Mulai Sekarang, Berani Bilang “Tidak” untuk Gaji Kecil. Gini Caranya Ngukur Gajimu Kecil atau Gak

by Bunga D. Kusuma 5.312 views0

gaji kecil

Gaji kecil atau besar itu relatif, dan katanya sih itu gak penting. Sebab, semua bakal tergantung kepada cara mengelolanya. Setuju gak? Kalau saya sih gak setuju.

Betul kalau keamanan finansial itu gak terpatok kepada besar atau kecilnya gaji. Betul juga kalau bilang bahwa gaji besar itu gak menjamin keuanganmu sehat. Gaji boleh dua digit, tapi kalau tiap hari makan di restoran fine-dining sih ya sama aja bohong.

Meski begitu, nominal gaji itu sendiri juga penting. Kenapa? Karena besaran gaji secara gak langsung merepresentasikan “harga” kita sebagai seorang karyawan. Dan ini merupakan bentuk apresiasi perusahaan untuk jasa dan keahlian kita.

Jadi kalau kita mengamini perusahaan untuk bayar kita dengan gaji rendah, tandanya kita pun menghargai skill kita gitu-gitu aja. Gak ada nilai tambahnya. Emang iya?

Mungkin kalau buat fresh graduate, wajar aja kalau gak BM alias banyak mau soal gaji. Itu justru harus. Masak belum pernah kerja udah nuntut macam-macam. Yang cari kerja itu banyak lho. Kalau jual mahal, nanti malah jadi pengangguran abadi.

Tapi kalau buat yang udah punya pengalaman kerja dua atau tiga tahun, udah saatnya kita mulai “pasang tarif”. Beranikan diri untuk protes kalau merasa gak dibayar sesuai dengan pengalaman dan kapabilitas kita dalam karier.

Balik lagi soal ukuran gaji besar atau kecil itu relatif, berarti gak ada ukuran pastinya dong “gaji kecil” itu seberapa? Salah.

Kita bisa kok dengan tegas menyatakan, “Gaji saya kekecilan.” Tapi ada ukurannya. Biar gak salah paham, berikut ini sejumlah indikator yang bisa dipakai untuk memastikan apakah benar gajimu kekecilan:

1. Sesuai UMR gak?

Upah Minimum Regional (UMR) itu ada bukannya tanpa alasan. Ketetapan ini harusnya jadi patokan paling kuat buat mengukur apakah kamu dibayar sesuai dengan standar gaji di daerahmu bekerja.

gaji kecil
Cek dulu, apakah gaji yang kamu terima di perusahaan lebih tinggi dari UMR atau malah sebaliknya (gaji/Excel Data Pro)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, tiap gubernur provinsi wajib menetapkan upah minimum yang menjadi standardisasi pengupahan pekerja. Tujuannya untuk memastikan bahwa tiap orang mendapatkan upah yang layak yang sesuai dengan biaya hidup di masing-masing daerah.

Tiap daerah memiliki UMR yang berbeda. DKI Jakarta, misalnya memiliki UMR Rp 3,35 juta untuk 2017. Nah, jika kamu bekerja di ibu kota, coba cek apakah gajimu sudah setara atau di atas UMR tersebut? Kalau belum, ya berarti kamu sah buat bilang bahwa gajimu terlalu kecil untuk bisa hidup di Jakarta.

2. Bandingkan dengan gaji orang lain yang memiliki profesi sama

Perkara gaji emang agak sensitif dibicarakan secara blak-blakan. Soalnya masih banyak yang menganggap kalau ini urusan “dapur” masing-masing orang.

Tapi jangan patah arang, ini ada jalan keluarnya kok. Pertama, kamu bisa cari tahu dulu ke teman-teman dekat yang memiliki profesi dan jabatan yang sama.

Biasanya, kalau teman dekat bakal lebih “terbuka” untuk urusan ini. Apa lagi kalau kamu kasih tahu alasannya adalah buat memastikan apakah kamu sudah dibayar dengan layak atau belum di perusahaan sekarang.

gaji kecil
Punya kenalan berprofesi sama? Kalau sudah akrab iseng-iseng saja tanya gajinya dan bandingkan sama gajimu (profesi/ultimaii)

Kalau gak ada teman dekat yang bisa ditanya-tanya soal ini, masih ada jalan lain. Sekarang, kamu juga bisa cek rata-rata gaji di pasaran untuk masing-masing profesi di situs pencarian kerja. Sebut saja kayak Karir.com, Gajimu.com, dan Jobplanet.

