Mau Ngajuin KPR? Pikirin Dulu 6 Hal Ini

by Hardian 1.856 views0

mau ngajuin KPR

Berkat kredit pemilikan rumah (KPR), banyak orang bisa memiliki rumah sendiri. Dengan bantuan kredit dari bank itu, tak perlu waktu lama untuk dapat membeli rumah.

Namun kita gak bisa sembarangan mengambil KPR. Alasan pertama, program KPR satu bank dengan bank lainnya berbeda. Kemudian, KPR berhubungan dengan keuangan, sehingga mesti dipertimbangkan baik-baik sebelum mengambilnya.

Untuk alasan pertama, gampang saja solusinya. Tinggal membandingkan program KPR bank satu-satu. Lalu, diambil mana yang kira-kira paling cocok.

Alasan kedua yang butuh usaha ekstra. Ada sederet poin yang mesti dipertimbangkan sebelum ambil KPR. Gunanya, selama proses KPR, fondasi keuangan tetap kokoh menyangga kehidupan. Berikut ini di antaranya:

1. Cash flow

Bank gak akan asal mengabulkan permohonan KPR. Rumus umumnya adalah besaran angsuran per bulan maksimal 30 persen dari total penghasilan. Harapannya, cash flow atau aliran uang keluar-masuk kita lancar.

mau ngajuin kpr
Gini nih ekspresi orang bank kalo cicilan kamu macet arrrrgh (Kesal / ehstoday)

Misalnya kita berencana ambil KPR dengan cicilan Rp 4 jutaan menurut simulasi bank. Padahal gaji kita hanya Rp 6 juta. Besar kemungkinan KPR ditolak lantaran batas 30 persen itu terlampaui.

Duit penghasilan tersisa Rp 2 juta saja. Bank khawatir kita gak bisa lancar mengatur keuangan dengan sisa duit segitu. Ketidaklancaran cash flow bisa berdampak seretnya angsuran. Jelas, bank akan pikir-pikir untuk memberikan kredit.

2. Syariah atau konvensional

Baik bank syariah maupun konvensional punya program KPR yang sangat membantu. Namun ada perbedaan dalam pelaksanaan kredit mereka.

Perbedaan utamanya terletak pada pemberlakuan bunga pada cicilan. Dalam KPR bank konvensional, biasanya diterapkan bunga fixed selama 2 tahun cicilan, lalu floating hingga lunas.

Bunga fixed bersifat tetap, sedangkan floating berubah-ubah menurut suku bunga acuan. Jadi, ketika suku bunga acuan melonjak, bunga floating pun bisa ikut naik. Sebaliknya, bunga KPR bisa turun mengikuti suku bunga acuan.

mau ngajuin KPR
Ayolah salaman dulu biar nggak berantem hehehe (Berjabat Tangan / Liputan6)

Sedangkan KPR syariah gak menerapkan bunga, melainkan margin yang dihitung dari harga rumah ditambah keuntungan bagi bank sekitar 15-20 persen. Konsepnya sama dengan bunga fixed, yang artinya besaran cicilan gak berubah hingga KPR lunas.

[Baca: Kamu Yakin Cicilan KPR Syariah Lebih Murah? Baca Ini Dulu Deh]

3. Jenis bunga

Seperti disebutkan di atas, dalam KPR konvensional, ada bunga fixed dan floating. Perbedaannya sudah disebutkan di atas. Yang perlu diantisipasi adalah perubahan besaran cicilan setelah bunga floating diterapkan.

Harus dihitung berapa cicilan saat bunga fixed dan bunga floating. Dengan begitu, tidak kaget ketika cicilan naik karena bunga floating sedang tinggi.

Kaget saja sih oke. Yang berbahaya, dana kurang untuk menutup cicilan lantaran tidak memperhitungkan naiknya bunga tersebut.

