Manfaat Asuransi Jiwa KPR Bukan Sembarangan. Bagaimana Jika Kepala Keluarga Meninggal?

by DuitPintar 3.251 views1

manfaat asuransi jiwa kpr

Lala bersyukur banget tak harus mengalami kejadian yang menimpa sohibnya, Rossa. Bekas teman kerjanya itu masih harus menanggung beban utang kredit pemilikan rumah (KPR) seusai suaminya meninggal dunia.

 

Rossa harus menerima kenyataan pahit.  Bank masih mewajibkannya melunasi cicilan utang almarhum yang tersisa Rp 150 juta. Pilihan paling rasional bagi Rossa adalah menawarkan take over kredit rumah itu ke orang lain.

 

”Musibah memang masih bisa diterima, tapi kok bank enggak mau ngerti banget sama musibah yang aku alami,” keluh Rossa pada Lala.

 

Rossa berpikir bank seharusnya memutihkan utang suaminya. Lebih-lebih dalam proses pengajuan KPR, suaminya sudah membayar premi asuransi jiwa. Faktanya, dia hanya menerima santunan yang nilainya tak mencukupi untuk melunasi sisa utang KPR.

 

”Makanya bingung, kok bisa begini ya? Kenapa nilai santunannya tak bisa melunasi KPR?” tanyanya dengan mimik muka serius.

 

Lala paham banget situasi yang dialami Rossa. Paham banget karena Lala mengalami kejadian serupa.

 

Suaminya yang meninggal dunia enam bulan lalu mewarisi utang KPR. Untungnya, utang KPR itu dianggap lunas karena diambil alih pihak asuransi.

 

Jangan sampai mewarisi utang kepada anggota keluarga.
Jangan sampai mewarisi utang kepada anggota keluarga.

 

”Kok kejadian sama, tapi utang KPR Rossa tetap ada ya?” gumam Lala sambil mengusap perutnya. Sebentar lagi dia akan melahirkan anak kedua. Sayang, suaminya tak bisa melihat si jabang bayi di perutnya setelah mengalami kecelakaan fatal di jalan raya yang sampai merenggut nyawanya.

 

Kejadian yang dialami Rossa bisa menimpa siapa saja. Mereka tak menduga akan harus menanggung utang KPR begitu musibah menimpa kepala keluarga.

 

Di sisi lain, Lala tak perlu merana karena terbebaskan utang KPR seusai suaminya meninggal dunia. Pihak asuransi yang mengambil alih kewajiban almarhum suaminya itu. [Baca: Melihat Pentingnya Asuransi bagi Masa Depan Keuangan]


Kok bisa beda?

Banyak faktor sebenarnya. Cuma kemungkinanya, bisa jadi calon debitur kurang teliti saat mengajukan kredit.

 

Mereka terlalu fokus memenuhi syarat agar kredit segera disetujui bank. Misalnya saja menggabungkan pendapatan (joint income) suami-istri agar nilai kredit yang dicairkan bisa besar.

 

Dalam kasus Rossa, suaminya menggabungkan dengan pendapatannya. Suaminya berpenghasilan Rp 7 juta dan Rossa Rp 3 juta. Otomatis bank menilai besaran pendapatan bulanan keduanya Rp 10 juta.

 

Berarti besaran utangnya maksimal 30% dari total penghasilan atau Rp 3 juta. Ini berarti pula nilai kredit yang disetujui bisa lebih besar. [Baca: Tahapan Ajukan KPR sampai Akad Kredit]

 

Lindungi rumah dengan asuransi yang maksimal.
Lindungi rumah dengan asuransi yang maksimal.

 

Ada satu hal yang sering luput dilakukan calon debitur, yakni mengukur risiko dari kredit yang diambil. Utamanya adalah risiko di mana debitur meninggal dunia, cacat, atau risiko lain yang menyebabkan kegagalan mengangsur cicilan.

 

Sementara bank sudah mengukur risiko itu. Bank pastinya tak mau rugi jika nasabahnya meninggal dunia. Siapa yang mau teruskan sisa utang?

 

Alhasil, bank mewajibkan debitur mengasuransikan jiwanya. Tak hanya itu, rumah yang dikredit juga wajib dapat perlindungan asuransi, dalam hal ini asuransi kebakaran. Jadi, calon debitur dikenakan biaya premi asuransi sebagai syarat permohonan KPR.

