Vikra Ijas, CMO Kitabisa.com: Membantu Sesama Lewat Kotak Amal Digital

by bunga 743 views0

kotak amal digital

Badan kecil, rambut gondrong, dan mata sedikit sipit. Mungkin tiga hal itulah yang paling diingat orang ketika baru pertama kali bertemu dengan Vikra Ijas. Chief Marketing Officer (CMO) dari Kitabisa.com ini memang sekilas mirip anggota samurai Jepang, misterius.

Tapi jangan tertipu dengan penampilannya yang sedikit garang ya. Ini kontras dengan perannya sebagai salah satu pelopor situs crowdfunding di Indonesia yang fokus kepada isu sosial.

Berkat kegigihan Vikra dan rekannya, Alfatih Timur, kamu sekarang gak perlu bingung kalau mau mendonasikan uangmu untuk menolong sesama. Cukup kunjungi website Kitabisa.com, dan kamu bisa pilih beragam kampanye sosial yang mau kamu danai. Mudah, cepat, dan pastinya transparan.

Di tengah jadwalnya yang sibuk, DuitPintar.com dapat kesempatan emas untuk bisa ngobrol-ngobrol dengan lulusan University of Auckland, Selandia Baru ini beberapa waktu lalu. Yuk disimak!

Boleh cerita sedikit awalnya kenalan dengan industri startup?

Kebetulan saya kuliah di Selandia Baru, dan sempat magang di sebuah digital advertising startup bernama Gopher. Ini bisa dibilang perkenalan pertama saya dengan dunia startup digital.

kotak amal digital
Perkenalannya di dunia startup digital berawal dari Gopher (Vikra Ijas / detik)

Kebetulan waktu itu (tahun 2012), mereka sedang melakukan ekspansi ke Indonesia dan saya ditunjuk menjadi salah satu tim untuk set-up unit usaha mereka di Indonesia. Saya lanjut bekerja di sini sampai sekitar Januari 2014.

Setelah di Gopher, apa yang Anda lakukan?

Keluar dari Gopher, saya mengambil break dari dunia kerja dan mencoba membangun startup sendiri (yang kemudian gagal), sambil bantu bisnis keluarga. Baru pas awal 2014 saya ketemu Timmy (Alfatih Timur, CEO Kitabisa.com) yang waktu itu lagi merintis Kitabisa.com di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan milik Prof. Rhenald Kasali.

Selama dua sampai tiga bulan setelahnya, kami berdua ngobrol dan diskusi terus untuk membuat platform ini sebagai bisnis yang serius. Kami juga mulai validasi, riset, dan terus mempelajari industri startup di Indonesia.

Apa tantangan terberat untuk mengembangkan Kitabisa.com waktu itu?

Tantangan terbesarnya adalah menemukan core user dan membangun kepercayaan publik. Contohnya, saat itu banyak pihak seperti yayasan atau individu yang kami approach personal belum melihat nilai tambah yang ditawarkan oleh Kitabisa untuk menggalang dana.

Kami melanjutkan validasi ke segmen pasar lainnya seperti komunitas, mahasiswa, wirausaha, sampai inovator dan kreator demi menemukan core user yang tepat. Akhirnya pada satu titik kami menemukan bahwa user yang membuat kampanye penggalangan dana untuk biaya pengobatan dan isu sosial paling mendapat nilai tambah dari platform Kitabisa.

Kapan akhirnya mulai menemukan pasar yang tepat ini?

Pertengahan 2014, kami memfasilitasi penggalangan dana dengan target terbesar pada saat itu yang diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Mereka membuat kampanye dengan target Rp 525 juta untuk pengadaan 1 unit bus donor darah.

kotak amal digital
Sosok yang peduli dengan isu-isu kemanusiaan (Jadi Pembicara / kitabisa)

Meski membutuhkan waktu sampai 1 tahun hingga akhirnya dana terkumpul, nama PMI meningkatkan kredibilitas kami sebagai platform donasi dan penggalangan dana untuk isu-isu sosial. Setelah yakin akan potensi dampak dan keberlangsungan Kitabisa sebagai bisnis, kami resmi mendirikan entitas PT independen untuk Kitabisa di awal tahun 2015.

