Stress Terlilit Utang Bank? Jangan Panik, Begini Opsi Penyelesaiannya

by DuitPintar 13.877 views4

Terlilit Utang bank

“Mohon bantuannya, saya sedang bermasalah dengan bank. Saya kesulitan untuk melunasi KTA sehingga utang saya terhadap bank itu membengkak sampai Rp 70 juta. Gara-gara itu, saya diteror terus baik lewat telepon maupun debt collector untuk segera menyelesaikannya. Kira-kira apa yang saya lakukan?”

Rentetan kalimat itu biasanya sering muncul di rubrik tanya jawab dengan pakar perencana keuangan di media massa. Cukup banyak orang yang minta masukan bagaimana menyelesaikan utang di bank yang menumpuk karena gagal bayar.

Begitu mendapat kucuran utang dari bank, entah lewat produk KTA (kredit tanpa agunan) maupun kartu kredit, secara langsung harus bertanggung jawab melunasinya. Problemnya, kadang di tengah jalan ada masalah sehingga kewalahan dalam pelunasannya.

Kegagalan bayar pada kredit jenis ini memang membuka masalah besar. Lebih besar lagi karena produk pinjaman tanpa agunan dari bank itu bunganya tinggi.

Mengapa? Karena risikonya tinggi di mana dalam istilah perbankan kredit iu disebut clean loan. Artinya, hanya reputasi peminjam saja yang jadi patokan bank mencairkan kredit.

Bank bakal kena risiko tinggi jika terjadi gagal bayar. Nah, risiko tinggi ini yang membuat bank membebani bunga yang tinggi.

Meski KTA adalah utang tanpa jaminan, bukan berarti bank tak dapat menyita barang milik nasabah jika terjadi terjadi kredit macet. Bank bisa membawa kasus ini ke pengadilan untuk membuat pailit dan menyita aset nasabah.

Lain halnya kredit dengan jaminan di mana dalam perjanjian kredit menyebutkan secara khusus aset atau barang yang dijaminkan. Artinya, jika terjadi gagal bayar maka bank – dalam batas-batas tertentu – bisa menyita agunan tersebut.

Bank dapat menyeret seseorang ke pengadilan karena utang, loh!
Bank dapat menyeret seseorang ke pengadilan karena utang, loh! (diseret ke pengadilan / Surabayanews)

Bagaimanapun, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Termasuk di sini utang kredit seperti KTA maupun kartu kredit. Dalam kasus gagal bayar di sini mungkin penyelesaiannya bisa lewat bantuan Mediasi Perbankan seperti yang diamantkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 8/5/PBI/2006.

Solusi dari Bank Indonesia

Mediasi perbankan jadi langkah penyelesaian sebelumnya jika dialog dengan pihak internal bank sudah mentok. Di sini pihak Bank Indonesia akan menjadi ‘wasit’ atau penengah yang berdiri di posisi netral antara nasabah dan bank. Penyelesaian sengketa lewat mediasi perbankan punya sejumlah keunggulan, antara lain:

1. Gratis

2. Jangka waktu mediasi paling lama 60 hari kerja sejak penandatangan perjanjian mediasi

3. Prosesnya dilakukan secara informal dan fleksibel

Sengketa dapat diselesaikan mediasi perbankan apabila memenuhi kriteria di bawah ini :

1. Bila nasabah tak puas dengan solusi dari saluran pengaduan nasabah di bank

2. Sengketa yang dapat diajukan penyelesaiannya bila nilainya di bawah Rp 500 juta

3. Belum pernah dimediasi sebelumnya baik oleh BI atau lembaga mediasi lainnya

4. Tidak dalam proses atau telah diputus lembaga arbitrase atau pengadilan. Atau belum ada kesepakatan yang dimediasi lembaga lainnya seperti Pusat Mediasi Nasional (PMN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM), dan lainnya.

5. Sengketanya belum kadaluwarsa, yaitu sengketa yang masa pengaduannya belum melampaui 60 hari kerja sejak disampaikan bank kepada nasabah.

Dalam upaya mediasi perbankan, Bank Indonesia berperan sebagai mediator yang akan mempertemukan antara nasabah dan bank guna mencari penyelesaian. Dengan begitu, BI dalam posisi netral, memotivasi, mendorong, dan mengarahkan pihak yang bersengketa untuk mencari penyelesaian.

Terakhir, BI juga tak memberikan rekomendasi atau keputusan. Sebisa mungkin kesepakatan berasal dari pihak yang bersengketa.

Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan beralamat di Menara Radius Prawiro Lt.20, Jl. MH. Thamrin No.2, Jakarta 10350
Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan beralamat di Menara Radius Prawiro Lt.20, Jl. MH. Thamrin No.2, Jakarta 10350 (Mediasi Perbankan / BI)

Dalam mediasi perbankan, nasabah akan dipertemukan dengan pihak bank untuk mencari solusi win-win solution. Biasanya dalam upaya penyelamatan kredit bermasalah ditempuh beberapa cara di bawah ini.

– Resechedulling

Adalah upaya melakukan perubahan terhadap beberapa syarat perjanjian kredit yang menyangkut penjadwalan ulang pembayaran dan atau jangka waktu pelunasan kredit.

– Reconditioning

Adalah upaya perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat kredit yang tak cuma mencakup pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu, dan persyaratan lainnya. Asalkan perubahan itu tak terkait dengan perubahan maksimal saldo kredit.

– Restructuring

Adalah usaha penyelamatan kredit yang terpaksa dilakukan bank dengan cara mengubah komposisi pembiayaan yang mendasari pemberian kredit.

Bagaimana langkah mengajukan sengketa ke mediasi perbankan?

1. Pastikan sengketa sudah memenuhi persyaratan

2. Ajukan permohonan secara tertulis dalam format yang dibuat BI ke Departemen Investigasi dan Mediasi Perbankan

3. Sertakan dokumen pendukung seperti salinan surat hasil penyelesaian pengaduan yang diberikan bank kepada nasabah, salinan identitas diri, pernyataan di atas materai kalau sengketa belum pernah diproses di lembaga arbitrasi maupun pengadilan.

4. Ikuti proses mediasi

5. Patuhi hasil mediasi

Mencegah Terlilit Utang Bank

Sudah kebayang kan, panjangnya urusan jika terjadi gagal bayar terhadap kredit di bank? Sebelum mengalami itu, ada baiknya ikuti pepatah ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’.

Sekali lagi, utang adalah utang, bukan duit yang turun dari langit. Makanya, perlu perencanaan yang matang, termasuk memperkirakan masalah yang dapat mengganggu pelunasan.

Siapa juga yang 'gak mau kejatuhan duit dari langit. Tapi sayangnya, tidak begitu kenyataannya. Duit dari utang tetap harus diganti.
Siapa juga yang ‘gak mau kejatuhan duit dari langit. Tapi sayangnya, tidak begitu kenyataannya. Duit dari utang tetap harus diganti.

Nah, apa saja yang perlu diperhatikan ketika mendapat pinjaman dari bank?

1. Maksimal utangan – Hindari punya utang yang menggerus pendapatan lebih dari 30 persen

2. Waktu pinjaman – Makin cepat jangka waktu kredit, makin kecil bunga yang ditanggung

3. Nilai pinjaman – Cek juga nilai potongan seperti biaya administrasi atau provisi yang bakal mengurangi besaran pinjaman.

4. Waktu pembayaran – Perhatikan tanggal berapa jatuh temponya sekaligus besaran denda bila telat membayar.

5. Asuransi – Bila memungkinkan pakai opsi asuransi untuk mengantisipasi risiko jika nasabah meninggal dunia. Asuransi bisa saja tak diperlukan selama ada aset yang nilainya mencukupi untuk menutupi utang.

Lalu apa yang sebaiknya dihindari saat pinjaman sudah cair, agar tak terlilit utang bank?

1. Tunda niat ambil kredit lain – Sebaiknya selesaikan utang jangka pendek itu sebelum mengambil kredit baru.

2. Lunasi pinjaman terlalu cepat – Ini hanya akan membuat rugi karena bank ‘kurang suka’ karena bakal mengurangi pendapatan bank. Alhasil, bank bakalan memberikan denda yang cukup besar.

3. Melunasi dengan ambil kredit baru – Langkah ini sama saja dengan jurus gali lubang tutup lubang. Maksudnya melunasi utang dengan mengambil utang baru berarti tak menyudahi masalah utang.

Mediasi Perbankan dihadirkan bukan bertujuan agar nasabah sesuka hati mengemplang utang. Justru mediasi ini mensyaratkan adanya itikad baik dari nasabah untuk menyelesaikan tunggakan kreditnya ke bank. Bahkan jika nasabah belum puas dengan proses mediasi, bisa pula untuk melakukan banding lagi.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Sebelum Berutang, Cari Tahu Dulu Bedanya Utang Produktif dan Utang Konsumtif]

[Baca: Begini Nih Cara Mengelola Utang Biar Gak Bikin Pusing Kepala Barbie]

[Baca: Orang yang Punya Banyak Utang Bakal Kayak Gini Nih di Kantor]

Masih banyak lagi dari duitpintar.com