Nah, dengan ngecek benchmark gaji untuk profesimu di situs-situs tersebut, kamu jadi punya ukuran lebih jelas untuk menilai besar gajimu sekarang.

3. Bandingkan gaji sekarang dengan beban kerja

Setelah mengetahui standar gaji di industrimu dan ternyata gajimu masih di atas rata-rata, sekarang coba cek apakah itu sebanding dengan beban kerjamu.

Misalnya kamu mendapati bahwa rata-rata gaji seorang sales adalah Rp 7 juta. Berhubung gajimu sekarang adalah Rp 8 juta, berarti ini udah di atas standar dong. Tapi jangan seneng dulu. Sekarang coba lihat apakah gaji itu sebanding dengan beban kerja yang kamu emban.

Kalau title-mu sales executive tapi juga diminta untuk mengurusi marketing dan promosi, jelas ini di luar jobdesc normal. Harusnya urusan sales cuma jualan dong. Tapi di perusahaan kamu yang sekarang, kamu juga harus terlibat dalam program pemasaran dan kampanye event.

Belum lagi kalau kamu jadi harus sering kerja sampai larut malam dan gak dapat kompensasi uang lembur. Kalau begini kasusnya, kamu berhak kok meminta gaji yang memang di atas benchmark pasar untuk profesimu. Toh, beban kerjamu juga lebih banyak dari mereka kan.

4. Cari tahu gaji rekan sekantor dengan jabatan sama

Cara yang satu ini emang agak sulit buat dilakuin. Tapi gak ada salahnya dicoba ya.

Seperti yang udah dijelasin di atas, urusan gaji emang hal yang cukup sensitif dibicarakan secara blak-blakan. Apa lagi antar sesama rekan kerja sekantor.

gaji kecil
Belaga curhat eh tahunya lagi kepo urusan gaji (rekan kerja/the muse)

Tapi ketika kamu mulai merasa bahwa gaji yang kamu terima gak sebanding dengan beban kerja yang diberikan perusahaan, gak ada salahnya mencari tahu apakah rekan-rekan kerjamu yang lain mengalami nasib yang sama.

Coba buka obrolan dengan curhat santai soal kerjaan. Dari situ kamu bisa mulai pancing-pancing topik yang mengarah ke gaji. Kalau gak bisa dapat nilai pasti gaji mereka, mungkin kamu bisa dapat gambaran kasarnya dan mengira-ngira sendiri.

Kalau hasil obrolan menunjukkan bahwa rekan kerja sekantor dengan jabatan yang setara denganmu mendapatkan gaji yang lebih tinggi, ini patut kamu pertanyakan. Apa lagi jika ternyata beban kerja dan pengalaman kerjamu lebih banyak. Ini baru jadi bukti kalau gajimu kekecilan.

Memang ukuran gaji kecil itu banyak dipengaruhi oleh faktor “X”. Makanya, kamu perlu teliti menilainya dengan mempertimbangkan empat hal di atas.

Sebisa mungkin bersikaplah objektif dan adil dalam mengukurnya ya. Supaya kamu juga bisa berargumen secara fair kepada HRD atau atasan kalau mau minta naik gaji.

Gak bisa dipungkiri, gaji itu urusan yang sangat penting dan bisa dibilang vital buat hidup seseorang. Ya iyalah, kan buat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mau dari mana lagi kalau bukan dari gaji? Kecuali kamu pengusaha atau keturunan borjuis yang hartanya gak abis-abis tujuh turunan ya.

Makanya, penting banget buat sadar dan paham apakah gajimu itu sudah layak atau belum. Secara gak langsung, menuntut gaji yang setimpal dengan kualitasmu sebagai pekerja adalah bentuk penghargaanmu kepada diri sendiri lho. Jadi, mulai sekarang coba lebih berani bilang “Tidak” untuk gaji kecil ya!

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: 3 Tips Mengatur Gaji Kecil, Biar Gak Pusing di Akhir Bulan]

[Baca: Curhat Duit: Gaji Kecil Buat Bayar Utang dan Buka Bisnis, Gimana Cara Ngaturnya Ya?]

[Baca: Punya Gaji Kecil? Jangan Sedih, Nih Kiat Mengatur Gaji Kecil, Biar Hasilnya Gede]

Masih banyak lagi dari duitpintar.com