Kami juga mengganti istilah crowdfunding yang saat itu masih kurang familiar bagi orang banyak menjadi patungan atau donasi online. Ibaratnya kayak kotak amal digital lah.

Sebagai situs penggalang dana untuk aksi sosial, bagaimana Kitabisa.com mendapatkan profit?

Sejak awal, Kitabisa.com dibangun sebagai bisnis. Kami ingin memadukan mindset impact dari social enterpreneurship dengan mindset growth dari startup. Untuk Kitabisa, revenue model kami adalah platform fee sebesar 5 persen dari setiap dana yang terkumpul untuk satu kampanye, kecuali untuk penggalangan dengan kategori bencana.

Apa sih nilai tambah yang ditawarkan Kitabisa.com dibandingkan dengan yayasan sosial lain?

Pertama, Kitabisa tidak didirikan untuk menjadi alternatif dari yayasan sosial. Justru kami ingin menghubungkan orang-orang baik yang selama ini suka bingung ketika ingin berdonasi, dengan pihak-pihak terpercaya yang siap menyalurkan donasi mereka untuk beragam tujuan sosial.

Kami fokus untuk terus berinovasi menghadirkan pengalaman donasi yang simple, transparan, dan terpercaya.

Bagaimana perkembangan Kitabisa.com sejak pertama kali berdiri sampai sekarang?

Hingga tahun 2014, kami memfasilitasi pengumpulan donasi sekitar Rp 1 miliar dengan 1-2 kampanye donasi dibuat per harinya. Tahun 2016 kemarin, total donasi yang terkumpul tumbuh menjadi 60 miliar. Hari ini, jumlah kampanye donasi yang dibuat di Kitabisa bisa mencapai 30-50 per hari.

Sebagai salah satu sosok kunci di Kitabisa.com, menurut Anda apakah sekarang situs ini sudah bisa memenuhi visi dan misi yang diciptakan sejak awal?

kotak amal digital
Kita bisa loh membantu mereka yang benar-benar membutuhkan (Donasi / techinasia)

Kami sangat bersyukur dengan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat hingga Kitabisa dapat terus tumbuh sampai hari ini. Namun pengumpulan donasi di Indonesia yang terdata saat ini baru tercapai 1,3 persen dari potensinya sebesar Rp 200 triliun per tahun (sumber: potensi zakat nasional, BAZNAS). Kami sadar potensi yang bisa digali masih sangat besar untuk mengoptimalkan pengumpulan donasi dan gotong-royong di dunia digital.

Apa target Anda untuk Kitabisa.com tahun ini?

Tahun ini kami fokus untuk memudahkan proses donasi dan zakat yang sifatnya rutin atau recurring. Harapannya, dengan dibuat semakin simple dan mudah, maka giving secara umum akan menjadi habit atau lifestyle yang tak terpisahkan dari masyarakat.

Apa pesan Anda untuk anak muda Indonesia yang mau mulai bisnis startup?

Bisa dibilang, scene startup di Indonesia sekarang sudah makin matang dan tersaturasi. Oleh karenanya, ini adalah momen pendewasaan untuk melihat mana startup yang benar-benar serius dan bisa bertahan.

Jika berminat mau bangun bisnis startup, mulai dengan memahami “why” dari diri Anda. Dibandingkan bisnis konvensional, startup memiliki elemen ketidakpastian dan tingkat kegagalan yang lebih tinggi. Karenanya, jika “why” nya tidak kuat, biasanya orang akan cepat menyerah.

Namun pada akhirnya startup adalah bisnis, dan saya percaya bisnis adalah bagaimana menghadirkan dan menumbuhkan nilai tambah kepada user atau customer yang kita tuju.

Tags:

Masih banyak lagi dari duitpintar.com