 

Asuransi kredit sendiri sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan RI No. 124/PMK.010/2008 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Lini Usaha Asuransi Kredit dan Suretyship.

 

Pasal 1 angka 2 PMK 124/2008 tersebut menyatakan: “Asuransi Kredit adalah lini usaha asuransi umum yang memberikan jaminan pemenuhan kewajiban finansial penerima kredit apabila penerima kredit tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian kredit”

 

Di sinilah Lala bersyukur. Almarhum suaminya sudah mengukur risiko dari kemungkinan gagal bayar angsuran KPR.

 

Kewajiban almarhum suaminya melunasi KPR ditutupi asuransi. Lala pun tak perlu menanggung beban.

 

Ada dua keuntungan yakni bank tak rugi karena sisa angsuran KPR ditanggung asuransi. Satunya lagi, di saat bersamaan, rumah yang dibeli bersama suaminya dinyatakan lunas.

 

Biarkan asuransi yang melunasi KPR jika ada kenapa-napa dengan tertanggung.
Biarkan asuransi yang melunasi KPR jika ada kenapa-napa dengan tertanggung.

 

Kenapa asuransi bersedia melunasi sisa utang mendiang suami Lala? Mengapa dalam kasus Rossa tidak?

 

Perhatikan perbedaan skema kreditnya

Dalam kredit joint income, mendiang suami Lala memilih skema asuransi tipe first to die. Asuransi jiwa ini bakal membayar uang pertanggungan 100% jika salah satu debitur meninggal dunia, entah itu istri atau suami.

 

Dulu saat mengajukan KPR, Lala masih bekerja. Cuma dia memutuskan resign setelah hamil anak kedua.

 

Sedangkan dalam kasus Rossa, kemungkinan yang diambil adalah skema the last survivor. Maksudnya, asuransi baru akan membayar klaim jika kedua debitur meninggal dunia.

 

Kemungkinan mendiang suami Rossa memilih skema asuransi jiwa ini karena premi asuransinya lebih rendah ketimbang tipe first to die yang diambil keluarga Lala. [Baca: Produk Asuransi Apa yan Perlu Dahului)

 

Perhitungkan kemungkinan gagal bayar

Memperhitungkan kemungkinan gagal bayar saat mengajukan KPR adalah langkah bijak. Selama ini rata-rata calon debitur alpa dalam urusan ini.

 

Mereka lebih konsentrasi bagaimana memenuhi persyaratan KPR dari bank. Utamanya adalah memenuhi besaran uang muka KPR minimal 30%.

 

Lihat yang detail biaya yang timbul selama KPR.
Lihat yang detail biaya yang timbul selama KPR.

 

Wajar jika calon debitur berusaha menekan biaya-biaya lain yang timbul dalam pengajuan KPR seperti biaya provisi, asuransi, sampai notaris. Dan, rata-rata yang banyak dikorbankan adalah biaya premi asuransi.

 

Nilai premi asuransi ini dianggap memberatkan. Proses menegosiasikannya agak ribet karena tidak bisa berhubungan langsung dengan perusahaan asuransi tetapi harus melalui bank. Terlebih, biaya premi asuransi ini termasuk komponen pendapatan bank dari KPR.

 

Premi asuransi kebakaran terbilang murah. Yang jadi soal adalah premi asuransi jiwa, di mana nilainya tergantung usia dan kondisi kesehatan kreditur. Punya riwayat kesehatan buruk dan makin tua usia, maka makin mahal asuransinya.  [Baca: Kenali Jenis dan Pentingnya Asuransi Properti]

 

Wajar jika dalam banyak kasus, calon debitur enggan membayar mahal premi asuransi jiwa. Alasannya memberatkan pemenuhan syarat pembayaran pertama KPR yang mencakup uang muka plus biaya-biaya tambahan lain.

 

Lagi pula kesadaran mengenai risiko gagal bayar masih minim. Dalam kaca mata nasabah, terkadang menggabungkan kredit dengan asuransi masih dianggap hal yang sia-sia dan cuma menjadi beban.

