Lebih Untung Investasi Reksadana Pasar Uang atau Deposito Ya?

by Hardian 644 views0

untuk jam 6 blog

Deposito adalah instrumen investasi perbankan yang umumnya populer di mata masyarakat. Hal ini berlaku terutama buat mereka yang enggan mengambil risiko lebih untuk mendapat return yang lebih tinggi.

Deposito memang relatif lebih aman dari risiko kerugian. Suku bunganya cenderung stabil, sehingga return pun stabil. Namun bukan berarti suku bunga deposito meningkat terus.

Per September 2017, bahkan suku bunga deposito menurun lantaran Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dari 4,50 persen menjadi 4,25 persen. Itu adalah kedua kalinya BI menurunkan suku bunga dalam setahun.

Tujuan penurunan itu sebenarnya adalah membantu meringankan bunga kredit bagi masyarakat. Namun para investor deposito turut kena imbas berupa turunnya return.

Hal berbeda akan dialami investor reksadana pasar uang. Reksadana pasar uang adalah investasi reksadana di mana dana kelolaannya ditempatkan di pasar uang yang memberikan kupon atau bunga dalam jangka pendek, umumnya kurang dari satu tahun. Deposito termasuk di dalamnya.

Nah, ketika kita hanya punya deposito dan terjadi penurunan suku bunga, potensi return bakal ikut turun sesuai tingkat bunga. Adapun bila deposito itu ada dalam reksadana pasar uang, manajer investasi bisa segera mengalihkan dana investasi ke instrumen selain deposito untuk menghindari kerugian dalam jumlah banyak.

[Baca: Bunga Deposito Bank Makin Turun, Alihkan Danamu ke 4 Instrumen Investasi Ini]

Saat ini, rata-rata bunga deposito adalah 2-6 persen. Pergerakannya bisa dipantau di situs media bisnis seperti Kontan.

investasi reksadana
Makin cepat memulai investasi, makin baik (carajadikaya)

Simulasi return bunga deposito

Misalnya Pak Adi punya dana Rp 20 juta untuk investasi deposito Bank Negara Indonesia (BNI). Di bank ini, suku bunga deposito dengan tenor 12 bulan adalah sebesar 6,5 persen. Pak Adi berencana ambil deposito untuk 24 bulan.

Berikut simulasinya

= jumlah uang simpanan x bunga per tahun x 80%* x tenor : 12

= Rp 20 juta x 6,5% x 80% x 12 : 12

= Rp 1.040.000

Jika deposito untuk 24 bulan, berarti return-nya Rp 1.040.000 x 2 = Rp 2.080.000.

*Angka 80 persen ini masuk sebagai pengurang keuntungan karena ada pajak sebesar 20%.

investasi reksadana
Pilih deposito dengan bunga tertinggi, gak harus di bank yang sama dengan tempat kita menabung (accountsight)

Itu kalau bunganya tetap 6,5 persen per tahun ya. Kalau bunganya turun seperti yang terjadi ketika suku bunga acuan turun, tentu total deposito setelah dua tahun juga berkurang sesuai dengan tingkat penurunan.

[Baca: Investasi Deposito Bank Pasti Untung, Asal Gak Main-main Soal 4 Hal Ini]

Kalau return reksadana pasar uang bagaimana?

Reksadana adalah investasi yang dikelola manajer investasi. Kita selaku pemilik modal tinggal menyetor dana ke perusahaan manajer investasi itu. Nantinya, perusahaan tersebut bertanggung jawab mengelola dana investasi dengan tujuan mendapat return setinggi mungkin.

Dengan reksadana pasar uang, return diper oleh setiap saat berdasarkan kenaikan nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/UP). NAB/UP adalah harga suatu reksadana.

Sekarang coba kita simulasikan. Misalnya Pak Adi beli reksadana pasar uang di PT XYZ pada 1 Januari 2018 dengan nilai Rp 20 juta.

Mengintip dana Bareksa, indeks reksadana pasar uang selama setahun terakhir rata-rata tumbuh 4,4 persen. Jika Pak Adi berniat untuk berinvestasi reksadana dalam dua tahun, katakanlah return-nya sekitar 9 persen.

Dengan demikian, return Pak Adi dalam dua tahun investasi reksadana pasar uang adalah:

Rp 20.000.000 x 9% = Rp 1.800.000

Namun harus diingat, NAB/UP gak selalu naik tiap bulan. Dalam investasi reksadana, return juga bergantung kepada kemampuan manajer investasi dalam melihat kecenderungan pasar.

Begitu tahu suku bunga deposito turun, manajer investasi semestinya mengalihkan investasi ke instrumen lain, seperti obligasi. Intinya adalah manajer investasi bertugas mencari instrumen reksadana yang menguntungkan.

Kesimpulan

investasi reksadana
Dengan dana ratusan ribu rupiah pun kita sudah bisa jadi investor lho (istockphoto)

Bila melihat perbandingan investasi reksadana pasar uang dan deposito dari segi return di atas, peluang deposito mencapai return hanya bergantung kepada suku bunga acuan. Artinya, bila suku bunga turun, ya return deposito ikut turun.

Sebaliknya, investasi di reksadana pasar uang bisa lebih fleksibel. Saat deposito anjlok, investasi masih bisa dialihkan ke obligasi atau surat utang. Adapun bila obligasi lagi jeblok, dana investasi bisa dialokasikan ke deposito kalau suku bunga lagi moncer.

Manajer investasi yang bakal mengurus penempatan dana investasi kita. Meski begitu, bukan berarti kita gak boleh ikut campur dalam pengelolaan dana tersebut.

Sebagai pemilik dana, kita bisa berkonsultasi dengan manajer investasi soal tren di pasar uang yang lagi menanjak. Apalagi bila kita tahu banyak soal tren investasi.

Namun bila kita awam, sebaiknya memang mempercayakan semuanya ke manajer investasi sembari melakukan pemantauan. Toh, kita bebas menarik uang kapan saja dan gak dikenai pajak ataupun   penalti. Kalau kamu narik dana deposito sebelum jatuh tempo, bakal kena penalti lho.

[Baca: Mau Mulai Berinvestasi? Cobalah Reksa Dana Pasar Uang]

Tags: ,

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com