kartu atau kertas sebagai alat pembayaran.

Kartu yang bisa digunakan untuk transaksi non-tunai antara lain:

1. Kartu kredit

Kartu ini diterbitkan oleh bank atau lembaga keuangan yang berwenang dengan cara nasabah mengajukan permohonan terlebih dulu. Jika memakai kartu kredit untuk transaksi, kita mesti membayar belakangan ketika tagihan datang.

Saat akan membeli barang, berikan kartu kredit ke petugas kasir. Nantinya petugas akan memasukkan data harga barang ke mesin EDC, lalu menggesekkan kartu itu.

transaksi tunai atau non-tunai
Gak perlu bawa duit segepok untuk beli motor belasan juta, cukup gesek (transaksi non-tunai/Kompas)

Untuk verifikasi transaksi, kita selaku pemilik kartu kredit memasukkan nomor identifikasi personal (PIN). Dulu, verifikasi bisa pakai tanda tangan. Tapi sudah ada aturan yang mewajibkan penggunaan PIN demi keamanan.

2. Kartu debit

Kartu debit sering juga disebut sebagai kartu ATM. Jika membuka rekening tabungan di bank, biasanya akan dapat kartu ini untuk menarik uang di mesin ATM atau transaksi.

Bedanya dengan kartu kredit adalah kita bisa menggunakan kartu debit untuk transaksi hanya jika ada dana di tabungan. Sebab, dana akan otomatis terpotong saat kita menggunakannya untuk transaksi.

Verifikasi transaksi dengan kartu debit juga memakai PIN. Prosesnya pun sama dengan kartu kredit, yakni lewat mesin EDC.

3. Kartu uang elektronik

Kartu yang juga kerap dinamai e-money ini cukup jauh berbeda dengan kartu debit dan kredit. Cara kerjanya lebih mirip dengan voucher pulsa.

Untuk bisa menggunakan e-money untuk transaksi, kita harus mengisinya dulu. Kartu ini umumnya diterbitkan bank, antara lain lewat kerja sama dengan pihak lain seperti minimarket atau angkutan umum.

transaksi tunai atau non-tunai
Selain transaksi barang, bisa juga buat naik angkutan umum (e-ticket Transjakarta/Skalanews)

Penggunaan kartu uang elektronik biasanya bisa juga untuk naik angkutan umum, misalnya kereta komuter dan bus Transjakarta di Ibu Kota. Kartu ini dapat dipakai juga untuk bayar tarif tol lewat gerbang khusus yang biasanya sepi antrean.

Selain 3 kartu itu, sebenarnya ada alat transaksi non-tunai lainnya seperti cek dan giro. Tapi nasabah individu jarang menggunakannya. Biasanya, alat itu dipakai untuk transaksi perusahaan atau dalam jumlah besar.

Melihat penjelasan di atas, terlihat bahwa jika memilih transaksi menggunakan metode non-tunai, kita gak perlu pegang duit banyak-banyak. Di dompet cukuplah Rp 100-200 ribu.

Dengan demikian, godaan untuk beli ini-itu pakai duit cash bisa lebih ditekan. Memang, jika belanja pakai kartu bisa juga kalap.

Namun pemakaian kartu untuk belanja bisa lebih dijaga. Dengan kartu kredit, misalnya, ada limit yang ditentukan bank.

Kita pun bisa menentukan limit sendiri agar gak kebablasan. Contohnya limit dari bank Rp 5 juta, kita tetapkan Rp 3 juta saja. Jika pemakaian sudah Rp 3 juta, stop pakai kartu kredit sampai tagihan terlunasi.

Dengan menggunakan transaksi non-tunai, kita pun bisa terhindar dari kesalahan hitungan. Pernah gak kita ngasih duit kelebihan tanpa sadar. Tahu-tahu ngecek di dompet sudah berkurang lebih dari yang seharusnya.

Kalau pakai kartu, kita bisa bayar pas dengan melihat layar pada mesin EDC. Petugas kasir pun gak akan memberikan kembalian berupa permen jika kurang Rp 100.

transaksi tunai atau non-tunai
Mesin EDC untuk tiap bank biasanya berbeda, tapi kadang bisa juga digunakan antarbank dengan tambahan biaya (mesin EDC/Tempo)

Kita otomatis membantu penjual dan kasir terhindar dari korupsi, lho. Jika kita memberikan duit kelebihan, pasti ada godaan untuk mereka tidak mengembalikan duit itu.

Nah, kalau pakai transaksi non-tunai, nominal harga sudah terlihat oleh kedua pihak. Kita pun jadi bisa berhemat, sementara mereka gak repot menghitung uang yang kita berikan dan menyiapkan kembalian.

Yang juga penting, sering ada diskon jika pakai kartu-kartu itu untuk transaksi. Ini khususnya kartu kredit, yang kerap menjalin kerja sama dengan merchant untuk memberikan diskon serta rewards bagi penggunanya.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Seluk-Beluk Kartu Kredit yang Wajib Diketahui Konsumen]

[Baca: Cara Kerja Mesin EDC: Ngambil Duit Gak Perlu ke ATM, Cukup Gesek Kartu]

[Baca: Infographic: Bagaimana Bank Menentukan Limit Kartu Kredit? Simak Dulu Asal Usulnya]

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com