 

”Untung suami ku punya pemikiran yang jauh ke depan. Baru sekarang aku paham mengapa dia dulu bicara panjang lebar tentang manfaat asuransi jiwa KPR ini,” ucap Lala dalam hati.

 

Dia sudah punya rencana mengkontrakkan rumah peninggalan suaminya itu. Duit dari hasil kontrakan akan digunakan sebagai modal berbisnis baju muslimah. Sementara ini, Lala memutuskan tinggal bersama orangtuanya dulu.

 

Mengajukan klaim

Informasi seputar pengajuan klaim sebisa mungkin juga di-share dengan kerabat.
Informasi seputar pengajuan klaim sebisa mungkin juga di-share dengan kerabat.

 

Lala sudah tahu sejak awal bagaimana mengajukan klaim asuransi jiwa ke bank. Pasalnya, sejak awal sudah aktif meminta penjelasan detail dari petugas bank tentang risiko jika debitur meninggal dunia ketika kredit belum lunas.

 

Bahkan waktu itu, mendiang suaminya mengingatkan Lala agar menginformasikan masalah asuransi ini kepada kerabat terdekat. Tujuannya agar banyak yang tahu duduk permasalahan dan cara menghadapi jika terjadi sesuatu terhadap suami maupun Lala.

 

Ketika suaminya meninggal dunia, otomatis Lala mewarisi semua harta benda suaminya, termasuk utangnya.

 

Itu sesuai bunyi Pasal 833 ayat (1) KUHPer yang menyatakan ahli waris dengan sendirinya memperoleh hak milik atas segala barang, piutang dan hak dari si pewaris. Dalam pewarisan, yang beralih pada ahli waris bukan hanya harta dan hak saja, melainkan juga utang dan kewajiban.

 

Lantaran suami Lala meninggal akibat kecelakaan, maka sejumlah syarat mesti dipenuhi untuk mengajukan klaim. Syarat itu antara lain:

 

-Surat keterangan meninggal dari dokter

-Salinan hasil pemeriksaan

-Salinan KTP dari korban dan penerima manfaat

-Surat asli berita acara dari kepolisian

-Polis asuransi asli

-Formulir klaim karena kecelakaan yang ditandatangani penerima manfaat

 

Walau saat itu terasa berat karena harus ditinggal pergi oleh suaminya menghadap Yang Kuasa, tapi Lala tetap memaksakan dirinya untuk mengurus klaim meski masih berduka. Almarhum suaminya tentu menginginkan Lala melakukan hal itu.

 

Ingat pepatah sedia asuransi sebelum risiko tiba.
Ingat pepatah sedia asuransi sebelum risiko tiba.

 

Mengajukan pinjaman dalam KPR bukan semata-mata mengukur ‘kekuatan’ pendapatan saja, tapi juga perlu dicermati ‘risiko’ di masa depan. Selain itu, jangan sampai alpa perlunya proteksi asuransi jiwa yang bisa membebaskan ahli waris dari kewajiban utang.

 

Ingat, ketika berurusan dengan KPR bukan sekadar memikirkan nilai kredit yang diperoleh tapi juga pikirkan tingkat risiko pinjaman dari bank ini. Maka, jangan anggap enteng. Manfaat asuransi jiwa kpr bukan sembarangan!

 

 

 

Image credit:

  • http://www.bestagent.ca/uploadedImages/Remaxca/Content/Fit_To_Buy/REMAX_family_drawing.jpg
  • http://4.bp.blogspot.com/-VsAxqONr-tM/UA2ImgtahBI/AAAAAAAADVw/YUR9NiyZDwU/s1600/kpr.jpg
  • http://4.bp.blogspot.com/-sqfVSxZPLpQ/U4nw70eMOmI/AAAAAAAAAcw/SPf7j91P1G4/s1600/KPR+-+beritaonlineinformasirumah.blogspot.com.png
  • http://cdn.kaskus.com/images/2014/02/20/708949_20140220033610.jpg
  • http://halopolisi.com/wp-content/uploads/2014/08/sengketa-rumah.jpg
  • https://tabunganoke.files.wordpress.com/2014/08/asuransi-kesehatan-2.jpg

 

Tags: ,

Masih banyak lagi dari duitpintar.com