Punya Gaji Besar, Mending Nyicil Beli Aset atau Investasi Ya?

by Hardian 2.854 views0

Punya gaji besar

Berbahagialah orang-orang yang punya gaji besar. Gak semua orang bisa mendapat rezeki seperti yang kalian peroleh.

Tapi waspada, gaji besar gak selalu selaras dengan kesejahteraan, lho. Terlebih kesejahteraan pada masa mendatang.

Punya Gaji Besar
Nih gajimu sebulan ada di karung ini.. tapi dalam bentuk receh ya :D (karung berisi uang/Mobileadvertising)

Nominal penghasilan yang besar sering mendatangkan godaan berupa pengeluaran yang besar pula. Dipikirnya, toh nanti bulan depan rekening keisi lagi.

Walhasil, segalanya dibeli. Bingung membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Apalagi kartu kredit ada dua lembar di dompet.

Kartu yang sejatinya sangat berguna untuk mengatur keuangan itu malah jadi senjata makan tuan. Ujungnya, susah menabung karena duit habis buat beli-beli dan bayar cicilan.

Beli Aset

Memang, memanfaatkan gaji besar untuk membeli barang itu gak apa-apa. Tapi harus disertai dengan kebijaksanaan.

Barang yang dibeli pun sebaiknya bukan melulu yang bersifat konsumtif, seperti baju, gadget, atau kendaraan. Akan jauh lebih baik jika ada aset yang masuk daftar pembelian.

Kendaraan memang bisa disebut sebagai aset. Namun ada sifat depresiasi alias penurunan nilai yang menempel padanya. Misalnya hari ini kita beli mobil Rp 300 juta, tahun depan harganya mungkin hanya Rp 250 juta.

Berbeda dengan aset seperti rumah, emas, atau benda koleksi langka. Barang-barang itu punya sifat apresiasi, harganya cenderung naik dari tahun ke tahun.

Saat beli rumah seharga Rp 300 juta tahun ini, tahun depan harganya mungkin jadi Rp 320 juta. Atau bahkan lebih.

Punya gaji besar
Lebih baik nyicil beli aset berupa rumah daripada duitnya kepake gak jelas (membentuk kata ASSETS/Amerifloodsolutions)

Jadi jelas, mending bayar cicilan rumah ketimbang hape kan. Namun praktiknya gak semudah itu. Bayar cicilan aset dengan nilai tinggi mengandung risiko gagal bayar.

Contohnya sudah ambil rumah dengan kredit bertenor 5 tahun. Ternyata, pada tahun kedua, perusahaan tempat kita bekerja goyang. Saat ada keputusan PHK, kita kena.

Ini gawat. Cicilan rumah mesti dibayar, sementara penghasilan rutin sudah gak ada. Memang ada pesangon, tapi siapa yang bisa jamin duit itu cukup untuk dipakai menutup kekurangan cicilan.

Meski begitu, ada solusi untuk masalah ini, yakni over kredit. Rumah bisa dijual ke orang lain meski masih dalam cicilan. Kita pun tetap bisa beroleh laba dari penjualan rumah itu, meski prosesnya gak semudah membalikkan telapak tangan.

Buat Investasi

Alternatif memanfaatkan gaji besar adalah mengolahnya sebagai dana investasi. Beli aset memang bisa disebut sebagai investasi juga, tapi lebih bersifat jangka panjang.

Di sini, yang kita bahas adalah investasi jangka pendek-menengah. Salah satu contohnya adalah reksadana.

Sudah pernah dengar reksadana? Jenis investasi ini simpel, gak perlu banyak modal, namun potensi keuntungannya terbilang lumayan besar.

Punya gaji besar
Kalau mau investasi, pelajarin baik-baik produk investasinya sampai paham daripada ketipu (menanam uang/Benzinga)

Sebagian dana dari gaji yang besar bisa dipakai buat berinvestasi reksadana. Dalam investasi reksadana, kita akan dibantu perusahaan manajer investasi.

Manajer itulah yang menjadi pengelola dana investasi. Kita hanya perlu menyetorkan modal dan menerima laporan investasi, juga berkonsultasi tentang instrumen investasi yang prospeknya lagi oke.

Memanfaatkan gaji besar untuk beli aset atau investasi semacam itu akan lebih berguna demi masa depan. Jika lebih banyak yang dialokasikan buat happy-happy, diperlukan kemampuan mengatur keuangan kelas tinggi.

Logikanya, gaji besar hanya akan numpang lewat jika sering dipakai untuk hal-hal konsumtif. Bahkan malah bisa terjerat utang karena kebiasaan itu gak diimbangi dengan pengaturan finansial.

Sekarang pilihan ada di tangan kita-kita sendiri yang mendapat anugerah bergaji besar. Jika gak bijak mengelola keuangan, bukan mustahil mereka yang bergaji pas-pasan malah lebih sukses di masa depan karena lebih sadar akan pentingnya rencana finansial.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Hari Gini Kok Masih Bingung Perbedaan Antara Keinginan dan Kebutuhan]

[Baca: Beli Mobil Kredit Rugi, Ah Masak Iya Sih?]

[Baca: Tak Perlu Ragu Investasi Reksa Dana, Ada Manajer Investasi yang Mengelola]

[Baca: Coba Cek, 15 Kebiasaan untuk Mengatur Keuangan Pribadi yang Baik Ini Udah Kamu Lakuin Belum?]

Tags: , ,

Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.

Masih banyak lagi dari duitpintar.com