Beda urusannya kalau mengambil KPR syariah. Sebab, besaran cicilan sudah diketahui dari awal sesuai dengan kesepakatan antara nasabah dan pihak bank.

[Baca: Biar Ga Salah Pilih KPR, Kenalan Dulu Yuk Sama Jenis-Jenis Bunganya]

4. Suku bunga acuan

Dulu, yang menjadi suku bunga acuan adalah BI Rate dari suku bunga Sertifikat Bank Indonesia 12 bulan. Namun, terhitung sejak Agustus 2016, yang menjadi acuan adalah BI 7-day Reverse Repo Rate.

Biasanya, besaran bunga kredit bank 3-5 persen lebih tinggi dari suku bunga acuan. Jangan sampai manggut-manggut saja ikut hitungan bunga bank.

Cek suku bunga acuan untuk menghindari kekeliruan penghitungan bunga. Jika suku bunga acuan turun tapi bunga KPR malah naik, kita harus mempertanyakan.

[Baca: Sebelum Milih KPR, Pelajari Dulu Suku Bunga Acuannya]

5. Penghitungan bunga

mau ngajuin KPR
Belajar ngitung kayak adik ini yuk! (Anak Berhitung / omediapc)

Ini yang sering dilalaikan orang. Selain mengetahui jenis bunga fixed dan floating, kita harus memahami penghitungan bunga tersebut.

Ada tiga cara penghitungan bunga, yakni flat, efektif, dan anuitas. Umumnya, bank menerapkan bunga efektif atau anuitas. Bunga flat biasanya diterapkan untuk kredit tanpa agunan atau yang tenornya pendek.

Memang, biasanya sudah ada simulasi dari pihak bank berupa kertas cetakan. Tapi gak ada salahnya kita menghitung sendiri untuk mencocokkan. Bank bisa juga salah, lho.

[Baca: Jangan Langsung Merasa Tertipu, Simak Nih Tahapan Beli Rumah Jadi Lewat KPR]

6. Biaya-biaya

Dalam KPR, ada biaya-biaya yang mesti kita bayar. Biaya tersebut antara lain:

– Notaris (bisa dibagi dua dengan pemilik atau developer rumah, bisa juga gratis bila lagi ada program itu)

– Provisi (biasanya 1 persen dari plafon, tapi sering digratiskan bila beli rumah ketika ada pameran)

– Administrasi (biaya surat-menyurat bank)

– Pajak jual-beli (5 persen dari nilai transaksi dikurangi Nilai Jual Objek Pajak)

– Premi asuransi (umumnya bank mewajibkan asuransi jiwa dan kebakaran dalam proses KPR)

Selain itu, ada biaya berupa denda jika kita lalai menunaikan kewajiban. Salah satunya adalah denda keterlambatan cicilan dan penalti percepatan pelunasan. Jumlah penalti berbeda-beda, tergantung kebijakan bank. Bahkan ada yang tidak menetapkan penalti.

Harus diketahui betul angka biaya-biaya itu untuk dimasukkan ke rencana keuangan. Soal penalti karena melunasi KPR sebelum waktunya, kita bisa mencoba nego besaran angkanya. Siapa tahu malah bisa dapat gratis setelah negosiasi.

Membeli rumah sebaiknya tidak terburu-buru. Apalagi jika memilih lewat KPR. Pinjaman dari bank itu wajib kita lunasi sesuai dengan tenor yang disepakati.

Makin lama tenor, makin lama pula beban cicilan yang harus dibayar tiap bulan ke bank. Karena itu, ada satu tips biar nyaman ambil KPR: perbesar uang muka.

Jika uang muka lebih besar, kredit yang dibutuhkan dari bank makin sedikit. Artinya, tenor pun bisa dibuat lebih singkat dan kita pun bisa segera terbebas dari angsuran bulanan.

[Baca: Hitung Cicilan KPR Bunga Floating Biar Bisa Siapin Duit]

Tags: ,

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com