Memilih Deposito Syariah atau Reksa Dana Syariah, Mana yang Bikin Untung?

by DuitPintar 3.138 views1

memilih deposito syariah thumb

Gaji kecil bukan alasan enggak berinvestasi. Meski gaji paling banter Rp 4 juta, tetap dong harus alokasikan sebagian di instrumen investasi. Ini namanya cara pintar agar duit hasil jerih payah kerja tetap berkembang ke depannya.

Oke, sekarang niat sudah ada. Terus mau investasi di mana dan produk apa?

Sudah bisa ditebak, pasti itu pertanyaannya. Jawabnya banyak kok produk investasi.

Tapi dari sekian yang banyak itu, kepikiran berinvestasi pada produk syariah? Khususnya deposito syariah dan reksa dana syariah?

Wah, makhluk apa pula itu? Butuh pencerahan nih! Oke, mari kenalan dengan makhluk bernama deposito syariah dan reksa dana syariah.

Deposito syariah

Pertama bicara deposito syariah dulu. Produk ini sebenarnya mirip-mirip dengan deposito di bank konvensional. Ada embel-embel syariah karena memenuhi kriteria halal dan maslahah.

Halal lantaran enggak menerapkan sistem bunga yang riba. Maslahah karena menjamin semua pihak yang terlibat dalam investasi harus mendapatkan manfaat (keuntungan).

Dalam praktiknya deposito syariah hampir sama dengan konvensional. Titip uang dalam jangka waktu tertentu dan si pemilik uang dapat imbalan.

Bedanya, deposito konvensional imbalannya dalam bentuk bunga tetap. Sedangkan deposito syariah imbalannya berdasarkan sistem bagi hasil (mudharabah).

memilih deposito syariah

Gak usah bingung menentukan jenis investasi, sesuaikan saja dengan kemampuan dan tujuan (Karyawati / Klimg) 

Karena bagi hasil, praktis pendapatan dari deposito mudharabah tidak tetap sebagaimana pada bunga, melainkan berfluktuasi sesuai tingkat pendapatan bank syariah. Jadi sangat tergantung dari kinerja bank syariah.

Contoh, bila buka deposito di Bank BNI, Bank Mandiri, atau BRI ditawarkan bunga 5% untuk jangka waktu 5 bulan. Sedangkan deposito syariah di Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, atau BNI Syariah, ditawari bagi hasil 55:45. Maksudnya 55% untuk bank dan 45% untuk si pemilik dana.

Lalu apa yang jadi pertimbangan memilih deposito syariah yang menguntungkan? Gampang saja kok.

Lihat saja laporan keuangan bank syariah itu yang biasanya ada di surat kabar atau situs bank yang bersangkutan. Jadi kalau penyaluran dananya bagus maka bagi hasil yang diberikan tentu juga bagus.

Kemudian ketika memutuskan menarik dana sebelum jatuh tempo, apa yang terjadi? Ya tidak dapat bagi hasilnya dikarenakan jangka waktu ‘memarkirkan’ duit merupakan bagian dari akad mudharabah tersebut. Jadi tidak ada biaya penalti seperti di deposito bank konvensional.

Ringkasnya, ini plus minus deposito syariah.

1. Bagi hasil lebih besar dari tabungan syariah

2. Aman untuk memarkir dana dalam jangka pendek

3. Pas yang tak suka risiko tinggi

4. Dilindungi oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)

5. Bisa berfungsi sebagai dana darurat

6. Bisa jadi jaminan ketika mengajukan kredit

Lalu sisi minusnya adalah

1. Imbal hasil terbilang rendah ketimbang reksa dana syariah

2. Rugi bila memarkirkan dana dalam jangka panjang karena nilainya tergerus inflasi

3. Pencairannya tak seleluasa tabungan

4. Ada syarat minimal dana yang bisa didepositokan, biasanya Rp 1 juta

Reksa dana Syariah

Bagaimana dengan reksa dana syariah? Produk ini juga berdasarkan aturan syariah.

Di sini, semua uang milik investor dijadikan satu yang diinvestasikan lagi dalam bentuk kepemilikan saham syariah, obligasi syariah, atau sukuk. Pokoknya instrumen investasi apapun asal syariah jadi targetnya.

memilih deposito syariah

Reksa dana syariah cocok buat kamu yang pengin berinvestasi jangka panjang (Rupiah / Kontan) 

Sebelum menanamkan duit di produk ini, pertimbangkan dulu benefit dan kekurangannya. Nilai plusnya adalah:

1. Bisa berinvestasi dalam dana terbatas. Katakanlah modal Rp 100 ribu sudah bisa punya reksa dana.

2. Bisa dicairkan sewaktu-waktu

3. Mudah didapat. Cukup datangi agen penjual atau manajer investasi

4. Bebas memilih produk, entah itu reksa dana saham, pendapatan tetap, atau campuran.

Kerugian reksadana syariah :

1. Tidak dijamin LPS.  

2. Dikenai biaya-biaya selain pajak seperti biaya transaksi pembelian, penjualan atau ganti jenis produk

3. Tidak kebagian deviden atau keuntungan perusahaan.

Sudah ada pencerahan? Lalu di antara dua itu mana yang cocok?

Lagi-lagi ini tergantung dari tujuan keuangan itu sendiri. Jika tak mau ambil risiko dan sekadar untuk ‘memproteksi’ duit lebih dalam jangka pendek, deposito syariah bisa jadi pilihan.

Beda bila ingin mengembangkan dana dan duit itu tak digunakan dalam jangka waktu tertentu, misalnya setahun, pilihan bisa jatuh ke reksa dana. Dan yang tak kalah penting, reksa dana syariah klop dengan mereka yang bersedia sedikit ambil risiko.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Deposito yang Cocok bagi yang Bergaji Rp 3 Jutaan]

[Baca: Pahami Seluk Beluk Reksa Dana Lebih Jauh]

[Baca: Deposito Syariah Juga Bikin Untung Lho]

[Baca: Kenalan Dulu sama Saham Syariah]

Tags:

Masih banyak lagi dari duitpintar.com