Mengenal Saham Syariah di Indonesia: Apa Itu dan Bagaimana Cara Investasinya

by DuitPintar 2.609 views0

saham syariah di indonesia

Yang sering terlintas di pikiran ketika mendengar kata “saham” biasanya duit, modal perusahaan, bank, investasi, dan segala hal yang berhubungan dengan untung-rugi. Bahkan saham sering diidentikkan dengan judi karena adanya faktor untung-rugi itu. [Baca: Pengertian Saham dan Jenisnya yang Dibuat Sesimpel Mungkin untuk Pemula]

 

Padahal dunia investasi juga mengenal saham syariah. Yang jadi pertanyaan, kalau berinvestasi saham artinya bermain judi, apakah investasi saham syariah akan ada? Jikapun bermain saham sama dengan judi, pastinya polisi sudah menangkapi para investor saham.

 

Menurut kamus Otoritas Jasa Keuangan, saham adalah surat bukti kepemilikan atau bagian modal suatu perseroan terbatas yang dapat diperjualbelikan. Artinya, berinvestasi saham adalah beraktivitas jual-beli saham. Tidak ada unsur perjudian di sana.

 

Sekarang kita akan membahas lebih lanjut tentang saham syariah yang semakin lama semakin banyak diminati masyarakat. Saham syariah dan saham konvensional tak berbeda jauh. Yang membedakan adalah emiten atau perusahaan yang menjual sahamnya kepada publik tak boleh bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Sebagai contoh, kita tak bisa membeli saham perusahaan alkohol jika berinvestasi saham syariah. Sebab, alkohol dilarang dalam Islam. Daftar emiten saham syariah di Indonesia bisa diihat di Daftar Efek Syariah.

 

Karakteristik Saham Syariah

sistem bagi hasil riba dan risiko dalam saham syariah

 

 

Sebagaimana diatur dalam ajaran Islam, transaksi keuangan muslim tak mengenal istilah riba atau bunga. Jadi, tidak seperti saham konvensional, saham syariah menggunakan sistem bagi hasil dan risiko antara investor dan emiten dengan melalui musyarawah. Musyawarah di sini artinya kesepakatan bersama yang didapat dalam akad saham syariah.

 

Misalnya kita membeli saham syariah perusahaan A. Jika perusahaan itu menangguk keuntungan, kita juga akan mendapat untung dari dana investasi yang ditanamkan ke perusahaan itu. Sebaliknya, jika perusahaan merugi, otomatis kita juga turut menanggung kerugian.

 

Bagi hasil dan risiko ini disepakati sejak awal lewat perjanjian akad. Tentu saja nilai keuntungan saham syariah akan berubah-ubah bergantung pada kinerja emiten. Ini berbeda dengan saham konvesional yang menerapkan sistem bunga sehingga keuntungan yang didapat investor bersifat stabil lantaran kinerja emiten tak berpengaruh.

 

Selain itu, investasi saham syariah tak mengenal ghahar dan maysir. Ghahar adalah pemberian informasi yang menyesatkan. Sedangkan maysir adalah mengambil risiko yang berlebihan.

 

Ghahar berlaku untuk emiten dan perusahaan sekuritas yang mengurusi pembelian saham. Mereka harus menjelaskan sejelas-jelasnya seluk-beluk saham syariah yang dijual.

 

Sedangkan maysir berlaku buat investor itu sendiri. Yang artinya, investor tak boleh serakah alias mengejar keuntungan saja tanpa mempedulikan risiko.

 

Bagaimana Berinvestasi Saham Syariah

mendaftar saham syariah

 


Untuk berinvestasi saham syariah, kita bisa langsung ke perusahaan sekuritas dan membuka akun di sana. Tahap-tahapnya sama seperti berinvestasi saham biasa. Petugas perusahaan akan mengarahkan kita untuk membeli saham syariah dengan mengisi formulir.

 

Tapi, sebelum memutuskan menanamkan uang investasi, sebaiknya kita mengenal dulu seluk-beluk seputar saham. Dengan demikian, kita sudah punya pegangan saham apa yang akan kita beli dan bagaimana mengawasinya.

 

Untuk belajar, kita bisa lebih dulu berinvestasi reksa dana syariah. Lewat investasi reksa dana syariah, kita bisa bertanya-tanya tentang dunia investasi, khususnya saham, kepada manajer investasi. [Baca: Belajar Investasi Reksa Dana Sebagai Pilihan Mendulang Uang Lebih]

 

Selain itu, kita harus memastikan emiten yang kita beli sahamnya bebas dari praktek yang tak sesuai dengan ajaran Islam. Peraturan Bapepam-LK nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah, pasal 1.b.7 mengatur tentang kriteria pemilihan saham syariah dengan rincian:

 

  1. Jenis usaha, produk barang atau jasa yang diberikan dan akad serta pengelolaan emiten tak boleh berseberangan dengan prinsip-prinsip syariah.
  2. Emiten wajib menandatangani dan memenuhi ketentuan akad sesuai dengan prinsip syariah.
  3. Emiten wajib memiliki Syariah Compliance Officer (SCO) untuk menjelaskan prinsip syariah yang dianutnya. SCO adalah pejabat atau petugas di lembaga atau perusahaan yang telah disertifikasi Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia sebagai tanda bahwa dia memahami konsep syariah di pasar modal.

 

 

Intinya, saham syariah adalah praktek bisnis yang dijalankan tanpa meninggalkan ajaran Islam. Bisnis ini tersedia buat mengakomodasi umat muslim yang ingin berinvestasi dengan dasar hukum sesuai dengan agamanya.

 

 

 

Image credit:

  • http://www.seputarforex.com/sfmateri/sf0_perhitungan-untung-rugi-deposito-2.jpg
  • http://financialnewss.com/wp-content/uploads/2015/04/Investment-Banking-News-Sharia-Banking-Investment-Gains.jpg

Tags: ,

Masih banyak lagi dari duitpintar.com