Pengantin Baru, Pahami 5 Hal Ini Agar Keuangan Rumah Tangga Sehat

by Hardian 548 views0

Pengantin Baru

Keuangan rumah tangga gak boleh dipandang sebelah mata. Sebelum menikah, hal ini perlu dibicarakan sekaligus direncanakan.

Di Indonesia, masalah duit memang dianggap sensitif. Bahkan utang pun tabu dibicarakan. Begitu juga dengan jumlah penghasilan.

Namun sebaiknya hal-hal itu dibuka lebar-lebar buat pasangan yang telah menikah. Apa gunanya menikah kalau masih ada yang ditutup-tutupi?

Salah satu inti pernikahan adalah bekerja sama antara suami dan istri dalam hidup. Tanpa keterbukaan, teruslah bermimpi suami-istri bisa hidup berdampingan tanpa rasa curiga.

Makanya, ada beberapa hal yang perlu kita pahami soal keuangan rumah tangga ketika sudah menikah. Berikut ini dijelaskan 5 di antaranya:

1. Bagaimana merencanakan keuangan keluarga?

Sebelum pusing mikirin katering dan lokasi pernikahan, kemukakan topik soal rencana keuangan keluarga dulu. Dalam diskusi itu, beberkan semua hal ihwal keuangan masing-masing.

Pengantin Baru
Atur keuangan sampai hal terkecil, dan saling terbuka, niscaya keuangan keluarga lebih terjaga (rencana keuangan keluarga/ Catholic Financial Life)

Apakah punya utang? Kalau punya, berapa dan kapan jatuh tempo. Penghasilan berapa? Apakah ada kerjaan sampingan?

Tiap individu juga mesti memberikan tujuan finansial jangka pendek, menengah, dan panjang. Misalnya mau investasi reksa dana atau beli kendaraan. Atau rencana pensiun.

Kamu dan pasangan kemudian membicarakan kesamaan dan perbedaan tujuan tersebut. Gunanya, menemukan jalan tengah yang disepakati biar bisa saling dukung dalam mewujudkan rencana keuangan keluarga bersama-sama.

2. Apa keputusan finansial pertama yang harus diambil pengantin baru?

Setelah mendiskusikan tujuan plus kondisi keuangan pribadi, termasuk utang-utang jika ada, langkah selanjutnya adalah menentukan keputusan finansial bersama. Seharusnya ada perubahan dalam finansial dari sebelum dan sesudah menikah.

Dari sebelumnya punya nomor pokok wajib pajak sendiri, kini mau digabung, misalnya. Penggabungan ini selain lebih ringkas dalam pengurusan pajak, bisa menghemat pengeluaran juga. Kemudian apakah rekening bank mau digabung, atau tetap dibikin terpisah.

3. Mau punya anak kapan?

Kalau sudah menikah, biasanya orang Indonesia selalu ditanya, “Sudah isi belum?” Sepertinya memang sudah jadi “kewajiban” bahwa sesudah menikah orang harus langsung punya anak.

Pengantin Baru
rencana punya anak juga harus dipikirkan lho (anak/buco)

Padahal keputusan itu ada di tangan pasangan masing-masing. Sebab, memiliki anak memerlukan tanggung jawab besar. Harus direncanakan dengan matang.

Sebelum memutuskan punya anak, siapkan rencana keuangan mencakup biaya pemeriksaan kehamilan hingga persalinan, juga kebutuhan bayi mulai dari popok sampai bedak dan sampo bayi. Yang gak kalah penting, biaya pendidikan anak juga mesti direncanakan.

4. Bagaimana membayar biaya pendidikan anak?

Masalah biaya pendidikan anak mestinya sudah diputuskan sebelum memiliki anak. Ada beberapa pilihan yang bisa diambil untuk menentukan bagaimana membayar biaya pendidikan anak.

Di antaranya, lewat tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Bicarakan dengan pasangan untuk memilih mana yang dianggap terbaik. Yang jelas, biaya pendidikan selalu naik tiap tahun. Makin cepat direncanakan, makin baik karena dana bisa dikumpulkan sedari dini.

Apalagi jika berencana menyekolahkan anak ke luar negeri. Meski bisa lewat beasiswa, kita tetap mesti menyiapkan dana karena gak semua kebutuhan ditanggung oleh dana beasiswa ke luar negeri.

5. Kalau bercerai bagaimana?

Pengantin Baru
Mau bahagia dalam berumah tangga, pikirkan juga kemungkinan terburukunya: bercerai (perceraian/life councel)

Perceraian tentunya gak diharapkan terjadi dalam pernikahan. Namun gak ada salahnya membicarakan kemungkinan terburuk ini dengan pasangan.

Biasanya, masalah ini dibahas dalam perjanjian pranikah. Di dalamnya diatur bagaimana urusan pembagian harta, utang yang belum terbayar, hingga kebutuhan anak.

Apakah harta dibagi sama rata, atau warisan dari tiap-tiap pasangan dipisah. Selain itu, apakah utang dilunasi menggunakan harta bersama sebelum bercerai, atau dicicil bareng-bareng.

Saatnya kita membuang jauh-jauh pikiran tabu membicarakan keuangan dalam membina rumah tangga. Bila gak direncanakan sejak dini, bisa fatal akibatnya.

Salah satu motor penggerak bahtera rumah tangga adalah kondisi finansial yang solid. Tanpa kerja sama tiap-tiap individu dalam pasangan, mustahil bisa mewujudkan keluarga yang mapan secara finansial.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: NPWP Gak Wajib Buat Wanita Menikah, Kok Bisa?]

[Baca: Raffi Ahmad-Nagita Slavina Bikin Perjanjian Pranikah, Kalau Kamu?]

[Baca: Ayo Pasangan Baru Menikah, Simak Cara Mengatur Keuangan Ini]

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com